Gadis itu bergegas memasuki ruang pameran, sambil mencari sosok yang menjadi tujuannya berada di tempat yang dipenuhi dengan karya seni lukis itu. Tidak butuh waktu lama, ia akhirnya menemukan sosok yang ia cari sedang berdiri di depan karya seninya. Ia lalu mempercepat langkahnya.
"Wah, konsep kamu emang kayak gini?" tidak lekas menyapa, gadis itu malah terpesona dengan karya seni dihadapannya.
"Eh, kamu udah sampai? kok ngga ngabarin?" si empunya karya malah mengabaikan pertanyaan sang gadis dan malah berbalik bertanya.
"Baru aja, aku langsung nyari instalasi kamu, ngga sempat ngabarin soalnya aku takut pamerannya keburu selesai, aku telat banget nyampenya" jawabnya, tanpa menghiraukan lelaki yang kini berdiri sambil mengamati dirinya.
Sementara sang gadis sibuk mengamati karya di depannya, lelaki itu juga sibuk mengamati sosok yang paling ia tunggu yang tengah menatap karyanya dengan takjub. Lelaki itu tersenyum, sekaligus merasa lega, ketakutannya ternyata tidak terjadi. Gadis itu tetap hadir di pamerannya, meskipun di 30 menit terakhir pameran akan berakhir.
"Konsepnya emang gitu, aku sengaja nyisipin foto lukisan aku di beberapa mv laguku, jadi aku cuma naruh judul lagu dan waktu pas lukisannya muncul di mv, biar yang mau liat lukisanku sekalian denger laguku" jelasnya, yang diakhiri dengan kekehan.
Gadis itu terlihat menggangguk, lalu fokusnya beralih ke instalasi di samping karya seni temannya.
"Konsep karya dia lumayan mirip sama aku, tapi cuma judul lagu aja sih, lagunya bahkan ngga punya mv. Beberapa seniman sepakat buat menampilkan instalasi itu untuk mengenang dia, soalnya dia akrab banget sama beberapa seniman meskipun dia tuh musisi" tanpa diminta, lelaki itu menjelaskan konsep instalasi yang menarik perhatian gadis tersebut.
"Eh, hampir aja lupa! Foto bareng yuk!" sang gadis lekas mengeluarkan handphone dari tasnya, sebelum kemudian seseorang berjalan mendekat ke arahnya.
"Finally ya lu datang juga, kasian noh doi nungguin lu daritadi" sapa orang itu, yang tak lain adalah temannya, teman mereka lebih tepatnya.
Lelaki itu tertawa kecil, sedang gadis tersebut sibuk menjelaskan perihal mengapa ia datang terlambat. Sebelum temannya berlalu, tak lupa mereka mengambil foto bersama.
"5 menit lagi penutupan di hall. Gue duluan ya, tar nyusul aja kalo mau ikut penutupannya" temannya kemudian meninggalkan mereka berdua.
Kini, di ruangan pameran itu, hanya tersisa mereka berdua sebab para pengunjung pameran telah menuju hall untuk menghadiri penutupan pameran.
"Yuk foto bareng! momen ini harus diabadiin!"
Baru saja gadis itu mengetuk ikon kamera di handphone, ketika tiba-tiba lelaki itu bersuara.
"Can you hug me?" ucapnya. Rautnya tenang menunggu jawaban gadis di hadapannya.
Dengan senang hati, sang gadis mengikis jarak diantara mereka dan memeluk lelaki itu. Tanpa diketahui satu sama lain, keduanya tersenyum dalam pelukan satu sama lain seakan-akan momen inilah yang mereka tunggu.
"Every time you need to be hugged, just let me know. I will hug you, kecuali kalo kamu udah punya pacar sih"
"Emangnya kenapa kalo aku punya pacar?"
"Gila aja aku meluk pacar orang"
"Kan orangnya kamu"
"Iya dehh aku kalah, soal flirty kamu yang juara"
Kemudian keduanya tertawa dalam rengkuhan hangat masing-masing.
"Can you trust me?" tanya lelaki itu, setelah beberapa saat hening melingkupi mereka.
"Context?"
Lelaki itu merenggangkan pelukannya, diikuti dengan sang gadis. Ia kemudian menatap lekat sosok dihadapannya, siap untuk memberikan penjelasan mengenai pertanyaannya.
"To start relationship with me, can you trust me? Aku tahu, aku ngga bisa ngejanjiin kamu bahagia terus, tapi aku akan usahain biar kamu, biar kita bisa bahagia terus"
"Setelah kamu tahu semua ketakutan aku, trauma-traumaku, apakah kamu bisa menerima semua flawsku?"
"Aku bukan orang yang sempurna, aku juga punya banyak kekurangan. Kita saling belajar menerima kekurangan masing-masing, ya?"
Gadis itu tersenyum dan tanpa bisa ia tahan, matanya basah karena ia terlalu bahagia mendengar penuturan lelaki di depannya.
"Makasih ya masih tetap nerima aku, setelah kamu tau betapa banyak kurangnya aku. I will try to trust you" ucapnya.
Senyumnya masih sama, dan kini menular ke sosok di hadapannya yang entah sejak kapan, mengikis jarak diantara mereka lalu mengecup keningnya, lama. Ada kembang api yang ia rasa di dadanya, meletup-letup membuatnya sesak karena perasaan bahagia. Begitu pula dengan lelaki itu, rasanya pundaknya kini jauh lebih ringan setelah mengetahui bahwa perasaannya tidak berakhir sepihak.
Based on mimpiku semalam. Sweet banget ga sih huhu sayang kejadiannya di mimpi aja 😭 Mana cowoknya penyanyi beneran, dah punya pacar pula wkwk kapjagi banget mimpiin si penyanyi padahal akhir-akhir ini lagi ngga dengerin lagunya. Emang ya, yang indah-indah kek gini cuma bisa ada di mimpi doang🤧
Hari ini ada seseorang yang lagi ulang tahun. Karena gabisa ngucapin secara langsung, saya nulis ucapannya disini saja.
Halo, selamat ulang tahun ya. Maaf saya ngga bisa ngucapin secara langsung. Meskipun kita pernah dekat, tapi rasanya waktu itu sudah terlalu jauh, sama seperti jarak kita sekarang. Padahal, saya punya kontak kamu lho wkwk. Saya cukup tau diri untuk ngga mengganggu hidup kamu lagi di masa kini. Katakanlah saya ini pengecut, tidak apa. Saya hanya tidak ingin mengulang kesalahan seperti yang saya lakukan di masa lalu.
Saya selalu berandai-andai, kalau suatu saat saya punya kesempatan ketemu sama kamu, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Beberapa diantaranya adalah pertanyaan basic seputar hidup kamu beberapa tahun terakhir. Mungkin kita akan saling berbagi cerita, mungkin juga hanya sekedar tanya jawab dengan saya sebagai penanya dan kamu yang menjawab--saya hanya tidak ingin berekspektasi lebih akan ditanya balik sama kamu. Selain itu, saya juga pengin minta maaf. Minta maaf karena di masa lalu, saya terlalu egois sebab terlalu mementingkan perasaan saya ke kamu dan tidak memberi kamu kesempatan untuk menanggapi perasaan saya. Kamu punya hak untuk menerima maupun untuk menolak, namun saya tidak memberi kamu kesempatan itu. Yang saya lakukan hanya terus menerus menunjukkan perasaan saya tanpa peduli dengan perasaan kamu pada saat itu. Padahal, jatuh cinta bukan hanya tentang siapa yang jatuh lebih dulu, tapi tentang keinginan untuk jatuh bersama, atau berakhir jatuh sendirian. Bukan tentang perasaan siapa yang lebih besar, tapi tentang penerimaan perasaan masing-masing.
Maaf, saya terlambat menyadari kesalahan itu. Kita masih terlalu muda saat pertama kali bertemu dan kemudian menjadi dekat. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyadari hal sebesar itu. Setelah banyak hal yang saya lalui selepas kita tak lagi bertemu, saya akhirnya menyadari bahwa apa yang saya lakukan kepada kamu di masa lalu itu adalah kesalahan, meski perasaan saya adalah sebenar-benarnya kenyataan. Yang salah bukan perasaannya, tapi cara menyampaikannya.
Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Kamu menjadi cinta pertamaku, sekaligus menjadi cinta yang paling tidak sempurna-ku. Meski begitu, banyak hal yang kemudian saya jadikan pelajaran dari kesalahan di masa lalu. Dan patut untuk kamu ingat, tidak pernah sekalipun saya menyesal dengan keputusan saya untuk jatuh cinta kepada kamu di masa lalu. Meski tidak sempurna, dan meski kita berakhir bahkan sebelum kita sempat bersatu, tidak sekalipun saya sesali perasaan saya untuk kamu di masa lalu.
Kini, di masa sekarang, saya hanya ingin tahu kabarmu tanpa ingin mengusik hidupmu lagi. Sebesar-besarnya perasaan saya ingin menghubungi kamu, masih lebih besar perasaan saya yang tidak ingin membuat kamu risih dengan kehadiran saya di hidup kamu lagi. Semoga di hari ulang tahunmu hari ini, kamu bisa berbahagia dan memiliki orang yang menemanimu berbahagia. Maaf untuk ingatan yang mungkin menyakiti kamu di masa lalu, semoga kamu bisa hidup lebih bahagia di masa kini hingga nanti.
Tertanda,
Yang pernah kamu ajar matematika, namun tetap remedial😅
Susah banget ya yang namanya konsisten nulis tiap hari tuh. Udah lewat banyak banget topik, gabisa ke kejar sih ini wkwk. Belakangan emang sibuk banget karena ponakanku nginap dirumah otomatis saya jadi babysitternya mereka. Mana sempat buka laptop, yang ada malah ikutan tepar pas nidurin mereka.
Masih gatau nih mau lanjut nulis lagi atau ngga, liat mood aja ya wkwk.
Gatau knp tiap ada yg nanya kayak gitu rasanya langsung kek mo marah-marah. Padahal jawabannya simpel aja tapi tiap mo jawab, pasti ada hasrat ingin ngegas. Lately I know, pertanyaan2 kek gini justru ngetrigger emosi2 negatif yang saya rasain pas lagi sibuk2nya ngurus masalah kuliah. Jadi tiap ada yg nanya, dilema banget antara mo jawab tapi takut ngegas, ga dijawab juga nanti dibilang sombong. Problematik amat idup lu nan hhhh.
Sebelum ngomongin orang-orangnya, lebih baik kalo kenalan dulu kali yak wkwk
Dari belakang kiri: Fika, Ian | Dari depan kiri: Dinda, saya
Dimulai dari yang sulung, orang-orang manggilnya Fika, tapi kalo saya dan saudara manggil dia 'Flik'. Sekarang udah nambah lagi sih panggilannya, kalo bukan 'bundanya wafi' yaa 'bundanya khonsa'. Kalau dipost sebelumnya saya bilang saya moody-an, dia kayaknya diatasnya moody-an. Lebih keras hati dibanding yang lain, namun selalu menjadi penengah di antara kami bersaudara. Selalu bisa mendinginkan dan membujuk saudara-saudarany yang sedang cekcok, baik sesama saudara maupun dengan orang tua. Tidak pelit, kalau ada rejeki suka mentraktir wkwk. Dulu pas dia masih lajang, tiap abis gajian selalu ngajakin saya hunting cafe-cafe lucu di kota atau sekedar nonton sambil makan sistagornya XXI. Saya sama dia sama-sama suka warna biru. Sekarang udah jadi ibu anak 2, otw 3 wkwk. Karena sejak menikah dia hijrah, jadi semua baju-baju 'kafir'nya dihibahkan ke saya. Lumayan banget sih, soalnya selera fashion kita cukup mirip wkwk.
Terus si anak tengah, Temen-temennya manggil dia Fian, tapi kalo sama orang rumah dipanggil Ian. Anaknya ngga banyak ngomong, cuma ngomong kalau diperlukan dan kadang-kadang disertai dengan kata-kata yang pedas wkwk. Anak yang paling membanggakan sih sejauh ini wkwk, sekolahnya ngga pernah ngga bergengsi. Kuliah di Institut Terbaik Bangsa, abis lulus pun kerja di perusahaan internasional. Yang paling sering menawarkan diri untuk membantu saudara dan orang tuanya, terutama dalam hal finansial. Sebenarnya dia udah mapan dan stable banget buat nikah, tapi sampai sekarang masih belum keliatan keinginannya untuk menikah. Paling sering ngehibahin saya barang-barang bagusnya kalo udah gakepake sama dia. Dulu-dulu sih sering jajanin saya dan ngajak liburan. Tapi semenjak udah punya ponakan, saya sama Dinda terlupakan. Semoga nanti dia bertemu dengan jodoh yang bisa melengkapi dan mengimbangi karakternya dia. Aamiin
Yang terakhir, si anak bungsu sekaligus saudara kembar saya. Orang-orang manggilnya Dinda, tapi kalau dirumah dia dipanggil Iin. Dia 5 jam lebih muda dari saya wkwk, sebenarnya bisa lebih singkat lagi sih seandainya dia ngga terlilit tali pusar sendiri trus akhirnya dicaesar. Dulu waktu kecil saya sama dia sering bertengkar bahkan berkelahi, hasil perkelahian kami pun tercetak di wajah masing-masing wkwk. Sekarang udah kerja jadi Dokter Hewan, pekerjaan yang dia impikan sejak masih SMA. Salut sih sama dia, soalnya dia bisa fokus dan unggul di satu bidang. Dia cepat tau apa hal yang dia minati dan mengembangkan diri di bidang tersebut. Seringkali saya merasa dia lebih dewasa daripada saya. Mungkin ada benarnya mitos yang beredar, jika anak kembar lahir, yang pertama lahir statusnya justru adek sebab dibantu sama kakaknya buat lahir duluan. Tapi tetep sih secara medis saya lebih tua dari dia meskipun cuma hitungan jam.
Segitu dulu ya gais, soalnya saya udah capek nulis 3 topik sekaligus wkwk.
Seiring berjalannya waktu, saya mengalami beberapa fase yang berhubungan dengan teman. Mulai dari bertemu dan kenalan dengan teman baru, berteman, akrab, kemudian akhirnya saling menjauh dan berpisah entah karena terpisah jarak, udah ga sejalan, atau sudah berbeda kesibukan. Tapi dari semua fase tersebut, ada beberapa orang yang tetap membersamai saya apapun kondisi yang saya hadapi. Dan mereka adalah 4 orang teman SMA saya dan tergabung dalam 1 squad bernama SPEECHLESS.
Dari atas kiri : Dinda, Indah, Nisa | Dari bawah kiri : Saya, Dzikri. Foto ini diambil pada saat kami semua masih menjadi mahasiswa, jadi mohon dimaklumi keburikannya wkwk.
Kami bertemu pada saat sedang melaksanakan matrikulasi atau masa pra ospek di SMA. Emang agak beda sih SMA saya, belum ospek aja udah masuk sekolah, 40 hari pula wkwk. Waktu itu, saya, saudara kembar saya (Dinda) dan sepupu saya (Indah) masuk di sekolah yang sama. Karena sekolah kami jaraknya jauh dari domisili, kami akhirnya tinggal di asrama putri sekolah. Asramanya memang diperuntukkan untuk siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah. Di asrama lah kami bertemu dengan dua orang lainnya yaitu Dzikri dan Nisa. Awalnya squad kita ini hanya beranggotakan 4 orang. Nisa menjadi anggota terakhir yang masuk dalam squad.
Mungkin ada yang penasaran, kenapa namanya SPEECHLESS. Sebenarnya, penentuan nama squad kami itu berasal dari celetukan yang entah siapa diantara saya, Dinda, Indah dan Dzikri, intinya dari kami berempat waktu itu ada yang celetuk "Jadi geng kita namanya apa nih?" yang tentu saja menggunakan logat dari daerah kami. Trus diantara kami berempat ada yang nyeletuk "SPEECHLESS aja, kayak respon orang-orang sini ke kita wkwk". Jadi waktu itu memang kami sering kali mendapati diri diamati diam-diam oleh siswa-siswa yang berasal dari daerah sekolah kami. Sebenarnya cukup wajar, mengingat kami berasal dari kota, otomatis cara berbicara dan pakaian seragam kami pun berbeda dari kebanyakan siswa disana yang mayoritas seragamnya sama karena berasal dari sekolah asal yang sama. Pada masa matrikulasi, siswa diwajibkan menggunakan seragam sekolah asal, otomatis yang menjadi minoritas akan sangat mencolok diantara yang dominan. Sejak saat itu, kami melabeli squad kami dengan nama hasil celetukan tersebut wkwk.
Pertemanan kami dimulai di pertengahan 2012 dan alhamdulillah masih bertahan hingga sekarang. Jika dihitung, umur squad kami ini sudah mencapai usia 9 tahun dan (semoga) bisa bertahan sampai kami tua dan berpulang. Meski sudah berteman cukup lama, bukan berarti kami terbebas dari cekcok dan salah paham. Kadang-kadang hal tersebut terjadi, namun karena sudah saling memahami satu sama lain, kita akan saling meminta maaf dan memaafkan lalu kembali seperti semula. Jujur, untuk mengambil foto lengkap berlima agak susah bagi kami. Saat kami menjadi mahasiswa, kumpul berlima merupakan kemewahan yang dapat terjadi di musim liburan karena Dinda berkuliah di Bali, sedangkan 4 yang lainnya kuliah di kota domisili namun di kampus yang berbeda. Apalagi sekarang, semuanya sudah mempunyai pekerjaan di lokasi yang berbeda. Kecuali saya sih, saya mah pengangguran wkwk. Yang sekarang bisa sering-sering saya temui hanya Indah karena kebetulan Indah masih menetap di kota domisili kami.
Ohiya, kecuali nisa, mereka semua punya akun tumblr juga. Say hi to @indahafiah @deandeon @thoughts0511 ^^
Karena 2 hari terakhir saya ngga update, jadi topik dari day 9-11 bakal saya update di hari yang sama yak wkwk. Inilah contoh susahnya konsisten menulis gais, mohon jangan ditiru wkwk.
Disclaimer: Spoiler alert of some convo in NKCTHI and Story of Kale
Happiness. Sesuatu yang diidamkan seluruh manusia di dunia ini, meskipun konteksnya ngga sama tapi tujuan yang ingin dicapai adalah sama, yaitu (perasaan) bahagia, kebahagiaan. Membicarakan soal kebahagiaan, ada satu kalimat dari dialog di film NKCTHI yang sangat berkesan bagi saya, dan mungkin bagi sebagian besar penonton film tersebut. Kalimatnya dilontarkan oleh Kale, ketika Awan bertanya mengenai kejelasan status diantara mereka. Kale said;
"Bahagia itu tanggung jawab kita masing-masing"
Terus, di sekuel film NKCTHI yang judulnya Story of Kale, juga terdapat kalimat yang sebenarnya menjadi cikal bakal kalimat yang dilontarkan oleh Kale di film NKCTHI, karena film Story of Kale sendiri berlatar waktu saat Kale belum bertemu Awan dan masih bersama dengan Dinda, seseorang di masa lalunya. Dinda said:
“Nggak ada Le, nggak ada orang yang bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan di hidup kita selain diri kita sendiri.”
Saya sendiri 100% setuju dengan kedua kalimat diatas. Bahagia itu tanggung jawab diri sendiri, sebab itu nggak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Dari kalimat diatas kita juga bisa belajar bahwa untuk menjadi bahagia, kita tidak perlu menggantungkan kebahagiaan kita ke orang lain, atau hal apapun. Sebab, menjadi bahagia bukan karena kita lulus ujian, punya gadget yang bagus, atau menjadi pemenang di suatu kompetisi. Bahagia dan kebahagiaan itu hakikatnya berdiri sendiri. Walaupun memang perasaan bahagia bisa hadir setelah kita mendapatkan suatu achievement atau hadiah, tapi hal tersebut tidak lantas menjadi perasaan bahagia hanya muncul di moment-moment itu saja. Kadang, tanpa sadar kita menggantungkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang sifatnya tidak tentu, unpredictable . Misalnya,
kalau saya lulus CPNS, saya pasti bahagia
kalau saya bisa liburan, pasti saya bahagia
kalau saya bisa pacaran sama dia, pasti saya jadi orang yang paling bahagia
Padahal, hal tersebut masih belum terjadi dan masih punya peluang untuk tidak terjadi. Alhasil, ketika hal tersebut tidak terjadi, kita akan merasa kecewa dan gagal. Kita akan menjadikan kegagalan tersebut sebagai alasan dari tidak bahagia. Padahal, yang membuat kita tidak bahagia adalah ekspektasi yang kita buat sendiri. Sekalinya nanti hal tersebut terjadi dan kita masih tidak merasa bahagia, kita lantas mencari-cari alasan dari ketidakbahagiaan kita.
Kebahagiaan sendiri bisa ditemukan dimana-mana, pada apa saja dan siapa saja. Namun untuk merasakan bahagia, tetap menjadi tanggung jawab diri sendiri. Tidak bergantung pada apapun, hanya memerlukan izin dari diri sendiri untuk bisa merasa bahagia.
Sebagai penutup, saya melampirkan salah satu tulisan saya mengenai bahagia yang saya unggah di akun instagram saya. Jangan lupa bahagia, yeoreobun!
Musik bagi saya, seperti yang udah saya ceritain di beberapa post sebelumnya, punya pengaruh yang cukup besar dalam hidup saya. Musik bisa bikin saya senang, bisa balikin mood saya kalau saya lagi unmood, dan sering kali saya merasa connected sama orang lain karena musik. Misalnya nemu teman rl yang ternyata menyukai band Korea favorit saya dan kita sama-sama jadi fangirl di fandom yang sama. Atau ternyata teman saya juga suka lagu lawas favorit saya. Atau as simple as punya teman ngonser khusus salah satu band Indo karena sama-sama suka lagu dari band tersebut.
Selain itu, saya juga jadi lebih mudah tertarik dengan orang yang punya skill dibidang musik, baik perempuan maupun laki-laki. Misalnya, dia pintar main alat musik atau suara dan teknik vokalnya bagus jadi asik diajakin nyanyi bareng. Saya sendiri menjadikan musik sebagai salah satu value yang jika dimiliki orang lain, bisa membuat saya considering orang tersebut. Value yang saya maksud adalah kemampuan dia memainkan alat musik, wawasan tentang musik dan selera musiknya. Ngga harus sama dengan selera musik saya sih, asalkan dia bisa tolerate dengan genre musik apapun dan asik diajak ngobrol tentang musik itu udah jadi nilai plus bagi saya dalam menilai orang lain. Plus lagi kalau dia bisa secara objektif menilai musik Kpop, karena jujur aja, saya suka kesel sama laki-laki yang suka ngejelek-jelekin Kpop. Kalau ada laki-laki yang suka ngehina kpop baik musik maupun idolnya, udah pasti minus dan saya skip. Karena menurut saya, kalau emang ngga suka Kpop atau ngga sesuai dengan selera musiknya, kan ada opsi bodoamat atau diam aja alih-alih menghina. Kritik boleh, tapi ada batasnya. Hal ini juga berlaku ke hal lain ya, bukan cuma Kpop aja.
Kayaknya segitu aja sih yang bisa saya ulas soal the power of music in my life. Semoga abis ini saya bisa ketemu teman sefandom lebih banyak lagi di dunia maya maupun di dunia nyata. Really, bertemu teman sefandom tuh mood banget soalnya kita bisa ngehype bias bareng. Dont hesitate to approach me if you a Myday! ^^
Jujur, nentuin film favorite sama susahnya dengan nentuin novel favorite. Asal genrenya bukan horor aja sih, trus direkomendasiin sama orang juga pasti disempetin nonton. Kadang juga liat sinopsisnya dulu, kalau tertarik baru saya nonton. Oh iya, kadang juga kalo yang main adalah aktor atau aktris favorite dah pasti deh disempetin buat nonton. Cuman dibandingkan nonton film, saya lebih prefer nonton drama korea atau baca buku sih hehe, apalagi kalo filmnya based on novel, pasti lebih milih baca novelnya.
Tapi karena topiknya adalah film, saya bakal bahas sedikit soal preferensi film saya. Saya sendiri suka banget film yang genrenya sci-fi macam Marvel Cinematic Universe (MCU) atau Divergent series. Suka juga genre action ala agen-agen rahasia kayak Mission Impossible dan 007 James Bond. Kalau film Indonesia selama genrenya ngga aneh-aneh trus reviewnya bagus. mungkin bakal saya nonton sih. Beberapa film Indonesia yang saya suka itu NKCTHI, Critical Eleven, Bumi Manusia, dan Keluarga Cemara. Suka juga film yang ngebahas tentang mental health, film dokumenter tentang lingkungan apalagi kalau ngebahas tentang laut.
Ya gitu-gitu aja sih preferensi film saya wkwk, kinda boring tapi kalo diajakin nonton, asal bukan film horor sih saya cuss. Disclaimer ya, saya bukan penakut, cuma menurut saya, film horor tuh bukan genre film yang bisa dinikmatin sambil duduk santai. Paling ngga, harus ada bantal yang siap sedia dipake nutup muka atau digigit kalau lagi greget wkwk.
Kelar nonton eps 7 nevertheless bawannya pengen cursingin Nabi mulu. Kesel banget sama Nabi kek kenapa sih kalo disosor sm Jae Eon dia mau-mauan aja????! Punten banget nih kan ada opsi menolak??? Dah tau kelakuan Jae Eon kek mana tapi masih aja dikasih hati, emang Nabi tuh aslinya hobi nyakitin diri sendiri sih hhhh.
Today's topic really represent me as a single wkwk. Terakhir kali punya hubungan dekat dengan orang di tahun 2018, and the relationship was not going well wkwk. Sejak saat itu saya memutuskan untuk ngga dekat sama orang dulu dan fokus improve my self.
Being a single is not a bad idea. Kita bisa kemana saja, dengan siapa saja, tanpa perlu repot memikirkan hal-hal semacam harus izin dengan doi atau mengajak doi untuk ikut bergabung dengan kita. Kita tidak punya beban untuk bertanggung jawab atas perasaan pasangan sehingga kita bebas melakukan apa saja sesuai keinginan kita. Terlebih lagi, karena saya memang sudah terbiasa menjadi single fighter, semua urusan saya selesaikan secara mandiri dan tidak bergantung dengan bantuan orang lain. Dan tentu saja, hal tersebut membuat saya jadi lebih mudah untuk merasa happy.
Tapi, adakalanya saya juga menginginkan someone to lean on, apalagi kalau sedang menghadapi hari-hari berat seperti sekarang. Someone to be my one call away, yang kalau saya pengen cerita, dia selalu ada dan selalu bisa diandalkan. Tapi yaa, saya juga tau, to find someone like that ga bisa instan, it's take time.
Untuk sekarang sih, lebih menikmati menjadi single dan let the universe guide me to meet the one that I waiting for.
Khusus topik #Day5: your parents, ada beberapa pertimbangan sehingga saya tidak menulis hal tersebut. I was overwhelmed after met some friends yesterday. When your life is a mess while you're surrounded by people who just have finished or are in the process of chasing their dreams, you know, it just hurt me a little even they're not doing anything wrong. I've lost my positive energy too much until I was overwhelmed. Also, currently, I didn't in a good situation with my parents so I refuse to write about them. I choose to avoid triggers that may cause some bad things for my mental health.
Harap dimaklumi ya gaess^^
Teman Kecil @sunshinesandcitylights - Tumblr Blog | Tumgag