okay, tidak merumuskan apapun selama sehari penuh ternyata tidak mungkin, dan membiarkan pemikiran melayang-layang di langit ruangan juga tidak baik, ruanganku jadi pengap dan gelap. masa' aku harus meratap-ratap?
membiarkan juga sama dengan membunuh perlahan, kurasa.
membiarkan? semacam tak lagi peduli.
sampai-sampai puisi tak lagi mati suri...
ia tak lagi sesekali mati, sayangnya.
dan baru kusadar setelah akhir-akhir ini , aku lebih suka menyadur karya orang, memang masih menuliskan sumber, tapi sudah puas dengan menunjukkan karya mereka pada dunia, sudah.
sejenis perwakilan, aku senang ada yang mampu mewujudkan pemikiranku ke dalam kata-kata yang pas, dan dengan rasa terima kasih, kusadur dengan nama penulisnya.
kenapa jadi puas dengan bukan karya sendiri?
ini memalukan, aku tahu, dan...aku ingin cepat-cepat bangun.
kemarin, kemarin sekali, entah kapan.
memintaku mengarang rangkaian kata yang tepat untuk realitas yang sesuai dengan keinginan mereka,
tak sanggup menolak, aku mengangguk
senang rasanya dipercaya, ya kan?
dan mengira kau mampu, padahal...
padahal nyata-nyata tak ada sedikitpun jeda untuk membuatnya, ini riskan.
lalu kuminta aniki yang mengarangnya, melukis dengan baik realitas sesuai keinginan dan harapan.
entahlah, aku tak mau tahu lanjutan kisahnya, yang jelas sudah kuturunkan , sudah didelegasikan kepada aniki.
aku tak mau tahu, keji ya?
dan kudengar kemarin mereka berhasil, apakah itu karena aniki yang membuatnya?
lihat...! lihat, rasanya seperti sudah mati rasa, kalau nggak pernah dilatih, begini ya rasanya...
aku enggan, kau benar, aku takut.
itulah kenapa aku terus meminta maaf.
ya, aku takut salah, takut gagal.
aku takut dan karenanya aku tak melakukan apa-apa.
justru itu salah?
inilah akibat tidak merumuskan.
by the way, puisi tadi buatku haru,Â
atau sedih?Â
ah, tapi terima kasih telah membangunkanku, akhir-akhir ini pola ku begitu berantakan.