Dalam setiap langkahku, selalu terbayang rasa bersalahku terhadap kematian ibuku. Demi melahirkanku, ibu rela menghembuskan nafas terakhirnya. Hal itu pula yang menyebabkan ayah membenci diriku karena menganggap dirikulah yang telah merenggut nyawa wanita yang dikasihinya. Sejak aku mengetahui anggapan ayah seperti itu, aku bertekad menjadi seorang bidan supaya dapat membantu dan menyelamatkan para ibu untuk melahirkan serta menebus rasa bersalahku. Tetapi ayah tetap tidak menghargainya.
“Bukan begitu, yah. Aku hanya ingin orang lain tidak merasakan apa yang kita rasakan,” elakku.
“Terserah apa maumu,” jawab ayahku dan berlalu meninggalkanku.
Mendengar perkataan ayahku, hatiku menjadi goyah untuk melanjutkan akademikku. Aku berniat meminta nasihat sahabatku, Mona.
“Aku harus bagaimana, Mon?”
“Bukannya aku ingin kamu menentang ayahmu, tapi yakinilah apa yang menjadi tujuanmu.”
“Terima kasih atas nasihatmu. Kamu memang sahabat terbaikku.”
Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu tiba. Dimana aku lulus dari akademik bidan Semarang dengan nilai baik. Tapi satu hal yang kurang di hari indah itu adalah aku tak melihat sosok ayah di aula akademik untuk mengucapkan selamat atas kelulusanku. Ayah lebih mementingkan pekerjaannya di luar kota. Untuk mengobati rasa sedihku, aku memutuskan untuk mendatangi makam ibu. Disanalah kutuangkan semua kegundahan hatiku.
“Ibu, di hari yang indah ini aku ingin berkumpul bersama ayah dan ibu untuk merayakan keberhasilanku. Tapi, aku hanya sendiri. Walau aku belum pernah bertemu ibu, aku yakin ibu adalah seorang ibu yang menyayangi anaknya hingga rela mengorbankan nyawa ibu untuk melahirkanku. Maafkan aku ibu......,” kataku lirih hingga membuat air mataku menetes membasahi batu nisan ibuku.
Setelah perasaanku lega, aku segera pulang kerumah. Saat aku masuk rumah tak kulihat sosok ayah, ayah pasti belum pulang pikirku. Tapi saat menuju kamar kulihat ayah tertidur di sofa ruang keluarga dengan televisi menyala. Kuhampiri ayah, nampak beberapa kerutan dan kesedihan di wajahnya. Terlihat sebuah boneka dalam dekapannya, tak sengaja kutemukan sepucuk surat. Saat kubaca surat itu, betapa kagetnya diriku membaca isinya. Tak kusangka dibalik kebenciannya yang mendalam tersembunyi kasih sayang untukku. Mungkin ayah belum siap untuk mencurahkan kasih sayangnya karena masih teringat kematian ibu, yang baginya merupakan pukulan berat.
Beberapa bulan setelah magang, akhirnya aku resmi menjadi bidan di rumah sakit swasta “Sehati”. Mona pula yang membantuku untuk mendapatkan pekerjaan di sana. Hari-hari kujalani dengan memeriksa ibu hamil dan membantu persalinan. Hingga aku menemui kesulitan ketika pasienku, seorang ibu muda mengalami kesulitan dalam melahirkan anaknya. Ia terus meronta kesakitan karena kontraksi yang hebat tapi saat kulihat keadaannya tak ada tanda-tanda akan melahirkan. Tiba-tiba terlintas sosok ibu dalam pikiranku. Aku tidak ingin apa yang terjadi pada ibuku terjadi pada pasienku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bingung. Takut. Susterpun menggeleng tanda tak tahu. Segera kutelepon ayah, berharap ayah akan memberiku suatu semangat untuk menghadapi semua ini.
“Halo....ayah, aku tidak peduli ayah membenciku atau tidak. Aku hanya ingin ayah membantuku dalam menghadapi masalahku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan pada pasienku. Ia terus meronta kesakitan. Aku takut apa yang terjadi pada ibu terjadi pada pasienku. Tolong aku ayah.....,” ujarku tanpa henti yang diselimuti ketakutan.
Diam sejenak, tak kudengar suara ayah.
“Halo...” sahutku.
“Halo, ayah disini. Sebelumnya ayah minta maaf karena selalu membencimu tapi dalam hati yang paling dalam ayah menyayangimu. Maafkan ayah...” pintanya
“Iya, ayah.....aku tahu,” jawabku dalam haru.
“Ayah yakin padamu, kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Berpikirlah dengan tenang, lakukan sesuai prosedur yang telah kamu pelajari,” nasihat ayah.
Aku berpikir sejenak, “Aku tahu apa yang harus kulakukan, terima kasih ayah,” pintaku dan segera kuakhiri percakapan kami.
Kemudian kulihat keadaan pasienku kembali ternyata air ketubannya sudah pecah. Segera kuputuskan untuk melakukan operasi.
“Suster, segera siapkan segala keperluan operasi,” kataku.
“Baik,” jawabnya.
Setelah satu jam melakukan operasi akhirnya anak laki-laki pasienku lahir dengan selamat begitu pula dengan ibunya. Betapa bahagianya diriku bisa menyalamatkan keduanya. Keluar dari ruang operasi segera kuberitahukan keadaan ibu dan anak itu kepada keluarganya. Nampak ayah berdiri disamping kursi, segera kuhampiri dirinya. Ayah memandangku penuh sayang. Segara ayah memelukku dengan erat.
“Aku berhasil ayah,” kataku membuka percakapan.
“Ayah tahu, kamu pasti bisa. Maafkan sikap ayah selama ini. Ayah tidk bermaksud membencimu, hanya saja ayah terlalu tenggelam dalam kesedihan karena kehilanggan ibumu,” pintanya.
“Aku tahu, maafkan aku juga atas kematian ibu,” pintaku lirih.
“Bukan kesalahanmu, itu adalah takdir dari Allah, yang terpenting sekarang kamu dapat membantu dan menyelamatkan para ibu yang lain,” nasihat ayah.
“Untuk merayakan kebersamaan kita, mari kita pergi ke makam ibu,” ajakku.
Dimakam ibu, kami berdua asyik bercanda, bercerita dan berfoto bersama disamping nisan ibu. Walaupun ibu telah tiada, tapi aku tahu ibu pasti bahagia melihat kami berdua rukun. Ibu, engkau akan selalu dihatiku dan dihati ayah. Aku menyayangi kalian berdua, ayah...ibu.