Keberhasilanku hari ini bukan hanya kemenangan bagiku, tapi komunal dari pendahuluku hingga penerusku esok. Sungguh ku tak patut membanggakannya sendiri
Shendy Ristandi
untitled
KIROKAZE
Cookie Run:Kingdom Official!
Mike Driver

gracie abrams

titsay
Fieri Frames
Fai_Ryy

No title available

Love Begins
Today's Document

#extradirty
No title available
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
d e v o n
Game of Thrones Daily
NASA
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

pixel skylines
seen from Poland
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from Kyrgyzstan
seen from Poland
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Netherlands

seen from Germany
seen from Vietnam

seen from Switzerland

seen from United States

seen from Poland

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Poland
@shendyrstnd-blog
Keberhasilanku hari ini bukan hanya kemenangan bagiku, tapi komunal dari pendahuluku hingga penerusku esok. Sungguh ku tak patut membanggakannya sendiri
Shendy Ristandi
Sebuah renungan: Berhenti.
Entah. Saya tidak pandai mengurus hati, karena saya akui saya lemah menyoal perasaan. Pernyataanmu itu membuat saya berpikir sangat dalam. Saya tidak tahu kita itu apa, dan sejauh apa. Yang jelas saya tidak akan lemah karena segudang mimpi saya harus tetap saya wujudkan, ada atau tanpamu, membangun bersamamu atau tidak. Setahun ini akan saya kosongkan, benar-benar. Mungkin lagu Sepatu Tulus memang cukup menggambarkan kita saat ini. Terimakasih karena telah mengungkapkannya. Sekali lagi, entah, apakah itu benar dari hati atau tidak. Yang pasti kalimat itu membuat saya cukup akan menjauh dan membatasi angan tentang kita, sempai semua benar-benar jelas, hitam putihnya. Uruslah urusanmu dulu, sedangkan saya dengan urusan saya. Sungguh, saya tidak keberatan jika Tuhan sudah berkehendak, saya akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk siapapun di depan sana, yang disiapkan untuk saya.
"Hay, bocil2.. besok kita ketemu lagi lhoo... See yaa" . Takut ketiduran krn harus brangkat pagi2 ke kemiriamba.. jadi ga tidur deh . #GUIM6 #KemiriAmbi #titik2 (at Graha Rangkepan Jaya Depok)
Aku dan hatiku yang dibolak balikkan
Ini sudah hampir 3 tahun sejak 16 Juni 2014. Sejak 2 helai kertas itu kubaca ditanganku. Waktu itu di sebuah mushola, sekitar pukul 1 siang. Kau mengatakan, aku duluan mengatakan. Aku akui, aku, aku memang mengatakan hal itu dengan penuh kesungguhan dan tanggungjawab. Hingga ditulisnya ocehan ini, aku masih bertahan pada yang sama, walaupun (kenyataannya) tanpa ikatan. Sbenernya aku hanya takut. Semakin kesini, apa yg kuharapkan jd sia-sia.. aku tak tahu ini udh sejauh apa. Apa benar yg aku usahakan sejauh ini juga sia2(?). Semuanya masih tanda tanya.. Aku pria yg bebas pikirannya, tp hatinya dijaga, benar2 dijaga. Banyak yang meminta tapi pada akhirnya, tak kubiarkan walau secuil untuk mereka miliki. Karena sangat sulit bagi seorang lelaki untuk untuk tinggal dalam angan-angannya saja untuk membangun sebuah bahtera yg iya damba. Bahwa menata balok-balok kayu itu menjadi tiang penyangga hingga bisa berlayar ditengah badai topan, sangatlah butuh kepastian, pegangan.. Aku tidak main-main soal membangun masa tuaku. Semuanya aku sesuaikan dan usahakan sebaik yang aku bisa, semuanya butuh dikonstruksi sesuai cetak birunya. Kalau kau bertanya, apa aku marah.. sedikit. Pun itu pada diriku sendiri, yang ternyata bodoh menyikapi egoku. Lagi-lagi semua harus bermuara pada konsepsi jodoh, yang hanya Gusti Allah yang tau. Duh Gusti, jalan yang kau berikan pasti kulalui, tapi dengan apa aku juga belum tau. Karena sebaik-baiknya kuasaku, tak ada apa-apanya dibanding kuasaMu. Hanya saja aku tak bisa berbohong atas kuasaku yang lemah karena godaan selalu terlintas dikepala, terkadang menghujam hatiku juga. Akulah jomblo, tak ada bedanya aku dan mereka yang jomblo. "Omong kosong dengan komitmen", kataku malam ini. Tapi aku tak tahu apakah esok kan ku telan sendiri kata-kata ini. Karena bukan hanya hati perempuan yang penuh misteri, laki-lakipun sama, Yaa mukollibalkulubis sabit qolbi aladdini.. Semua berjalan mengikuti detik-detik di pergelangan tangan yang kubawa kemanapun. Kemanapun tangan ini akan bersalaman dengan seorang Bapak, yang anaknya ku pinta, nanti.
"Setiap orang berhak memiliki penilian atas orang lain.."
Kita tidak pernah tau, kepada siapa kita dititipkan. Kita tidak pernah tau apakah kita pernah berkesempatan tidak dilahirkan di dunia, di rahim ibu siapa, dengan kelebihan atau kekurangan fisik, di keluarga seperti apa, di lingkungan yang baik atau yang buruk, dibesarkan dengan nilai2 apa, mendapat pengaruh apa dari sekitar. . Kita tidak bisa menentukan untuk menuntut dilahirkan di keluarga yang kaya, terpandang, berpendidikan tinggi, dengan perlakuan kasih sayang yang baik, dan sebagainya dan sebagainya. Untuk itu, kita tidak berhak menyalahkan siapapun, terlebih Tuhan. Malah, sudah sepatutnya kita bersyukur atas apa yang kita miliki. . Andi adalah anak dari seorang biasa saja. Keluarganya menyayanginya, walaupun tidak banyak dengan materi. Kedua orang tuanya berusaha memberikan lingkungan terbaik. Begitupun Andi, dia tidak gentar untuk menggapai apa yang diimpikannya. Alhasil dia dibesarkan dengan keadaan yang seadanya, dengan susah payah.. . Lain dengan Suryo, dibesarkan di keluarga terpandang, orang tua berpendidikan tinggi, dengan kondisi ekonomi yang baik. Beda dengan Andi yang jarang baca buku (karena tidak punya), Surya terfasilitasi dengan baik, bahkan gedget dan penunjang pendidikan dan bermainnya terpenuhi. Termasuk asupan bergizi setiap hari. . Andi, tumbuh mandiri walaupun tidak sebaik teman2 lain. Tidak jarang, dia menyembunyikan latar belakangnya demi bisa bertahan dengan tuntutan jaman. Dia tidak jujur sesekali. Dan ternyata, itu tidak baik. Orang2 memberikan banyak tuntutan kepadanya, dan Andi tidak bisa sebaik itu. Alhasil, banyak orang memberikan penilaian buruk padanya. Entah karena Andi memang seorang yang dungu, atau mungkin dia hanya tidak beruntung. Yang dia tahu, setiap orang bebeas memberikan penilaian terhadap dirinya.
"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya"
-Pramoedya Ananta Toer, House of Glass
Sampai sekarang, masih "kamu..."
Sebelumnya saya sempat membahas, betapa saya mudah untuk sayang sama orang lain. Saya juga membahas tentang saya pria dan pria itu brengsek (dari perspektif saya). Ini adalah tulisan lanjutan dari bahasan sebelumnya. Sekali lagi saya menekankan, saya seorang pria normal yang menyukai lawan jenis. (Wkwk lagi musim soalnya yang begitu2). Jadi, saya akan fokus ke pendapat saya masalah percintaan. Azek! Saya adalah orang yang percaya bahwa jodoh ditangan Tuhan, dan tidak ada yang tahu perkara jodoh selain Dia. Saya berusaha menebak, apakah jodoh itu sebenarnya tidak ada? Yang ada adalah anggapan kita kalau seseorang yang pada akhirnya menjadi pelabuhan pada hidup kita merupakan orang yang dianggap "memang dikirimkan (ditakdirkan) oleh Tuhan HANYA untuk kita". Ataukah memang sebenarnya konsepsi jodoh adalah sesuatu yang memang digariskan oleh Tuhan yang berapa kalipun kita mencoba mengenal banyak orang, hanya orang itulah yang pas buat kita. Atau..atau.. kita terbiasa dengan menjalin hubungan dengan seseorang sehingga kita merasa "ya sudahlaah, sama yang ini aja. Siapapun jodoh saya". Ditarik lebih jauh, hasilnya mungkin bisa perpisahan, atau bisa langgeng, atau berhenti ditengah jalan karena salah satu berpulang dahulu(?). Sungguh apapun caranya dan hasil akhirnya, saya tetap percaya: bahwa jodoh merupakan rahasia Tuhan. Dan... Dia telah merancang misi suci manusia untuk menjadi seperti apa yang dia kehendaki dan ridhoi, termasuk dengan siapa kita dipasangkan, dan berakhir seperti apa nantinya. Lalu, sekarang? Saya sendiri menyimpan harapan kepada seorang perempuan sholehah, sekarang. Apapun yang saya lakukan dan kepada siapapun, diluar sana, saya selalu merasa kembali pada pilihan saya. Yaa, orang ini. Dimana saya melihat kehadiran Tuhan dalam dirinya.. Lalu apakah saya merasa kita berjodoh? Mungkin(?) Kita tidak tahu konsepsi jodoh itu seperti apa. Yang jelas, saat ini saya berusaha memantaskan diri saya menjadi seorang imam yang bisa jadi teladan bagi keluarga. Apabila ditengah jalan pembelajaran saya ini, "dia" sudah diminta (melalui orang tuanya) dan saya merasa pria ini adalah yang terbaik bagi dambaan saya, saya siap melepasnya atas nama Allah. Namun, yang harus dipastikan sekarang adalah, saya harus berbuat sebaik-baiknya untuk keluarga saya saat ini dan keluarga saya nanti. Bismillah aja... Semoga yang terbaik diberikan Tuhan untuk jadi misi suci saya di dunia dan akhirat. Untuk itu, aku yakin, sampai sekarang, masih "kamu..."
Apapun itu, nomor satu tetap keluarga... Kamu pasti juga tau alasannya. Sudah, hari ini sekian saja.
Ya?, saya brengsek karena saya seorang pria?
“Brengsek” adalah kata kotor, umpatan yang biasanya disematkan kepada seseoang yang bertingkah tidak sopan, ingkar, atau kurang ajar. Setidaknya definisi itu yang saya pahami. Kata ini sering dilontarkan oleh cewe yang melihat pacarnya selingkuh, atau -biasanya- seseorang yang melakukan hal tidak sopan kepada lawan jenisnya. Setelah celaan “brengsek” biasanya diikuti dengan tamparan. Haha .. sinetron banget.
Disisi lain, saya adalah orang yang mudah sayang pada orang lain. Tidak jarang saya berkhayal menempatkan diri saya menjadi milik sosok cantik di setiap mata saya melihat mereka. Eh.. Cantik bukan berarti harus lewat penampilannya ya. (mungkin setiap pria melakukan hal yang sama sebenarnya, saya aja yang tidak tahu). Apakah ini wajar? saya juga tidak tahu. Saya punya teman, dia mengakui memilki hubungan yang serius dengan pasangannya. Tapi sering matanya kemana-mana, menepuk pundak saya seraya mulutnya berkoar “cakep, tuh bray..”. Saya: “hah, yang mana?” (sambil mata meraba sekitar). Mungkin dari kejadian singkat dan sering kita jumpai ini, saya menyimpulkan, hm.. kaum kita memang brengsek ya.
Lembaran kebaikan dari sebungkus harapan
Aku tidak tahu sudah kali mataku memandangi mereka. Aku juga tidak tahu berapa ribuan kali dia menawariku dan aku menolaknya, begitu saja. Bahkan aku tidak mengerti mereka, dan tidak tahu sampai kapan dia, terlebih aku, akan terus begini.
Ini tentang kaki kaki kecil mereka yang setiap hari membawa berlembar-lembar, berbungkus-bungkus, di letakkan rapi dalam kantong kresek merah besar dan digendong kemana-mana. Keling wajahnya, rambutnya merah, matanya sangar, dan terkadang ingus dimana-mana. Sungguh miris, mereka membawa tisu, tapi ingus dimana-mana. Ya, tidak mereka pakai tisu itu, karena lebih baik mereka menjadi lembar-lembaran ribuan rupiah untuk dibawa pulang.
UI Peduli Aceh
Sabtu, 10 Desember, saya dan teman-teman relawan UI Peduli terbang ke Aceh. Ya, provinsi yang terkenal akan gempa dan tsunaminya di tahun 2004 hari ini kembali mengalami musibah gempa berkekuatan 6.4 SR. Berpusat di kabupaten Pidie Jaya, kami menempati sebuah pos yang juga digunakan warga untuk mengungsi, di daerah Gampong Paru Kuede, Pidie Jaya. Kami tinggal 2 hari 2 malam disana dengan mencoba mengimplementasikan 3 program; bantuan medis, menyalurkan logistik, dan trauma healing untuk anak.
Narasi Mimpi SOSMAS BEM UI 2017 (bagian 1)
“Jika kamu ingin mengubah suatu sistem, pastikan kamu berada di tataran tertinggi sistem tersebut.” - Dzikri Ilman (Presiden ISAFIS 2014)
Saya sudah dua tahun menjadi staff departemen sosial masyarakat BEM UI pada masa jabatan 2015, jamannya Andi Aulia Rahman, dan 2016 jaman Arya Adiansyah. Sebenarnya, aktif di sosial masyarakat di kampus bukan pengalaman pertama saya. Sebelumya di SMA, saya dan teman-teman juga menginisiasi sistem community service atau pelayanan masyarakat dan menjadikannya salah satu kewajiban siswa Sampoerna Academy Malang. Saya juga pernah menjadi ketua dari Forum Pelajar Peduli Indonesia (FPPI), sekumpulan pelajar yang ingin melestarikan budaya Indonesia dan keindonesiaan melalui 3 bidang, politik dan hukum, pendidikan, kebudayaan. Menjelang kepengurusan 2017 ini, saya meniatkan untuk maju sebagai ketua departemen sosial masyarakat BEM UI. Dalam tulisan kali ini, saya ingin membagi semangat yang saya bangun untuk mimpi-mimpi saya kedepan. Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas tentang bagaimana gerakan sosial seharusnya dilakukan menurut kacamata saya, yaitu gerakan sosial yang harus mencapai dua indikator penting, yaitu high impact dan high explossure. Saya yakin, bekal yang saya dapatkan selama (setidaknya) dua tahun terakhir bisa membantu saya menciptakan iklim sosial masyarakat di UI yang mencapai 2 indikator diatas.
Migrasi Global. Layaknya Kamu Bergerak dari Rumah ke Tempat Kerja atau Sekolah, Wajar.
Semester ini saya mengambil kelas dengan judul Migrasi Global. Kelas HI yang satu ini memuat tentang bagaimana migran dan fenomena migrasi dijelaskan dalam kehidupan sehari-hari, bisa melalui analisa kebijakan, teori, hingga hubungan antar migran di pengungsian. Level analisisnya bisa negara, organisasi internasional, masyarakat global, maupun individu. Kelas ini mengajarkan saya bagaimana kita memandang migran dan migrasi. Bagaimana manusia melakukan mobilisasi antarnegara, antarsuku bangsa, antargolongan dan sebagainya. Diaspora, pengungsi, dan pekerja migran contohnya. Ada berbagai kompleksitas dalam isu ini membuat kajian Migrasi Global masih dikontestasikan, utamanya, bagaimana seharusnya kita memandang dan memperlakukan migran. Namanya juga masyarakat sosial, ada berbagai alasan mereka untuk pindah, menetap, dan melakukan interaksi dengan manusia lain. Tidak heran semakin banyak populasi dan semakin kompleksnya tuntutan jaman sekarang, membuat semakin banyak manusia melakukan mobilisasi. Dengan berbagai kepentingan, mulai dari kebutuhan pendidikan, pencari lapangan kerja yang lebih layak dan menjanjikan, kebutuhan travelling untuk menemukan tempat baru, kebutuhan politik, hingga kebutuhan mencari tempat yang lebih aman dari segala bentuk ancaman di daerah asal membuat para akademisi dan pembuat kebijakan menafsirkan migran dan migrasi secara beragam.
“Menilik” mereka yang tidak pernah ditilik...dan menyebarkannya untuk orang lain “tilik”
“orang bijak bilang, kalau mau berbuat baik, jangan dilihatin orang, ntar riya.”
…tidak menjadi dilema bagi saya, apakah ketika kita berbuat baik harus diam-diam atau terang-terangan. Dan saya selalu beranggapan: yaah, sesekali dari perbuatan baik yang kita lakukan, dilihatin ke orang lain laah.. itu harus dilakukan, jika diperlukan.
Saya mencintai apa yang saya lakukan. berkecimpung di dunia sosial. Menyapa pengamen jalanan, memberikan “muka lucu” kepada bayi-bayi digendongan ibunya, menghentikan pengguna jalan agar seekor kucing bisa menyeberang dengan selamat, cium tangan orang yang lebih tua (salim), dan banyak lagi. Ada teman saya yang pernah mengatakan, bahwa kehidupan sosial itu penuh dengan dilemma. Mau dilihatin ke orang lain, takut riya, mau dipendam sendiri dan gaada orang yang tahu, dikira ga pernah bersosial. Terlepas dari konsepsi riya dan ikhlas melakukan sesuatu diniatkan karena Allah, saya punya pandangan tersendiri, dan saya jadikan rumus di kehidupan sosial saya. Rumus ini, menurut saya, tidak hanya bisa diaplikasikan kepada kita pribadi, namun juga kepada organisasi-organisasi atau gerakan sosial.
Assalamu’alaikum, Pembaca
“...kelak kamu akan jadi Presiden, le.” kata si Mbah
Sebenarnya kedua orangtua saya belum pernah memberikan alasan mengapa saya diberi nama Shendy Ristandi, tapi berdasarkan research kecil-kecilan yang saya lakukan, Shendy diambil dari nama dewa Yunani, Dewa Pelindung Umat Manusia, dan kata mama, Ristand artinya terakhir, walaupun saya juga tidak thu itu dari mana. Yang jelas, saya memaknai nama saya sebagai "pelindung umat manusia-hingga akhir” dan saya meng-amin-i-nya. Tidak buruk untuk dijadikan doa yang positif, setidaknya. Saya lahir di kota Nganjuk, kota kecil ditengah Jawa Timur, pada 30 Maret 1995. Iya, tua, karena setahu saya; di “Jawa” masuk SD harus setidaknya/lebih dari 7 tahun. Sejak kecil saya mendapatkan kasih sayang dari papa mama saya, pasangan Rustamadji dan Suhartini. Walaupun banyak kekurangan pada beliau berdua dalam merawat saya, tapi saya yakin mama dan papa adalah malaikat terbaik yang Allah kirimkan untuk membimbing saya di dunia, menjadi role model kehidupan saya, dan tempat saya “pulang”. Apresiasi setinggi-tingginya untuk mereka berdua. Saya juga punya 2 saudara kandung, Risco Valentino dan Rihedha Dinata. Anak mama 3, semua putra, alhasil hari-hari saya sejak kecil hingga dewasa banyak berantemnya. Saya muslim, insyaallah muslim yang taat. Begitulah papa mama mengajarkan, dan saya yakin dengan apa yang kami yakini.