Dianggap lucu pun bisa lucu. Sebegitu ngototnya aku ingin bahagia bersamamu.
Entah ini benar atau salah, ternyata menurut takdir: yang aku inginkan berbeda dari apa yang aku butuhkan.

tannertan36
Cosmic Funnies
Mike Driver
Sweet Seals For You, Always

titsay
Sade Olutola

oozey mess
wallacepolsom
ojovivo
The Bowery Presents
we're not kids anymore.

#extradirty
almost home
Show & Tell
art blog(derogatory)
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
YOU ARE THE REASON
Fai_Ryy
The Stonewall Inn

seen from Lithuania

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from Ecuador
@sofeeaazzahra-blog
Dianggap lucu pun bisa lucu. Sebegitu ngototnya aku ingin bahagia bersamamu.
Entah ini benar atau salah, ternyata menurut takdir: yang aku inginkan berbeda dari apa yang aku butuhkan.
Ketika hari-hari kamu cuman kepikiran tentang dia, mau ini kepikiran dia, mau itu kepikiran dia. Tandanya, kamu lagi dekat sama dia.
Tapi mungkin, kamu juga lagi jauh sama Allah. (via choqi-isyraqi)
Ah…
(via sundarirespati)
“You know what’s scary about Ramadan?”
“What?”
“Discovering that it’s actually yourself, not shaytaan.”
–Source unverified
Dikirimin "last leaf" waktu autumn tahun ini dari turki sebelum winter. Sometimes i will be here @azzahra71
Anak muda, Menikahlah sebelum mapan. Agar anak-anak Anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda. Agar anak-anak Anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Tuhan. Jangan sampai Anda meninggalkan anak-anak yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan.
Adriano Rusfi (lebih dikenal sebagai Bang Aad di lingkungan Masjid Salman ITB)
Euuuu… Saya pernah mendapat kisah dari Bang Aad langsung tentang bagaimana dulu beliau bertemu dengan istrinya. Kehidupannya di awal pernikahan hingga berbuat kemapanan seperti sekarang ini. Terus terang, dibutuhkan keberanian dan keyakinan penuh kepada Allah. Dan ini adalah bagian yang paling sulit. Yaitu, mempercayakan kehidupan kita kepada Allah. Kita percaya Dia ada. Tapi ragu-ragu untuk mempercayakan hidup kita, percaya kepada janji-Nya. Kata Bang Aad waktu itu yang intinya seperti ini,”Allah yang nyuruh kita nikah, Dia pasti akan menjamin segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Baik itu rejeki, dll”.
(via kurniawangunadi)
balqisbalqiiss
Tepat sekali. Karena dengan perjuangan itulah anak-anak akan semakin banyak belajar memaknai hidup yang sebenarnya. Kelak anak-anak yang sukses tergantung pula bagaimana didikan orang tuanya. Orang tua harus bisa menjadi role mode bagi anak-anaknya. Karena agar sepenuhnya bisa sampai titik kemapanan, seseorang tidak bisa melangkah sendirian. Dukungan suami, istri, anak-anak, dan orang tua akan membentuk kekuatan yang sempurna. Namun memang tidak akan bisa semua orang memiliki pemikiran yang sama akan hal ini. Untuk itu, niatkan menikah karena Allah, insya Allah lebih nikmat dan berkah dari apapun :)
Tiba-tiba teringat dengan salah seorang. Bukan salah lagi, tepatnya dengan seseorang. Seseorang yang Allah sudah pertemukan sejak beberapa minggu aku menginjakkan kaki di sebuah perguruan tinggi yang telah memilihku. Ia dengan keramahannya, kesederhanaannya, dan keunikannya, mampu membuat aku yang...
Subhanallah, jadi terharu banget baca tulisan ini qis.. aku juga rindu dia sahabatku :")
Inspirasi Arafah* by: Faris Jihady
Tiga Tahun sudah bermukim di negeri ini, tanah Nejd, 900 km arah barat tanah Hijaz dimana Haramain berada. Tiga kali pula berturut-turut saya melewati hari-hari utama Dzulhijjah ini di Tanah Suci, berkesempatan menunaikan panggilan Allah, bersimpuh di Arafah, beratapkan langit Muzdalifah, dan mencium tanah Mina, sambil tak lepas menengadah ke langit yang menaungi tanah suci itu.
Tahun ini saya menyengaja tak berangkat dengan berbagai alasan pribadi. Saya kira tak ada rasa apa pun tatkala melewati hari-hari ini. Namun tak menyangka saat puncak Haji tiba, Hari Arafah, memoriku melayang kembali saat-saat di hari yang sama 3 tahun terakhir. Bersama lautan manusia yang memutih ihram di bawah matahari yang menyengat, tatkala airmata menetes tak henti, dan lisan tak lekas kering memohon ampun. Kerinduan pada detik-detik itu membuncah. Iri kepada mereka yang sedang menikmati saat-saat terdekat mereka dengan Rabb, melepas segala status, kedudukan, dan pandangan manusia.
Satu hal yang mungkin luput ketika lewati hari ini 3 tahun terakhir, tak begitu nyata dalam benakku apa yang Rasulullah lakukan saat-saat beliau lewati hari ini, ketika jalani haji terakhirnya, Wada’. Hari yang beliau jamin sebagai hari doa terbaik; “sebaik-baik doa, adalah doa hari Arafah” [1]. kesamaran apa yang beliau lakukan dalam benak saya, boleh jadi karena saya tak begitu penasaran, atau mungkin merasa sudah cukup ilmu, merasa paham tatacara haji, astaghfirullah…
Ketika kerinduan muncul, justru inilah yang mendorongku membuka kembali referensi yang merekam ekspresi, tindak, dan laku manusia terbaik itu, shallallahu ‘alayhi wa sallam, saat beliau lewati hari ini, hari dimana Allah Azza wa Jalla membanggakan hamba2Nya yang berdoa kepadaNya di hadapan malaikat seraya berfirman, “Apa yang mereka minta?” [2] dan Allah Maha Tahu akan pinta hamba2Nya.
Perhatianku jatuh pada hadits yang ditutur oleh Jabir ibn Abdullah ra, tatkala ia ditanya bagaimana haji Rasulullah saw, ia bercerita sangat panjang, beberapa lembar Shahih Muslim dan Sunan Abi Daud merekam huruf-huruf tersebut. Aku tak begitu berani cantumkan semua disini, khawatir lancang karena tidak tepat mengantarkan makna yang ditutur oleh Jabir, sahabat agung itu, namun hanya beberapa pesan dan fragmen pada momen besar terakhir nabi, Haji Wada’ tatkala beliau menyampaikan khutbahnya yang terkenal itu, khutbah Wada’ di Arafah.
Kebanyakan sahabat saat itu belum memahami maksud dari istilah haji wada’, istilah itu memang sudah dikenal, namun mereka tak begitu paham apa yang dimaksud wada’ (perpisahan disini), ketika beliau wafat sadarlah mereka bahwa itu adalah pesan-pesan perpisahan nabi sebelum beliau wafat, sebagaimana dituturkan Ibn Umar ra dalam Shahih Bukhari.
Kira-kira menurutmu hal-hal apa yang akan menjadi pesan perpisahan manusia agung itu, shallallahu alayhi wasallam? Apakah ia akan mengucapkan selamat tinggal? Apa ia akan bicara tentang harta warisan layaknya manusia umumnya? Ataukah kekuasaan? Atau apa?
Mari kita tengok pesan pertama beliau dalam fragmen ini, tatkala Jabir ra bertutur; [3]
“ketika matahari mulai tergelincir (tengah hari), beliau menaiki Qashwa (untanya), mengendarainya hingga tiba di tengah lembah, kemudian bertahmid dan memuji Allah dan memulai khutbahnya; “sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan haram ini, di tanah haram ini”.
Allah menggerakkan lisan nabiNya untuk menyampaikan awal dari pesan terakhirnya, tentang keharaman dan kesucian harta dan darah muslim, sesuci dan seharam hari itu, bulan itu dan tanah haram itu. Betapa dalam dan kuat pesan ini, menyetarakan keharaman darah dan harta dengan haramnya waktu dan tanah haram itu. Dengan kata lain, penumpahan darah dan perampasan harta muslim, setara dengan penistaan terhadap kesucian waktu dan tanah haram. Betapa kuat pesan ini, dan betapa jauhnya kita –saat ini- melanggar pesan ini. Darah tumpah begitu murah, harta terampas begitu mudah. Hari-hari kita nyaris akrab dengan pembantaian di sana dan di sini. Ya Allah.. pesan pertama perpisahan beliau, justru menjadi hal yang paling sering terlanggar.. Beliau, manusia agung itu tak berbicara tentang pribadinya, tapi berbicara tentang kita; ummatnya. Pesan penting yang mengekspresikan kekhawatiran tentang generasi berikut…
Pesan tersebut beliau kuatkan dalam tutur berikutnya;
“…ketahuilah bahwa segala sesuatu dari masa jahiliyyah adalah batal di bawah kakiku ini, penuntutan darah era jahiliyyah batal…”
Sebagian sahabat menafsirkan maksud beliau saw, “dahulu tatkala beliau disusui di Bani Sa’ad, mereka diperangi oleh Bani Hudzail”. Beliau membatalkan segala apa yang menjadi kesepakatan terkait darah pada era jahiliyyah, demi kedamaian generasi masa depan. Saya –kalau boleh lancang menyimpulkan- perilaku jahiliyah tak terbatas oleh waktu saja, namun ketika darah muslim tertumpah dan harta masih terampas, maka sifat jahiliyyah masih ada.
Berikutnya, beliau berpesan;
“…Riba Jahiliyyah batal (haram) hukumnya”
mungkin bagi sementara orang agak aneh, nampak sekilas tak cocok dengan situasi kesakralan Arafah, beliau pesan tentang hubungan ekonomi antarmanusia pada pesan perpisahannya.
Penyebutan keharaman Riba bukanlah pertama kalinya semata dalam peristiwa ini, namun sudah ada ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menegaskan keharaman Riba sebelummya, namun beliau tegaskan lagi dalam pesan-pesan perpisahannya. Apa gerangan alasan penegasan lagi dalam pesan haji, khutbah wada’ ini? Boleh jadi –wallahu a’lam- lagi-lagi karena ini pesan terakhir, perhatian nabi terhadap berbagai aspek kehidupan muslimin pasca beliau pergi, tak semata soal ‘ubudiyah (penghambaan) kepada Allah semata, namun juga soal hubungan sosial sebagaimana tersebut pada pesan pertama, dan hubungan ekonomi antarmanusia secara adil, sebagaimana disiratkan pesan terkait Riba ini.
Selanjutnya, pesan beliau,
“…takutlah kepada Allah dalam urusan wanita (isteri2), sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan mereka dengan kalimat Allah..”
Anda, saya, dan kita semua bisa memahami pentingnya pesan ini, tentang rumah tangga. Ah, mungkin saya –practically- belum begitu paham karena belum mengalaminya, namun saya pikir kesimpulan saya tentang pentingnya berpandai-pandai bermuamalah dengan isteri sesuai kewajiban dan hak yang ditetapkan syariat, tak berbeda dengan saudara-saudara saya yang sudah berumahtangga. Bagi para isteri, anda sangat spesial, karena anda disebut-sebut dalam pesan perpisahan nabi dihadapan –dalam sebuah riwayat- 10 ribu sahabatnya.
Rangkaian pesan-pesan perpisahan tersebut ditutup dengan fragmen berikut,
“…sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang kalian takkan pernah tersesat selama kalian memegangnya erat; Kitabullah. Dan kalian kelak akan ditanyai tentangku, kalian akan berkata apa tentangku?”
Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau –Ya Rasulallah- telah menyampaikan, melaksanakan, dan menasehati”.
Apa respon beliau? Beliau mengangkat telunjuknya ke langit seraya berkata;
“Allahumma Isyhad… Ya Allah saksikanlah
Allahumma Isyhad… Ya Allah saksikanlah
Allahumma Isyhad… Ya Allah saksikanlah”
Fragmen dialog ini -menurutku- mengharubiru, semestinya membuat menangis, atau minimal terharu bagi siapa saja yang membaca dan mengimajinasinya. Siapa yang ragukan kejujuran dan ketulusan nabi, shalllallahu alayhi wa sallam dalam dakwah setelah sekian lama? Namun beliau masih menanyai pengikutnya. Ya Allah..
Ada yang ragukan ketulusan para sahabat dalam ber-ittiba’ ? siapa di antara kita yang pernah mengulang kata-kata para sahabat ini; “Kami bersaksi bahwa engkau –Ya Rasulallah- telah menyampaikan, melaksanakan, dan menasehati” . kita justru sering beralasan, “saya belum tahu”, “saya belum siap”, pada hal-hal sederhana yang menjadi kewajiban tiap muslim. Kesempurnaan agama telah ditegaskan Allah dalam QS Al-Maidah ayat 3, yang bermakna telah selesainya tugas nabi dalam membimbing, menjelaskan dan mengarahkan.
“Allahuma Isyhad…” beliau ucapkan tiga kali berturut-turut di hari Wada’ (perpisahannya), mengekspresikan kuatnya ketulusan dalam menyampaikan dakwah dan membimbing manusia, serta paripurnanya tugas beliau tak lama lagi. Adakah di antara kita –khususnya para penyampai kebaikan- menegaskan ketulusan jiwa dengan kata tersebut; “ya Allah saksikanlah” ?
Selepas khutbah bersejarah, didirikanlah shalat zhuhur dan ashar dengan dua iqamah berturut-turut, kemudian –cerita Jabir,
“…, kemudian berdoa dengan berdiri sekian lamanya hingga terbenam matahari”.
Ya, anda garisbawahi, beliau berdoa sangat panjang, selepas zuhur dan asar yang ditunaikan di waktu zuhur, beliau berdoa, dalam keadaan berdiri. Sampai kapan? Hingga terbenam matahari.
Semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada beliau, keluarganya, dan pengikutnya hingga akhir masa, Allahuma shallii wa sallim wa baarik ‘alaihi..
Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar
La Ilaaha illa Allahu huwa Allahu Akbar
Riyadh, sore 9 Dzulhijjah 1434H
___________________________________________________________________________
*catatan ini hanya renungan ringan, menggali inspirasi dari pesan-pesan nabi di hari Arafah, tidak menggambarkan semua apa yang diriwayatkan terkait peristiwa Wada’.
[1] Hadits Hasan diriwayatkan Imam AtTirmidzi
[2] Hadits Shahih diriwayatkan Imam Muslim, dan Nasa’i
[3] Kisah Haji Wada’ diceritakan panjang lebar dalam hadits Jabir ibn Abdullah yang tercantum dalam Shahih Muslim no 1218, dan Sunan Abi Daud, Kitabul Manasik, bab Shifat Haji Nabi, no 1905
http://faris-jihady.blogspot.com/2013/10/inspirasi-arafah.html
"...intisari dari seluruh pengalaman dalam (tema) cinta adalah; kau tak mencintai ketika memilih, dan kau tak memilih ketika mencintai. kita (mengalir) bersama Qadha dan Qadar ketika; dilahirkan, mencintai, dan mati" [Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filosof dan Sastrawan Mesir]
Wahai imamku.. Ajarilah aku untuk mengenyam manisnya kesabaran, indahnya qanaah, dan nikmatnya bersyukur. Ajarilah aku merasakan sejuknya ibadah dan mulianya ketaatan.. Semoga Allah senantiasa mengganti kesabaranmu membimbingku dengan kehidupan yang lebih barakah, akhir yang husnul khaatimah, dan mempertemukan kita kembali di surga yang seluas langit dan bumi, yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.. Aaminn ya Rabbal alamiinn..
(via balqisbalqiiss):")
Seseorang hadir di hidupmu, karena sebuah alasan, dia datang menawarkan kebahagiaan dan juga kekecewaan.. Kadang, ada yang hanya datang menyapa saja, tetapi ada pula yang sudah jauh melangkah.. Mereka datang silih berganti meninggalkan kenangan yang terkadang perih.. Namun, percayalah, akan ada seseorang yang datang dan menetap sepanjang masa hidupmu.. ALLAH sengaja membiarkanmu bertemu dengan beberapa orang yang salah, sebelum akhirnya mempertemukanmu dengan orang yang tepat agar kamu bisa mensyukuri karunia-NYA dan bisa belajar dengan semua kesalahanmu.. Jangan pernah menganggap sakit hatimu sebagai cara untuk menjauhi indahnya hidup.. Tapi jadikanlah sakit hatimu sebagai pelajaran yang sangat berharga dalam hidupmu.. Yakinlah ALLAH telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu..
#share
Jodoh terbaik pilihan Allah itu pencariannya berat. Namun pd akhirnya nanti, tetap akan ditemukan pada titik itu kembali :")
(via balqisbalqiiss)
Welcome July, the month of forgiveness, Ramadhan :)
Ust. Hilman Rosyad Persiapan Bulan Ramadhan
Puasa bisa dibilang ga penting krn: 1. Ga ada aktivitas»» apa bener ga ada aktivitas? 2. Ga ada pahalanya utk kita. Seperti hadist qudsi yg isinya -> Setiap ibadah yg dilakukan oleh bani adam itu utk dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu utk...
Marhaban Ya ramadhan
Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca? Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan...
Ah,itulah bedanya engkau.. Kau dapati kebaikan pada diriku,lalu kau berdoa agar aku segera dipertemukan dengan pasangan hidup terbaikku. Sedang aku, mendapati kebaikan pada dirimu,lalu aku berdoa “ya Allah, aku ‘minta’ yang itu.” Tapi semoga memang inilah pengabulan Allah atas doa masing-masing kita…
Gantungan flash disk #JHU :)
Allahumma asaluka ridhoka wal jannah wa naudzubika fi naar. Allahumma ja'alnaa lisan nurro, wa tsumma ja'alna bashar nurro, wa tsumma ja'alna sam'ii nurro. "Ya Allah kami mohon kehadirat-Mu dan Surga-Mu dan kami berlindung dari siksa api neraka. Ya Allah jadikanlah lisan kami bercahaya, Ya Allah jadikanlah penglihatan kami bercahaya. Ya Allah jadikanlah pendengaran kami bercahaya"
Doa Umar bin Khattab untuk Keluarga dan Sahabatnya