Tahun 2012 diwarnai oleh pertumbuhan permintaan tenaga listrik yang sangat tinggi, mencapai 10,17%. Ini adalah yang tertinggi sejak Indonesia mengalami krisis moneter. Hal tersebutdisampaikan oleh Direktur Perencanaan dan Manajemen Resiko PT PLN (persero) Murtaqi Syamsuddin dalam acara Coffee Morning yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan hari ini (7/2)
âDari angka pertumbuhan 10,17% ini, ada beberapa hal yang membesarkan hati,â ungkap Murtaqi. Yang pertama, jelasnya, pelanggan sektor riil/manufacturing tumbuh lebih tinggi dari 10% sedangkan pelanggan B3 seperti mall, hotel, dan gedung perkantoran tumbuh sekitar 9%. âJadi saya bisa menyatakan bahwa sektor manufacturing tumbuh lebih tinggi dari sektor jasa.â
Murtaqi melanjutkan, pemakaian dari pelanggan rumah tangga juga tumbuh tinggi. Secara rata-rata, pemakaian pelanggan rumah tangga tumbuh sebesar 16%. âDari 16% tersebut, pelanggan daya 1300 VA dan 2200 VA tumbuh lebih dari 20%, ini adalah penyumbang pertumbuhan tertinggi dari kelompok pelanggan rumah tangga.â Lebih rinci, pelanggan 450 VA hanya tumbuh 3%, pelanggan 900 VA tumbuh 6%, pelanggan 1300 VA tumbuh 21%, dan pelanggan 2200 VA tumbuh 19%.
âDari dua indikasi pertumbuhan tersebut, saya bisa menyampaikan bahwa hal ini sejalan dengan pengamat ekonomi bahwa Indonesia ini ekonominya resilient. Sektor riil-nya masih tumbuh dan kelas menengah berkembang,â ujar Murtaqi.
Dalam acara Coffee Morning tersebut, diundang juga pengamat ekonomi Faisal Basri untuk mempresentasikan materi mengenai âInfrastruktur Ketenagalistrikan dalam Peningkatan Ekonomi Nasionalâ. Faisal mengatakan bahwa pertumbuhan kelas menengah atas Indonesia akan meningkat. Akibatnya, kebutuhan akan tenaga listrik juga naik. âKonsumsi listrik naik pesat, penggunaan BBM naik, impor BBM naik, rupiah melorot,â ujarnya. Ia menyatakan bahwa satu-satunya faktor utama yang membuat rupiah melorot adalah impor BBM. âDari 112 milyar cadangan devisa, 28 milyar dipakai untuk BBM,â Faisal menambahkan.
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Hasril Zahri Nuzahar dalam paparannya tentang draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2012-2031 menjelaskan bahwa kebijakan RUKN mempunyai misi sosial yang dimaksudkan untuk membantu kelompok masyarakat tidak mampu dengan melistriki seluruh wilayah Indonesia yang meliputi daerah yang belum berkembang, daerah terpencil, dan membangun listrik perdesaan. âRasio elektrifikasi nasional ditargetkan mencapai 80% pada akhir 2014 dan diharapkan menjadi sekitar 99% pada akhir tahun 2020,â ujarnya.
Draft RUKN 2012 â 2031 telah mengakomodasi diversifikasi energi untuk pembangkit tenaga listrik ke non-BBM. Selama sepuluh tahun ke depan, PLTU batubara masih mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun, yaitu mencapai 37.743 MW (65,8%) disusul PLTG/MG dengan total kapasitas 4.071 MW (7,1%) dan PLTGU sekitar 2.540 MW (4,4%). Adapun energi terbarukan yang akan dikembangkan adalah PLTP sekitar 6.383 MW (11,1%) dan PLTA/PLTM dan Pump Storage sebesar 6.310 MW (11,0%). Terkait dengan konsumsi BBM yang masih tinggi di tahun 2012 sebesar 15,6%, direncanakan turun menjadi 5,2% pada 2014 dan 1% pada 2021.
Hasil proyeksi dalam draft RUKN 2012 â 2031 antara lain: pertumbuhan kebutuhan energi listrik secara Nasional diperkirakan sekitar rata-rata 10,1% per tahun (8,6% untuk Jawa Bali dan 13,5% untuk luar Jawa Bali), kebutuhan energi listrik Nasional pada tahun 2012 sekitar 171 TWh, dan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1.075 TWh pada tahun 2031, sehingga kebutuhan tambahan daya Nasional sekitar 237.020 MW hingga tahun 2031; serta elastisitas atau rasio antara pertumbuhan kebutuhan energi listrik terhadap pertumbuhan ekonomi Nasional sekitar 1,3 (1,1 untuk Jawa Bali dan 1,7 untuk luar Jawa Bali).