Perjalanan spiritual selama beberapa tahun terakhir bisa kunilai cukup berhasil. Dulu, aku sering berdoa untuk Allah dekatkanku kepada hal-hal yang baik, berorientasi akhirat, pertemanan yang salih, dsb.
Hal yang kudapatkan dalam proses ini justru diluar dugaan, aku dijauhkan dari berbagai macam hal yang selama ini kugenggam terlalu erat. Pemahaman dan cara pandangku diobrak-abrik, beberapa orang yang dulu rasanya amat dekat - sekarang dijauhkan, ujian finansial, dsb. Semua kejadian itu membuatku cemas tentang masa depan, khawatir, gelisah, ragu, dan banyak sekali yang kupikirkan.
Di tengah kekalutan hidup. Aku memahami mengapa Allah pasangkan aku dengan istriku sekarang. Karena selama proses ini, ia benar-benar bisa kukatakan temanku satu-satunya. Yang tahu proses ini, yang menemani saat keadaan di atas dan di bawah, dan satu hal penting : tidak pernah memburu-buruku. Seolah ia memahami bahwa proses ini sangat penting untuk aku lewati dengan penuh kesadaran.
Setelah beberapa waktu berlalu. Tiba di titik saat ini, saat bisa memetik sebagian hikmahnya. Apakah keadaannya telah berubah sepenuhnya? Nyatanya tidak. Ujian itu masih berlangsung. Tapi, aku menyadari ada yang telah hilang dari diriku. Kekhawatiran, kecemasan tentang masa depan, keraguan, keterikatanku pada materi/harta, dsb.
Masalahnya tetap ada dan harus kujalani. Tapi aku menjalaninya dengan cara pandang yang sepenuhnya baru. Aku tidak lagi menyalahkan keputusanku di masa lalu. Aku tidak menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi di hidupku. Mampu untuk memberikan uzur kepada kesalahan orang lain. Dan banyak hal lain yang semakin kusadari bahwa ternyata inilah yang Allah kehendaki dariku. Mengubah pemahaman, cara pandang, dan nilai yang sebelumnya kumiliki untuk kemudian bisa meraih doa-doa yang kupanjatkan sebelumnya.
Ia mengubah keadaanku untuk tujuan ini. Rasanya sangat worth-it. Hanya dalam dua tahun, aku merasa telah tumbuh ke satu tahapan tertentu yang selama ini aku inginkan. Meski harga yang harus dibayarkan, rasanya benar-benar luar biasa ketika dijalani kemarin.
Aku merasa proses ini, bisa kuanalogikan seperti api yang dulu membakar nabi ibrahim. Api sejatinya panas dan membakar, tapi Allah kehendaki api itu tidak membakar nabi ibrahim.
Masalah yang kumiliki dulu, ia membakar hidupku, membuatku terkoyak, hidup dipenuhi dengan kecemasan dan kekhawatiran. Sekarang? Masalah itu tetap masih ada, ia bahkan kurasa lebih besar dari masalah-masalahku sebelumnya, tapi kini ia tidak membakarku. Aku bisa tetap tenang, menjalani hidup dengan optimis, dan yakin bahwa setiap masalah itu disertai jalan keluar.
Apinya masih sama, tapi kini ia tidak membakarku :)
KG