Gunung Sumbing, 19-21 Mei 2017 (part 1)
Sudah lama ingin mendaki gunung ini untuk kedua kalinya. Dulu pertama kali mendaki gunung ini tahun 2015, start pendakian dari Garung Reco Wonosobo, summit di Puncak Buntu (waktu itu aku belum tahu kalau ini bukan puncak tertinggi Gunung Sumbing), lalu finish kembali di Garung Reco.
Hal yang paling berkesan pada pendakian pertama tersebut adalah 1) Gunung terjauh yang pernah aku kunjungi (±24 jam PP perjalanan menggunakan bus), 2) lalu Gunung dengan pemandangan banyak gunung lainnya ketika sampai di Puncak (Buntu). Poin kedua terutama yang menjadikan aku ingin mengunjungi gunung ini kedua kalinya. Maka dari itu, aku coba untuk memberikan ‘kode-kode’ kepada kawan-kawan yang dulu menemani pendakian pertama tersebut. Tapi sayangnya kode tersebut tak kunjung terbalas (wkwk). Oke, fine. Jadi aku memutuskan untuk mencari kru baru untuk pendakian kedua.
Ternyata mencari kru baru juga tidak semudah yang dibayangkan. Permasalahannya adalah ketidakcocokan jadwal antara jadwal mendaki dan jadwal liburan teman yang aku ajak, dan dengan berat hati aku menahan diri. Beberapa pekan setelah lewat dari jadwal yang kuinginkan, siapa sangka memori pendakian Gunung Sumbing yang pertama kali terbawa sampai ke alam mimpi, membuat aku sadar bahwa keinginan ini terlampau kuat untuk dipendam begitu saja.
Keesokan harinya, kembali kuhubungi beberapa teman, merayu sedikit, dan masih juga tidak ada yang bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk berangkat pada tanggal 19-21 Mei, menggunakan rute yang sama untuk pulang pergi sebagaimana sebelumnya via Garung Reco, Wonosobo. Bedanya kali ini aku menguatkan diri untuk berangkat sendiri. Bismillah.
Mulailah aku menyusun checklist barang-barang yang perlu aku siapkan untuk dibawa, mulai dari perlengkapan tidur, makan, mandi, obat-obatan dsb. Satu hal yang tidak ingin aku lewatkan adalah mengambil gambar sebanyak-banyaknya sebab pada pendakian sebelumnya aku hanya mengambil sedikit gambar dikarenakan minim persiapan. Jadi pada kesempatan kedua ini aku menyiapkan diri untuk membawa kamera DSLR satu-satunya, Canon 1100D, beserta tripod ringan.
Selesai kerja, hari Kamis sore, aku pun menyiapkan beberapa perlengkapan yang sudah ada di rumah. Kemudian malamnya transaksi powerbank karena tidak ingin kehabisan baterai handphone juga agar sewaktu-waktu bisa mengambil gambar tanpa ribet. Dan karena powerbank baru, otomatis belum terisi penuh. Aku perhitungkan bisa digunakan 2 kali untuk full-charge dari baterai kosong (minimal buat antisipasi charge HP ketika sebelum naik dan perjalanan pulang).
Kemudian lanjut ke rental tenda & peralatan masaknya. Ternyata untuk nesting (alat masak outdoor) sudah keluar semua, akhirnya aku memutuskan membeli nesting baru (hitung-hitung untuk investasi pendakian ke depan). Jam 11 malam semua perlengkapan baru siap. Saatnya melakukan packing.
Kembali kubuka checklist memastikan semuanya siap. Biasanya, aku cukup melakukan flash-packing. Tapi tidak seperti yang kubayangkan, ternyata itu tidak bisa kulakukan malam itu (iyalah, bawaan seabrek. haha). Kalau dihitung mungkin ada sekitar 4 kali repacking sampai mendapatkan susunan yang paling oke (nearly overload), itu pun masih berat. Hew. Salah satu yang membuat ribet adalah keberadaan kamera DSLR. Beberapa kali galau ini mau dibawa apa enggak ya kamera. Maklum, udah tas kameranya makan volume, ndak ergonomis pula di dalam tas backpacker consina extraterresterial kesayangan. Tapi dengan segala kegalauan (cieh) akhirnya dibawa juga. Haha. I don’t wanna miss a single moment in this trip!
Setelah drama dengan packing, jam 1 dini hari aku pesen ojek online buat ke terminal Bungurasih. Jadi rute perjalanan kali ini adalah Rumah - Terminal Bungurasih - Terminal Semarang - Pos Pendakian Gunung Sumbing via Garung Reco Wonosobo.
Dalam perjalanan menuju Bungurasih, baru keinget nggak bawa obat-obatan sama sekali. Aku pesen deh ke abang ojeknya untuk disinggahin ke apotek yang sejalur ke arah Bungurasih. Daan terang aja nggak dapet apotek buka, masih jam 1 dini hari buk. Hew. Jadi akhirnya mampir ke minimarket yang buka, beli lah obat sekadarnya. Sekalian beli susu kental manis yang terlupa. Biasanya setiap naik gunung aku beli biskuit yang bisa bikin jadi macan itu (haha), tapi berhubung kutengok tas sepertinya sudah nggak muat lagi jadi cuma beli sosis sama indomie aja.
Hop, akhirnya tiba di terminal Bungurasih jam 01.40. Langsung jalan ke bus jurusan Surabaya - Semarang. Berhubung dini hari yang ready hanya bus ekonomi saja, so there's no other option. Dan bismillah jam 02.00 bus yang aku naiki perlahan berjalan meninggalkan Surabaya.
Dan berikut ini adalah komposisi yang aku bawa dalam solo trip kali ini:
Tas backpacker consina extrateresterrial 60L
3 botol air mineral 1,5 Liter
1 botol air mineral 650 ml
1 polybag + 3 kresek besar
Jaket outdoor polar + waterproof
Obat-obatan (obat pusing, maag, dan demam)
Logistik (Beras seperlunya, 3 bungkus ndomie goreng, sosis, 2 butir telur, kopi bubuk, teh celup, susu kental manis, gula, garam, minyak goreng, dan ransum susu padat kotak ala TNI 2 pack (bonus sewa tenda dan kompor))
Senter dan baterai cadangannya
Kaos tangan dan kaos kaki
Handphone + headset + charger
Cethok (untuk antisipasi membuat parit jika hujan)
Baselayer lengan panjang (dipakai)
The last but not the least, uang & cadangan di ATM secukupnya. (note: ini penting banget. haha)
Dan berakhirlah drama persiapan pendakian kali ini, and it’s time to expect the unexpected!
(p.s : hanya satu foto tersebut yang diambil di part ini, please wait for the next part)
~bersambung ke part selanjutnya...