Heh bro
Segala rezim itu menindas, atas kemauan atau keinginan baik sengaja atau tidak, misalkan saja, rezim media seosial, rezim ketampanan, rezim ke unikan, rezim kecantikan bahkan rezim bukupun juga menindas.
Gimana tak menindas jika kalian berada dalam rezim tersebut maka kalian akan paham hal itu dan mulai merasakan penyesalan, sudah taukan adam turun kebumi bersamaan dengan penyesalan, yah memang itulah rezim pemangku peradan-peradaban.
namun jika kita pahami lagi, kekuatan rezim-rezim tersebut tidak ada yang merencanakan akan tetapi mereka akan datang pada diri masing masing tanpa guru pula.
Lihat deh rezim epitisme yang mengatakan bahwa buku atau media yang baik ialah yang menggunakan tutur kata yang etik. Meski dusta. Yang misuh, satire, sontak dinista bejat. Ini rezim peradabannya.
Apakah benar tutur kata lembut selalu memuat pesan etik pula? Apaboleh buat, Wong katanya yang namanya etika itu, ya, sekalipun universal, ya, tetaplah lokal. Bahkan personal.
Apa yang saya tulis hajingan, kan ya belum tentu dihuni koruptor, tapi justru bisa sangat asyik. Iya kan? Lalu perhatikan betapa dalam setiap lakon peradaban, pastilah muncul gerakan penyimpangan atau patahan terhadap rezim peradan,
Dispensasi merupakan perbolehan melakukan larangan-larangan, bukan di- spensasi jika di hilangkan huruf Pnya berbunyi di-sensasi oleh rezim rezim hingga larut dalam euforia.
Ketika seseorang ber-euforia dalam suatu waktu, maka dirinyalah tidak akan sadar bahwa dirinya berada di tengah tengah lapisan masyarakat, mulailah disitu muncul intrik intrik yang akan menimbulkan gejalak sosil, problema, bahkan peristiwa pada masyarakat itu sendiri.
Lalu menyatu pada perbedaan perbedaan yang ada sehingga mengotak-otak bahkan membulat-bulat hingga banyak otak-otak dan bulat bulat yang awalnya sama kini mula memisah dan berbeda, terjadilah sebuah sejarah kehidupan masyarakat.
Foucault dalam zamannya mengatakan ada suatu diskontinuitas di masyarakat, angkringan misalnya, men-diskontinuitas rezim restoran, sendirian misalnya mendiskontinutas rezim berpasangan. Dan seterusnya.