Yang paling sering lupa dieja,
Yang hadirnya timbul tenggelam,
Hanyut dan terombang-ambing dunia seisinya,
Lupa tersadar bahwa diri ini dari, oleh, dan akan menuju pada-Nya.
Game of Thrones Daily
Fai_Ryy
tumblr dot com
No title available
No title available
Not today Justin
Keni

#extradirty
Misplaced Lens Cap
Sweet Seals For You, Always

No title available
NASA

No title available
ojovivo
Claire Keane
Sade Olutola

❣ Chile in a Photography ❣
hello vonnie
taylor price

Jar Jar Binks Fan Club
seen from South Africa
seen from Pakistan
seen from United States
seen from South Africa

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Japan

seen from Türkiye
seen from Israel

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Mexico

seen from Canada
@sheilasanjaya
Yang paling sering lupa dieja,
Yang hadirnya timbul tenggelam,
Hanyut dan terombang-ambing dunia seisinya,
Lupa tersadar bahwa diri ini dari, oleh, dan akan menuju pada-Nya.
Sheila dan alat tempu
Sejak menjadi bagian dari Cokelat nDalem, aku makin dalam mempelajari hal terkait media sosial dan pemasaran digital. Meskipun berawal dari hobi membuat desain visual dan bermain kata atau sering disebut copywriting, ternyata diperlukan wawasan untuk dapat memberikan dampak baik visual dan narasi terhadap pemasaran produk Cokelat nDalem.
Berbagai macam metode perancangan kreatif kujajaki, juga kelas-kelas penulisan storytelling copywriting kuikuti demi mengoptimalkan wilayah kerjaku tersebut. Namun ternyata, ada bagian yang terlambat kusadari sebelum melakukan itu semua. Narasi pemasaran tidak hanya cerita layaknya buku harian dan deskripsi produk semata, begitupun juga dengan visual, tak hanya indah dan memenuhi idealisme pembuatnya, namun juga perlu menggaet interaksi bagi pasar yang dituju. Analisis bisnis dan pemahaman tentang pasar untuk produk ini menjadi penting. Bahkan tiap jenis media sosial memiliki karakter komunikasi dan bangunan interaksi yang berbeda.
Perkembangan dunia digital yang sangat cepat, sempat aku kelimpungan. Gegabah mengikuti semua tuntunan secara online, padahal tidak semua cocok diaplikasikan pada strategi pemasaran produknya. Pelan-pelan aku meletakkan segala idealisme, mengosongkan pikiran untuk dapat dengan jernih memilah, apa hal yang dapat kuikuti untuk kuadopsi caranya. Kembali mempelajari prinsip bisnis Cokelat nDalem, mana persona yang paling sesuai diaplikasikan.
Untuk itu, kucoba secara berkala, merubah gaya visual dan narasi dalam beberapa waktu, membandingkan dua sampai empat percobaan yang kulakukan. Melakukan evaluasi dan mencatat beberapa hal untuk pegangan pada rancangan berikutnya.
Ulang alik visual dan gaya narasi pun berlangsung sampai 15 bulan lamanya, namun apa daya, corona melanda dan pemberlakuan pembatasan membuat percobaan sebelumnya belum dapat digunakan. Bergulat dengan dinamika yang tak pasti tentang usaha oleh-oleh di masa pandemi sungguh membuat mules, tiap hari rasanya seperti berjuang demi hidup esok hari. Sangat beruntung COkelat nDalem memiliki pilar pendiri yang kuat, Bu Meika dan Pak Yuda. Meski gentar, justru itu yang menggerakkan untuk bersama-sama menjajaki kemungkinan.
Dan sekarang, Cokelat nDalem masih di sini. Meski harus mengulang dari awal kembali, kami masih punya energi untuk berkembang bersama lagi. Begitu juga pada wilayah kerjaku, digital marketing atau pemasaran digital. Bersama dengan rekan lainnya mengikuti kesempatan belajar dari Kampus UKM untuk Capacity Building Digital Marketing , ruang belajar bagi pelaku UKM dan ekosistemnya untuk mengembangkan kompetensi pemasaran di wiliyah digital. Melalui Kampus UKM, secara berkala juga mengadakan Sertifikasi Digital Marketing yang bekerjasama dengan Lembaga Digital Marketing. Hal ini menjadi menarik karena tidak dipungkiri, 4 tahun terakhir dunia digital menjadi ruang aktivitas yang sangat sibuk, bahkan lebih sibuk dari dunia keseharian kita.
Mungkin ini juga bisa jadi kesempatan kalian, meningkatkan kapasitas diri melalui fasilitas publik seperti Kampus UKM yang dapat diakses secara gratis dengan program yang sangat bervariasi.
"Mau cerita tapi nggak jadi."
Sering terjadi di kota-kota besar di kalangan perempuan.
Sejak jadi istri dan ibu secara beruntun, intensitas jumpa dengan teman jadi jauh berkurang. Yang tadinya tiap hari jumpa, sekarang sebulan sekali aja perlu banget diusahakan. Grup chat soba sobi doyan curhat yang dulunya ramai 18 jam per hari, sekarang nyapa & tanya kabar bisa nunggu ber jam-jam buat dapat balasan.
Kadang emang urusan rumah tangga, gawean demi pay the bill, merawat anak dan lainnya nggk ada habisnya, lagi pegang hape eh tiba-tiba inget ini & itu. Lagi mau balas tetiba bocil minta tolong hal lainnya, bisa dimaklumi lah. Nah, perubahan ritme & prioritas hidup ini jadi bikin intensitas komunikasi & interaksi dengan circle nya juga ikut berubah, munculah suatu gap yang menumbuhkan jarak. Terjadilah seleksi alam. Yang rekat makin erat, yang renggang jadi menghilang.
Gap ini tak terhindarkan sih,, karena sudah terlanjur ada perbedaan rutinitas, ada pembicaraan yang bisa ping-pong, ada yang pong doang.. :)): kemudian muncullah,
"Mau cerita tapi nggak jadi."
Pikiran-pikiran yang berlalu lalang antara lain
"Duh, aku takut ganggu dia pasti lagi ribet."
"Kalo aku cerita ntar dikira cemen banget, ah."
"Kira-kira dia ada waktu dengerin aku nggak, ya."
(Sobat nggak enakan can relate, lah ya..)
"Nanti kuceritain ya,.. " pagi berganti malam, malam berganti pagi, ☀️🌦️🌧️⛈️
"Nanti pas jemput ku ceritain ya" eh mules harus cepet pulang..
"Hmm, sebaiknya aku nggk usah cerita deh, nanti dia mikir yang nggak-nggak."
Mau cerita, tapi dia udah tau. loh.
"Mau cerita tapi dia #kimsoohyun , keburu pengsan.. "
Dan hal yang nging-nging di kepala lainnya,
Ya kira-kira begitulah yang beberapa aku alami, antara sebagai pelaku "Mau cerita tapi nggak jadi", atau sebagai korban "Mau cerita tapi nggak jadi". Sebagai pelaku ya pertimbangannya jadi banyak banget, bisa jadi filter, bisa jadi jerawat karena kepikiran. Sebagai korban, kadang kepo sih, tapi semua org kan punya pertimbangannya sendiri, jadi ya los aja..
Kalo kamu sering yang mana??
#overheard #sobatcenatcenut #blue
Dari Pusara ke Pusara
📍Pracimaloyo - Laweyan, Solo 2022
10 tahun terakhir setidaknya ini rutinitas hari Raya kami, berkunjung dari makam satu ke lainnya. Tentunya 5 tahun pertama sejak 2012, perasaan selalu berkecamuk dengan beragam rasa. Ada perasaan sedih karena kehilangan momen yang sebelumnya penuh suka cita, Haru karena mereka tak kembali jadi tujuan pulang untuk bersimpuh dan memohon restu. Pedih, karena tak rela merasa bahagia karena teramat kehilangan.
Seiring berjalannya waktu, kemelekatan dari kehilangan itu dapat terurai. Berbagi cerita tentang mereka bisa menjadi obrolan hangat antar keluarga, bukan lagi kisah pilu yang bikin lidah kelu, alhamdulillah.. Bukan jalan yang mudah, kehilangan sosok inti nan strategis ini sejatinya hampir melemahkan ikatan satu sama lain, juga mengaburkan akar diri yang semuanya sangat melekat pada mereka. Jadi ini adalah ritual menjaga doa-doa baik para almarhum dengan meneruskan cerita perjalanan mereka hingga mengantar kami hingga saat ini atas ijin Allah..
#Solo #Laweyan #Pracimaloyo #Graveyard
Keputusan meminum kopi pas jam 9 tadi malam agaknya bikin malamku teramat panjang, setidaknya sampai saat ini, 9 jam setelahnya mataku sulit terpejam. Berkedut seperti berlari sendiri. Sekian lama tidak minum kopi ternyata lumayan juga efeknya.
Entah karena kopi semata, atau juga kepikiran bahwa ini memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, rasanya seperti super kilat, gamang karena segera berpisah dengan bulan penuh Rahmat. Perasaan gelisah dan membingungkan ini mari kita nikmati saja, dengan membaca sekian artikel yang ku-save di Instagram, memasak sahur sampai 3 menu yang berbeda, hingga jadi 1 gambar yang mencatatkan sebuah doa yang disarankan terus dipanjatkan untuk mencapai Lailatul Qadr.
Allahumma innaka 'affuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni.
#sketch #lailatulqadar #lailatulqadr
📍Kofisyop Di Bawah Tangga, Kotabaru, Yogyakarta
Sebuah pertemuan sebagai rangkaian kegiatan menunggu buka puasa Ramadhan di DBT Jogja. Setelah kegiatan Bincang Psikologi yang kuikuti sebelumnya bersama Kemuning Kembar, ini adalah agenda penutupnya, Palmistry dengan Madam Steph.
Ini menarik, Palmistry dikenal sebagai ilmu kuno tentang membaca garis tangan. Banyak yang mengaitkannya dengan palm reading yang membicarakan ramalan2 masa depan si empunya telapak. Di sisi lain, sejarah palmistry yang tersebar dari Hindia hingga Eropa, membuatku tertarik, juga kuyakini, semua hal yang ada dan dimiliki seseorang tidak mungkin tidak berarti. Seperti halnya guratan halus yang terbentuk di wajah seseorang, makin berumur makin jelas dan menceritakan bagaimana dia menghadapi & menjalani hidup. Begitu juga garis-garis di telapak tangan.
Madam Steph, menemani peserta secara personal untuk menjelaskan bagaimana Palmistry itu mendasar dan kaitannya dengan pemaknaan masing-masing garis yang tampak di telapak. Sesiku bersama Bunda Bundi bahagia @rahma_shaniba , mencoba memahami & melihat apa yang ada. Beririsan dengan ilmu Psikologi, Madam Steph pun memberi pandangan bagaimana kecenderungan kita meanghadapi, menanggapi suatu hal hingga sikap-sikap baik yang perlu dipertahankan.
Tidak lama tapi bermakna, kiranya itu yang membekas sepanjang sesi yang dibuka terbatas untuk 5 orang. Bergantian saling berdialog, palmistry mungkin sebagai jembatan mengenal diri. Yang mungkin saking terbiasanya sampai tidak disadari, wow.
Dalam rangka melatih otot tangan, maka ini salah satu hal yang menarik untuk diarsipkan melalui gambar. Kebetulan si @rr_rilla juga ikut, meski datang paling akhir karena sudah sibuk kerja, (ya Allah adekku udh kerja gaes. MasyaAllah.. ) maafkan kugambar dengan warna baju yg sepertinya tak mungkin kamu pakai, namanya juga lagi studi warna, maklum ya..
#dibawahtangga #coffeeshop #palmistry #jogja #dbtjogja #illustration #drawing #sketch
Apa kamu juga tertarik dengan Palmistry??
21022022
"Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat."
.
Hampir 2 tahun lalu, coba coba perangkat baru, masih kikuk dan terburu-buru, mulai diarsipkan meski berdebu.
Masih ingat juga, setelah ini langsung isoman krn gejala covid sekeluarga. bapak dan fraya sih nampaknya yg pertama meski tidak kami pastikan lewat lab, langsung isoman saja menurut ibu sheila yg sudah berpengalaman sebelumnya.
Alhamdulillah semua bisa segera sehat, berbeda dengan pengalaman Covid bu Sheila yg pertama, selain menghebohkan warga karena jadi pasien perdana se-pedukuhan, di sela isoman ada episode Lucid Dreams berkali-kali, juga sempat alergi obat yg dahsyat, alhamdulillah masih dikasih selamat.
Niatnya sih bercerita mumpung bebersih arsip yg sudah mulai ruwet tidak dikelola dengan baik kemarin, ya bismillah saja.. kita mulai lagi jurnal visual #ruparenjana , meskinya visualnya ini hasil tangkapan layar bu Sheila dimanapun iya memandang.
#sky #mountains
Ruang belajar pada circa 2014 - 1019. Mengelola sebuah ruang apresiasi untuk budaya dan seni. Pertunjukan kerjasama dengan seniman nasional dan mancanegara tiap bulan, memfasilitasi berbagai kegiatan penunjang akademis bagi sekolah secara berkala, menggelar Festival Musik Tradisi bertaraf nasional setiap tahunnya. Tembi Rumah Budaya yang kini sedang beralih fungsi untuk bisa tetap bertahan pasca pandemi. Semoga masih ada kesempatan melihat geliat-geliat seni di sana kembali.
Dewi Ellyani
Di dalam pejam matanya,
Ada kebaikan yang berbunga,
Ada tunas doa yang tumbuh,
Dan amal baik menerangkan liangnya.
Di dalam peluk hangatnya,
Ada rindu yang mengambang,
Disemai melalui 7 ayat berulang,
Menghujam langit yang terang.
Di dalam ruang Pracimalaya,
S'moga berjalan hanya semalam,
Ditentramkan oleh bunga-bunga kesejukan,
Diselimuti keyakinan akan rahmat-Nya.
Jurnal Rupa Renjana #1
Merasa Rumit.
Minggu lalu berjalan dengan simpul peristiwa-peristiwa penting yang memunculkan parade emosi. Sampai saat ini aku belum menemukan waktu yang pas untuk mengurai semua, meninggalkan jejak-jejak baik yang kuyakini jadi sumber energi di masa yang akan datang. Jadi akan kumulai hari ini.
Jurnal Rupa Renjana, mungkin akan jadi kumpulan cerita - wacana yang akan kusampaikan disini sebagai doa atas peristiwa penting tadi. Kata KBBI, renjana adalah antusiasme, rasa semangat, atau kegembiraan yang kuat terhadap sesuatu atau aktivitas tertentu. Kurasa itu pas.
Sering, gembira itu hadir setelah suatu peristiwa, kemudian diyakini menjadi semangat dalam melakukan hal berikutnya, tp tiba-tiba menguap, & hilang tertutup peristiwa lainnya. Jadi, ini salah satu usaha bagi pribadi yang mudah lupa, untuk kembali baca dan bersyukur, menemukan lagi renjananya.
Minggu lalu adalah pembukaan - penutupan pameran perdana dari pak Bangkit bersama KPY #10 bertajuk Gnair Gnaur (1 - 11 /9), yang tentu saja bagi yang sempat datang ke karyanya akan selalu muncul pertanyaan, Mengapa?
Berikutnya adalah ultah almh Ibu Ellyani Dewi (5/9), Ulang tahun & kematian sangat melekat utk ibu, semuanya jadi peristiwa. Apa Al Fatihah cukup, atau kemungkinan berkunjung ke makam, atau bersyukur atas keputusan2 yang kurasa jika beliau masih hidup, beliau akan tersenyum, bisa jadi alternatif perayaan personalku atas bu Elly?
Juga ultah bapak Singgih Sanjaya (7/9), yang punya love language mlipir sambil plirak plirik canggung, yang kurasa sama kadar kecanggungannya dengan ku bbrp waktu. Tp sekarang lumayan lah ya, bisa berpelukan, krn ternyata bbrp ujian hidup membuat kami belajar berpelukan & berangkulan untuk melewatinya. Ucapan selamat di whatsapp dgn pesan datar ya cukup kali ini cukup, tp ada hal lain yang mungkin selanjutnya akan kukulik.
Yang paling emosional, wisuda adek bontot, Rilla 9/9. Bahkan aku sudah menitikkan air mata dari sejak memulai awal paragraf ini. Nanti kucoba atur lagi, krn sekarang pandangan sudah blur krn air mata.
Baik, sementara jurnal ini akan jadi ruang melepas emosi seketika aku merasa atau mengingat perisiwa, yg sempat hilang krn trauma.