(Reel Video)
“Menua” adalah keadaan di mana salah dan benar tumbuh bersama, tanpa menuntut masa lalu dan masa depan. Cukup sehat dan bahagia serta ketenangan yang abadi.
will byers stan first human second

blake kathryn
he wasn't even looking at me and he found me
styofa doing anything
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
One Nice Bug Per Day
Jules of Nature

ellievsbear

JBB: An Artblog!

No title available
Game of Thrones Daily
AnasAbdin

Kaledo Art

Kiana Khansmith
Claire Keane
occasionally subtle
todays bird
taylor price

Andulka
dirt enthusiast

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Egypt

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Romania
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
@sudahsore
(Reel Video)
“Menua” adalah keadaan di mana salah dan benar tumbuh bersama, tanpa menuntut masa lalu dan masa depan. Cukup sehat dan bahagia serta ketenangan yang abadi.
(Photo Essay)
Essay
This morning around 06.30 WIB I left the house to look for photo objects. I decided to stop at a terminal. Nearby there are two men who are waiting for passengers to be put on their becak. I approached them to ask permission to take their photos. The other father said this "Oh, yes, yes, you can." Meanwhile, the other one sternly replied, "Is there food allowance or not?" Duh, I was confused, so I just said thank you and left the gentlemen. During the pandemic the economy was chaotic, especially laborers and private workers. Seeing this reaction I quite understand it. The terminal atmosphere this morning was so quiet, only one or two buses and public transport that were dating sili changed. The passengers are only a handful. You cannot imagine how tormented they are, especially those who are in debt. At the end there I saw men selling tape, maybe they took public transportation to get to the market and then went around selling. Not being able to show it all day, the tour is definitely tired and the results are not bad, but I salute their enthusiasm. They stay happy in their own way. Next I stopped by at the mosque and the main square where a homeless person was fast asleep and an old man who was sitting on his knees in the square. Their appearance is shabby like they have not showered for several days. They survive alone, even though life on the streets is so bitter. On my trip to the market, many porters and mothers selling were waiting for buyers. Even though there is no price for vegetables, the farmers also suffer losses. However, many are still haggling. A kilo of chilies at a cheap price is still being negotiated until it's stuck, usually mothers like this. Their income is not at all, let's buy with sincerity. Helping each other will improve the economy of the lower middle class during a pandemic.
(Personal Essay)
Terdapat kisah yang dimulai dengan penuh bahagia, namun justru berakhir duka. Walaupun tidak semua kisah berjalan demikian, beruntunglah kalian. Sayang, ini harus dialami oleh salah seorang perempuan.
Eka, merupakan perempuan yang sangat biasa, tidak banyak bicara, dan overthinking. Eka merupakan mahasiswa di Surakarta, dikarenakan jarak kampus dan rumah jauh, Eka memilih untuk tinggal di indekos dekat kampus. Pada awal 2020, Eka bertemu Dion melalui sebuah aplikasi dating app. Kemudian mereka bertemu pada malam hari, untuk menikmati makanan dan saling bercerita untuk mengenal satu sama lain. Eka merupakan perempuan berusia 20 tahun, sedangkan Dion 27 tahun. Meski terpaut cukup jauh, pembicaraan mereka cukup nyambung. Tidak ada yang dapat Eka simpulkan dari Dion kecuali pekerjaan dan umur, sisanya pembicaraan klasik. Eka bilang pada Dion bahwa besok adalah jadwalnya pulang ke Rumah, Purwokerto. Tanpa basa-basi lagi Dion mengatakan dia siap mengantarnya.
Esoknya, mereka berangkat dari Surakarta ke Purwokerto. Selama perjalanan, mereka berbicara, semalam agak canggung namun kali ini lebih santai. Selama perjalanan, Eka memandangi Dion yang sedang menyetir, Dion begitu tampan di mata Eka. Menurutnya, wajahnya seperti kucing, mata dan bibirnya mirip kucing, hidungnya mancung. Dion juga cukup tinggi, setidaknya melebihi tinggi Eka, karena untuk kategori perempuan Eka cukup tinggi yaitu sekitar 165 cm. Sepertinya Eka sudah tertarik dengan Dion sejak pertama kali bertemu. Salah satunya adalah bagaimana caranya bicara dan menerangkan sesuatu, terdengar manis dan melegakan. Sesampainya di rumah Eka, Dion bertemu keluarga Eka, termasuk neneknya. Kami makan malam, setelah itu Dion kembali pulang ke Srakarta.
Setelah pertemuan kedua, selama di rumah Eka masih berkomunikasi dengan Dion. Dapat disimpulkan bahwa mereka sama-sama tertarik. Jika tidak, mereka berhenti di pertemuan satu, atau dua. Eka sangat bahagia dan menanti pertemuan selanjutnya. Dua minggu kemudian, Dion menjemput Eka dan mengajaknya ke The Royal Surakarta Heritage. Mereka makan malam dan menunggu pagi dengan tenang. Malam itu Dion mengatakan kepada Eka “Kamu akan menjadi yang terakhir.” Hubungan keduanya berlanjut dan berjalan dengan lancer, bahkan Eka dua kali diajak ke rumah keluarga Dion dan bertemu ayahnya. Beliau bahkan mengizinkan jika kami berdua segera menikah. Namun dengan beberapa pertimbangan seperti kuliah dan finansial, kami tidak jadi menikah. Hubungan kami tetap berjalan seperti biasa.
Sampai pada suatu ketika, dunia diuji dengan hadirnya virus covid. Dengan adanya wabah tersebut semua sekolah dan perguruan tinggi ditutup. Mahasiswa juga terpaksa pulang ke rumah dan mengosongkan indekos karena tidak ada yang tahu kapan dunia akan pulih. Termsuk Eka, ia pulang ke Purwokerto dan menjalani LDR dengan kekasihnya, Dion. Eka sempat menangis dan memeluk Dion sebelum pulang ke rumah, karena Eka tahu terpaut jarak tidaklah mudah.
Pada awal mereka menjalani LDR, komunikasi lancer, Dion selalu menyempatkan waktu untuk menelpon Eka setidaknya sekali sehari. Hari demi hari berganti, ada perasaan yang janggal di benak Eka. Belakangan Dion sering marah-marah apabila dihubungi, baik chat maupun telepon. Tidak hanya sekali dua kali, tapi setiap hari. Percakapan ditelpon juga tidak sedamai dahulu, sekarang lebih banyak marahnya. Pertama-tama Eka memaklumi mungkin Dion lelah dengan pekerjaan dan hari yang panjang. Namun karena berminggu-minggu masih tidak berubah, Eka tidak tahan lagi dan menanyakan keadaan kepada Dion, “Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” namun Dion menjawab tidak ada kendala, semua baik-baik saja.
Hingga suatu ketika, Eka melakukan video call kepada Dion, tapi bukan Dion yang dilihat di sana, tetapi perempuan menggunakan jibab dan masker, di belakangnya background bengkel, mungkin mobil Dion sedang diperbaiki. Eka terkejut dan Tanya “Kamu siapa ya, Dion mana, aku mau ngomong sama dia.” Dia bertanya kembali “Loh kamu siapa?” Eka menimpali “Aku pacarnya mba, kasih hpnya ke Dion!” Tidak lama Dion menghampiri perempuan tersebut dan mengambil telpon genggam miliknya dan telponnya dimatikan. Dion tidak bias dihubungi seharian. Eka yang mengetahui keadaan tersebut sontak menangis karena dia yakin firasatnya benar.
Sore harinya, terdapat telpon dari nomor telepon asing yang masuk ke hp Eka. Sedikit mengernyitkan dahi sebentar, Eka mengangkat telpon tersebut, terdengar suara perempuan di ujung sana. Dia adalah Vika, perempuan yang mengangkat videocall dari hp Dion siang tadi. Kami berkenalan dan menceritakan keadaan masing-masing. Eka mengatakan sudah menjalin asmara dengan Dion selama 9 bulan, sementara Vika mengatakan juga berhubungan Asmara dengan Dion selama 3 bulan. Eka hampir menangis namun air matanya ia bending, hampir tidak bias mempercayainya, namun firasat selama ini benar. Setelah mereka berbicara di telpon cukup panjang, Eka menyarankan untuk membahas ini bertiga.
Malam harinya, Vika menelpon Eka. Terdengar suara Dion dengan jelas yang sedang menjelaskan semuanya pada Vika, Dion tidak tahu bahwa percakapannya dengan Vika sedang didengar oleh Eka. Pernyataan paling menyakitkan adalah Dion mengatakan bahwa Eka perempuan tidak jelas yang mengejar-ngejarnya. Sampai akhirnya Vika menangis dan Eka mulai berbicara “Jangan nangis Vik, karena kalian udan sama-sama aku lepasin Dion. Aku udah nggak ada urusan lagi sama kamu dan Dion.” Namun Vika masih saja menangis, Dion yang mendengar suara Eka terkejut dan bilang “Kalian itu nggaktahu, blablabla. Wes aku rak milih sopo-sopo. Tak kerjo sik.” Panggilannya terputus, mungkin dimatikan Dion.
Eka kaget dan tidak percaya, namun kembali lagi nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan yang dijanjikan hanya bualan semu, dan tidak akan menjadi nyata. Hubungan yang sudah dijalani dengan sepenuh hati justru menyayat hati. Meski berat, Eka mencoba ikhlas. Luka akan sembuh dengan sendirinya seiring hari berganti.
Beberapa kemudian, Eka mendengar kabar mereka menikah. Beruntung, walaupun sakit kadang masih dirasa, Eka sudah bisa tersenyum dan ikhlas mendengar kabar bahagia mereka. Meskipun Dion tidak mau mengakui dia telah menikah, Eka tidak peduli. Kesalahan ada untuk dihindari, bukan diulang lagi.
(Desain Project) “Nobody’s Perfect”
(Blog) How to Deal With Yourself
sc: pinterest
Selamat pagi, siang, sore, malam untuk readers. Ada yang ingin saya sampaikan terkait “How to Deal With Yourself.”
Jangan lupa siapkan kopi untuk dinikmati, readers.
Check This Out…
(Sucipto, 2012) states that “There are other impacts of bullying that are less visible but have longterm effects, namely decreased psychological well-being (Physcological well-Being) and poor social adjustment.”
(Sucipto, 2012) menyatakan bahwa ”Terdapat dampak lain dari bullying yang kurang terlihat tetapi memiliki efek jangka panjang, yaitu penurunan kesejahteraan psikologis (Physcological well-Being) dan penyesuaian sosial yang buruk.”
Semenjak sosial media berkembang pesat, contohnya pada salah satu platform yaitu instagram, ribuan informasi baru dapat diakses setiap harinya. Tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, namun pengguna juga dapat membagikan informasi. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Hootsuite, di tahun 2020 mencapai 63 miliar pengguna. Semakin banyak pengguna, semakin variatif informasi yang diperoleh.
Baru-baru ini, trend Glow Up sangat popoler. Di mana isi dari konten tersebut adalah perubahan fisik dari kulit hitam ke putih. Saya sebagai pengguna instagram melihat postingan tersebut cukup prihatin. Karena anggapan “Putih itu Cantik” masih sangat melekat bahkan di era yang sudah sangat maju seperti sekarang. Terutama para wanita, mereka rela menghabiskan banyak uang untuk perawatan tubuh demi kulit terlihat putih salah satunya dengan suntik putih. Banyak wanita yang melakukannya karena terkenal instan memutihkan kulit.
Saya sendiri pernah memiliki satu pengalaman terkait hal tersebut. Suatu waktu saya dating ke klinik kecantikan untuk konsultasi dan mengobati jerawat. Sengaja saya lakukan itu karena jerawat di wajah saya bukan jerawat normal, taetapi sangat banyak dan terlihat jelas. Di sana saya melihat receptionist dan staff yang rata-rata dari mereka melakukan suntik putih. Mengapa saya dapat mengetahuinya? Terdapat perbedaan signifikn dari putih alami dan suntik putih. Jika putih alami, di dalam ruangan yang menggunakan lampu putih maupun kuning, bahkan ruang gelap sekalipun kulit tetap bersih dan mulus. Namun apabila suntik putih, ketika di lampu putih dan ruangan gelap, terdapat bekas-bekas agak hitam ditubuhnya terutama siku, lutut, dan jari. Suntik putih mengandung Vitamin C, Kolagen, dan Glutathione. Namun, disamping manfaatnya untuk memutihkan kulit, suntik putih juga memiliki efek samping, diantaranya:
1. Menurunkan tingkat zinc atau seng dalam tubuh
2. Ruam, gatal, kemerahan pada kulit jika terjadi reaksi alergi
3. Perubahan fungsi pada tiroid yang memicu hipertiroidisme atau hipotiroidisme
4. Mengganggu fungsi ginjal dan meningkatkan risiko gagal ginjal
5. Sakit perut, mual, dan diare jika dosis tak sesuai
Ternyata efek samping dari suntik putih cukup banyak. Meski demikian, wanita masih melakukannya demi Glow Up dan terlihat cantik menurut perspektif seseorang. Solusinya adalah berdamai dengan diri sendiri dengan beberapa cara:
1. Cintai Tubuhmu
Terdapat beragam bentuk tubuh, besar, kecil, tinggi, pendek, kurus, dan gemuk. Tidak ada berat badan standar. Semua orang dapat menciptakan standar sendiri, dengan catatan tidak mengganggu kesehatan.
2. Buat Standar Kecantikan Sendiri
Terdapat beragam bentuk wajah beserta komponennya yang tentunya masing-masing orang tidak sama. Sosial media sering menciptakan beauty standart. Di antaranya kulit eksotis di negara bagian barat dianggap cantik, namun di Indonesia dianggap tidak cantik. Sebaliknya, kulit putih di Indonesia dipuja-puja, di sana dianggap biasa saja. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki dan selalu ingin memiliki hal lain yang tidak mereka miliki. Bangun pikiran sehat dan ciptakan standar kecantikan sendiri agar tidak masuk dalam pikiran tidak sehat.
Thankyou sudah sempatkan membaca tulisan receh ini, readers.
Berbahagialah, rememeber that “Beauty is Yourself.”