A Message for the Bestest Friends on Earth
Saya punya sesuatu yang ingin saya bagi di sini. Suratâatau mungkin lebih ke arah curhatanâini ditulis di tengah-tengah kegiatan saya sebagai mahasiswa baru, yang mana saya harus mencuri-curi waktu di antara tugas-tugas yang berdatangan tak henti-henti.
Ini untuk teman-teman saya, teman-teman terbaik yang pernah ada di dunia. Begini bunyinya:
Haloooo. Aduh, harus mulai dari mana, ya?
Ada banyak banget yang pengen gua bilang ke kalian, apalagi banyak dari kalian yang udah cabut ke Bogor, ke Bandung, dan ke Malang (nggak ada kota yang ketinggalan gua sebut, kan?) (tim Jakarta/Depok mana suaranya horee!). Sebenernya, gua pengen nulis semacam ini ke kalian satu per satu tanpa kecuali. Kalian masing-masing punya cerita dan tempat tersendiri di hati gua (tolong jangan muntah dulu, gengs), jadi maaf kalau pada akhirnya cuma bisa bikin ini untuk mewakilkan pesan individual gua.
Percayalah, buat bikin tulisan kayak gini, gua perlu duduk selama berjam-jam dan banyak banget proses tulis-hapusnya. Kalian bener-bener spesial, kadang sampai bikin gua bingung gimana gua harus mengekspresikan hal ini dengan baik tanpa ada yang ketinggalan.
Gua dikenal sebagai orang yang sangat, sangat late-reply dalam membalas chat. Kalau tentang ini, kayaknya kalian bakal setuju seratus persen, ya kan? Sebenarnya, selain gua jarang buka aplikasi chatting dan notifikasi Line gua sering bermasalah, gua juga punya alasan lain.
Gua sering bingung mau bales apa. Iya, sesimpel itu. Seringnya, gua buka pesan-pesan dari kalian dan bereaksi saat itu juga, langsung di tempat. Kayak, kalau kalian kirimin gua sesuatu yang superkocak, gua akan langsung ketawa keras-keras saat itu juga. Atau kalau kalian cerita tentang suatu hal yang superngeselin, gua bakal marah-marah sendiri saat itu juga. Pendeknya, gua orang yang lebih suka ketemu langsung daripada chat, karena ekspresi gua bisa langsung dikeluarkan saat itu juga.
Biasanya, setelah gua buka pesan dari kalian dan mengeluarkan berbagai macam reaksi spontan itu, gua jadi bingung mau bales apa. Gua bingung gimana mengungkapkannya atau gimana cara bales yang enak supaya nggak jadi garing, yang akhirnya berujung pada "Nanti dulu deh, balesnya, gua pikirin dulu."
Nanti-nanti itu berujung pada lupa bales -- yang akhirnya baru terealisasi seminggu kemudian. Serius, itu yang selalu terjadi selama ini. #exposed
Tapi nggak, gua yang late reply ini bukan berarti gua nggak sayang kalian atau doesn't get excited with you guys. I am never, ever get bored when I'm with you all. Tau, nggak, sih, kalo gua bahkan sedikit (atau malah banyak) menyesali gua yang sering late reply itu?
You guys are precious, that's what I keep thinking and telling to my self all the time. Orang-orang datang dan pergi, tetapi kalian adalah definisi untuk kata 'tinggal'. Kalau mengutip lirik Young Volcanoes-nya Fall Out Boy, "In poison places, we are anti-venom." And yes, that's what you guys mean to me. You're all my anti-venom in any poison places.
Masuk kuliah ini, hampir setiap hari gua mempertanyakan hal yang sama, berulang-ulang, "Dulu, tuh, gimana sih caranya gua mulai temenan sama temen-temen gua?" And I still questioned it up until now. Ini pertanyaan paling membingungkan sepanjang masa. Apa langkah-langkah konkret kita waktu mengubah konsep orang asing jadi teman dekat? Apa formula paling tepat yang harus gua ulang lagi untuk menemukan teman baru yang seasyik kalian di tempat kuliah ini?
Is there any exact form to make friends as good as you guys?
5SOS pernah bilang di lagu San Fransisco, "I wanna get back to where we started." Lagi, "You know, you know, you know, you know we got it right." But instead of going back (which is, of course, impossible), I'd rather make a wish for our future. Ini semua mungkin akan kedengaran klise, but then again, it's the thought that counts, right?
Gua selalu berharap jokes kita akan terus sama, kelakuan nggak jelas kita masih sama, dan semua obrolan kita even tentang hal paling asing sekalipun masih tetap nyambung. Gua selalu berharap kita nggak akan pernah jadi orang asing untuk satu sama lain. Dan di atas semuanya, gua selalu berharap kalau kalian baik-baik saja, kalian selalu bahagia, kalian selalu diberkahi di setiap langkah dan di mana pun kalian berada.
Go chase your own dreams, entah itu jadi aktivis kampus, jadi mahasiswa berprestasi, jadi seniman, jadi atlet, jadi tentor, jadi penerima beasiswa, jadi mahasiswi kampus impian meski harus tes ulang di tahun berikutnya, jadi lulusan yang cum-laude, jadi apapun itu... Just do know that I will always got your back. Always.
Gimana pun juga, nama kalian adalah nama-nama yang paling sering gua sebut di dalam buku jurnal gua selama sekolah, bahkan lebih sering daripada nama (ehem) doi (ehem). See how impactful you guys are for me?
Udahan, deh, muji-mujinya (Woy seriusan deh ini aja sebenernya masih belum semua isi hati dikeluarin??? Masih banyak yang mau diomongin rasanya??? Tapi bingung???). Kalo kata Isyana, keep being you! Yang anak rantau betah-betah ya! Eh tapi jangan lupa pulang juga nanti gua kangen. Apalagi yang rumahnya sering jadi basecamp tolong ya gua lebih kangen sama rumah kalian, nih. Hehe.
Your one and only, Alo.
p.s. :
"Can you take a moment Promise me this: That you'll stand by me forever But if God forbid fate should step in And force us into a goodbye If you have children someday When they point to the pictures Please tell them my name Tell them how the crowds went wild Tell them how I hope they shine Long live the walls we crashed through I had the time of my life with you"
--Long Live, Taylor Swift











