Berbagi Cerita : 2017 (Fase 2)
Syarifa Nurdina– SMA Berbeda Propinsi
SMAN 71 Duren Sawit, merupakan salah satu sekolah favorit di daerah Jakarta Timur. Di tempat inilah Syarifa menghabiskan masa putih abu-abu nya. Walau tak begitu jauh dari rumahnya, hanya berjarak sekitar 7-8 kilo, namun untuk menuju ke sekolah Syarifa banyak melewati titik-titik macet, sehingga agar tidak terlambat saat berangkat sekolah dia ikut bersama orang tuanya yang kebetulan melewati arah yang sama.
Lingkungan sekitar sekolahnya sangatlah bersih dan hijau. Bangku depan kelas merupakan salah satu spot tempat favoritnya. Namun meskipun memiliki lingkungan yang nyaman, menurutnya lingkungan pergaulan di sekolahnya agak sedikit menyeramkan karena beberapa alasan tersendiri.
Selama SMA, Syarifa tidak mengikuti kegiatan ataupun organisasi tertentu. Dia mengaku dirinya tergolong ‘sepu-sepu’’, sekolah-pulang, sekolah-pulang. Walaupun begitu, tetap saja ada banyak hal yang membuat Syarifa merindukan sekolahnya tersebut. “Kebandelan anak-anaknya yang bikin kangen, dan sekarang kangen banget sama sekolah dan kangen bisa nawar-nawar tugas sama guru. Kangen NGGAK NGERJAIN TUGAS SEKELAS”
Jeremy Bagas – Tertarik Pada Peminatan Sama
“Sebenarnya aku baru minat dengan Public Relation semenjak disosialisasikan di comspire”, kata cowok berkaca mata ini saat bertemu di MBRC. Comspire, adalah kegiatan ospek jurusan ilmu komunikasi, dimana dalam salah satu rangkaian kegiatannya menampilkan kakak-kakak tingkat yang menjelaskan tentang peminatan-peminatan yang bisa dipilih, salah satunya adalah peminatan Public Relation atau humas. Jeremy merasa apa yang PR lakukan itu benar-benar ‘mirip’ dengan alasannya masuk jurusan ilmu komunikasi, “dan.dari situ juga aku melihat sosok PR itu keren, sebagai pihak yang megang citra suatu instansi dan pastinya khas anak komunikasi banget tuh.”
Jeremy menyadari ketatnya persaingan terutama buat PR cowok, “Tapi dari situ aku pinter-pinter nyari peluang, nyari link, (dari sekarang), dan benar-benar manfaatin waktu kuliah buat ngembangin diri supaya punya nilai lebih dibanding PR cewek. Kalau bisa aku pengen jadi kepala PR.”
Naomi Julita– Menyukai Genre Film yang Sama (Science-fiction)
Menurut Naomi, hal yang membuatnya menyukai film bergenre science-fiction adalah karena film tersebut dapat membuatnya bermain dengan imajinasi. Namun, meskipun menyukainya, ia tidak selalu memaksakan diri untuk menonton. “Kadang kalau science-nya terlalu tinggi, imajinasi gua kurang nyampe dan yang ada gua malah mikir keras pas nonton film itu bukan menikmati,” ujarnya.
Serial Doraemon menjadi salah satu favoritnya karena ia anggap paling ringan dan juga paling imajinatif dengan alat-alat sains yang dimiliki sang tokoh utama, Doraemon.
Untuk film baru, biasanya Naomi menonton di bioskop bersama keluarga atau temannya, namun kalau tidak yakin filmnya akan bagus, ia hanya akan menontonnya via online streaming melalui movie site yang tersedia karena merasa sayang untuk membeli tiket. “Terus kalo doraemon gitu nontonnya di youtube aja”.
Jihan Salsabila – Pernah Mengikuti Lomba yang Sama
Sejak awal Jihan memang menyukai bahasa Inggris. Walaupun begitu, ia tidak tahu bagaimana ia bisa terpilih untuk mengikuti lomba speech. Semasa sekolah , kepercayaan diri dan keberaniannya untuk menjawab pertanyaan dan memberi opinilah yang membuatnya stand out di kelas bahasa inggris dan kemungkinan besar menjadi alasan dirinya terpilih untuk mengikuti lomba.
Jihan bisa dibilang telah cukup sering mengikuti lomba-lomba berbahasa Inggris. Ia pernah mengikuti lomba spelling bee, debate, speech, dan story telling .Tidak ada hal apapun yang mendorongnya untuk mengikuti speech contest, karena sejujurnya ia tidak begitu menyukai speech.
Persiapan- persiapan yang dilakukannya sebelum lomba speech adalah dengan mencari materi, melakukan riset, berlatih, dan menghafalkan. Dalam mencari bahan atau materi, ia terlebih dahulu mencari tema apa yang sesuai untuk dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, baru kemudian melakukan riset kecil-kecilan ke inner-groupnya. Ketika tiba saatnya membawakan speech , yang ia rasakan tak lain adalah rasa ‘degdegan’.
Sylvia Gusnanda – Lulus Sebelum Tahun 2017
Mahasiswi yang akrab dipanggil Isyl ini lulus dari SMAN 2 Padang pada tahun 2016. Setelah lulus, ia tidak melanjutkan kuliah karena menurutnya belum rejeki untuk keterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Walau tidak kuliah, waktu satu tahun tersebut tidak ia lewatkan begitu saja, Ia mengisi waktu tersebut dengan beragam kegiatan yang bermanfaat yakni dengan membuka rumah belajar dan berjualan.
Tekad Isyl untuk berkuliah di PTN pada akhirnya tercapai di tahun 2017 ini, dirinya sukses mengalahkan banyak pesaing dan berhasil menjadi bagian dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia angkatan 2017.