Gapunya alasan bersyuku?
Coba liat jaman sekarang semuanya mahal, tapi Tuhan gapernah biarin kita kelaparan. See? God is good. Life is good.
sheepfilms
Jules of Nature
almost home
Mike Driver
★
d e v o n

izzy's playlists!
Game of Thrones Daily
No title available

No title available
h

Game Changer & Make Some Noise
Monterey Bay Aquarium

roma★

pixel skylines
macklin celebrini has autism

PR's Tumblrdome
Show & Tell

Andulka
Sade Olutola

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Bulgaria

seen from United States

seen from T1
seen from France

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Bulgaria
seen from Bangladesh
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
@sitiarmadani
Gapunya alasan bersyuku?
Coba liat jaman sekarang semuanya mahal, tapi Tuhan gapernah biarin kita kelaparan. See? God is good. Life is good.
Aku yakin sebagian dari kita pernah menjadi seperti Sheila Dara, disalahpahami hanya karena cara kita berduka tidak terlihat seperti yang orang lain bayangkan. Ada yang mengira kita terlalu kuat hanya karena kita tidak banyak menangis. Ada yang menganggap kita tidak kehilangan hanya karena kita tidak histeris, tidak meraung-raung di depan banyak orang, dan tetap melajutkan hidup setelahnya.
Aku mengalami itu saat Ibuku wafat, harus menghadapi watak orang-orang saat aku saja jatuh berantakan.
Sejak hari itu aku makin sadar, bahwa dunia ini benar-benar jahat saat kamu kehilangan.
Orang-orang terus menilai, terus bertanya, terus mengira mereka tahu apa yang kita rasakan. Padahal yang mereka inginkan hanyalah sekadar menuntaskan rasa penasaran.
Kalau Ramadan datang tapi tidak membawa perubahan dalam diri kita, mungkin bukan hanya godaan setan yang perlu kita salahkan, tapi juga nafsu kita sendiri yang belum kita latih untuk dikendalikan.
GAK ENAK DENGER INI, TAPI PERLU.
hidup kita bukan tanggung jawab orang lain.
bukan pasangan,
bukan temen,
bukan keluarga.
mereka bisa bantu,
bisa peduli,
tapi bukan tugas mereka
buat beresin semuanya tiap kali kita jatuh.
jadi mau gak mau belajar berdiri sendiri,
meskipun masih takut,
meskipun belum yakin.
karena dari awal sampai akhir,
yang benar-benar harus jagain dan narik
diri kita keluar yaaaa diri sendiri.
pernah baca quotes yang bilang “jauhin orang yang bikin kamu merasa kecil.” dulu ga terlalu kepikiran. tapi pas ngalamin sendiri rasanya beda. tiap bareng orang itu kok jadi ngerasa ada yang salah terus sama diri sendiri. hal-hal yang dulu biasa aja jadi bikin insecure. dan itu pelan-pelan bikin capek. akhirnya sadar, mungkin memang harus mundur sedikit. bukan karena benci, tapi karena ga mau terus merasa kurang cuma karena ada di sekitar yang salah.
kadang kalau ada yang jahat, refleksnya pasti pengen bales. biar adil, biar nggak diremehin. tapi makin dewasa makin sadar, ikut jadi jahat cuma bikin hati ikut kotor. capek banget. Gak semua hal harus ditanggepin. kalau hati mereka lagi berantakan, itu bukan tanggung jawab siapa-siapa buat ikut berantakan juga. let them carry their own darkness. yang penting diri sendiri tetap waras dan tetap baik. protect your light.
Bayangin kamu menyakiti seseorang begitu dalam, sampai mereka bangun di sepertiga malam bukan buat mendoakan yang buruk, tapi hanya agar bisa survive.
meraeka berdiri dalam Qiyamul Lail, minta Allah memikul rasa sakit yang kamu tancapkan.
tanpa kata-kata buruk, tanpa dendam, hanya air mata dan doa.
kamu mungkin lupa dan ga sadar tentang apa yang telah kamu perbuat, tapi Allah lebih tahu. hati-hati dengan hati manusia, karena ada luka yang pengaduannya hanya disampaikan langsung kepada Tuhan.
ya Allah, if i was ever the reason for someone's pain— please heal them and forgive me.
Aku mencari diriku sendiri dalam kenangan yang aku tinggalkan, hanya untuk menemukan seseorang yang tidak lagi aku kenal.
Maa, setiap hari aku selalu kembali ke tempat itu. Namun, yang kutemui hanya gundukan tanah, dengan nisan yang telah usang. Jangan khawatir, Aku akan terus memeluk mu dalam doa, mengabadikan mu dalam sujud panjang ku.
Pada detik yang merambat lambat,
Aku menghitung jarak, bukan dengan kilometer,
melainkan dengan detak yang kehilangan ritme.
Bayangmu adalah tamu tetap di jendela ingatan,
Menyeduh sunyi, menjadikannya kopi paling pahit.
Aku belajar membaca tanda;
Bahwa napas ini memburu,
Bukan karena lelah berlari,
Tetapi karena menanti jejakmu singgah kembali.
Sebab sunyi adalah caraku mengeja namamu,
Tanpa perlu bersuara.
Pernah jadi orang yang sangat peduli sama orang lain, sok-sok jadi tameng. Padahal kalau diinget-inget sikap dia ke aku ga ada baik-baiknya. Dan sekarang aku sadar, kalau ternyata ga semua orang bisa menerima kebaikan kita. Ada orang yang emang ga sadar kalau ada orang lain yang peduli sama dia, tapi yaudah aja gitu. Aku bukan mau ngeluh, tapi dari cerita ini aku jadi paham, kita boleh baik sama orang lain. Tapi jangan pernah mengharapkan orang lain buat bales kebaikan kita juga. Karena itu semua cuma bikin kita capek.
Semoga lukaku tidak melukaimu.
Selalu kagum sama orang-orang yang menghargai boundaries orang lain, dengan selalu memberi pilihan di setiap interaksi;
“Kamu waktu luangnya kapan? Kalau senggang, boleh kita ngobrol?”
“Kamu lagi butuh menyendiri atau ditemenin?” “Senyamannya kamu aja”
“Kamu lagi ada energi ga buat ketemuan?”
Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang sepele, tapi bagi sebagian yang lain (termasuk aku) ini menurut aku penting💌
manusia vang kurang empati itu mengerikan jangankan memahami kondisi orang lain, untuk sekadar sadar kalau tindakannya menyakiti pun mereka sering gak mampu. and the scariest part? they don’t feel guilty.
di kepalanya, semuanya tampak wajar, tampak layak, tampak "biasa." padahal luka yang mereka timbulkan bisa bersarang lama di hati orang lain yang menyakitkan bukan cuma perbuatannya, tapi ketidakmampuannya melihat orang lain as a human being❤️🩹
Wow.. untuk pertama kali aku bisa menghadapi trigger yang paling berat dalam hidupku selama ini dengan sadar.
Rumah ini sudah runtuh.
Jangan lagi datang berteduh,
Pemiliknyan belum sembuh.