Pertemuan Pertama dan Terakhir
Aku bersyukur bisa mengenal dia.
Cara bicaranya menjelaskan karakternya. Seorang ibu yang hebat, seorang ibu yang baik, seorang ibu yang sangat nasionalis, seorang ibu yang sangat cinta Indonesia.
Pertama kali aku bertemu dengannya, ketika aku berkunjung ke rumah kamu. Asli dagdigdug banget itu. Takut salah ngomong hehe. Tapi ternyata. Waaww. Dengan ramahnya dia menyambutku.
“Cep sok mangga kadieu ka lebet. Sareng saha kadieu?”. Begitu lah kata-kata yang iyaa ucapkan pertama kali.
Masih ingat ketika dia menawarkan ku untuk makan. Cara dia mengajak aku makan, membuat aku tidak bisa menolak, sama seperti ibuku, sedikit memaksa hehe. Tapi aku tau, orang2 baik memang selalu seperti itu.
Waktu itu sore hari di dalam mobil, perjalan ke purbalingga. Ada sebuah obrolan kecil yang membuat aku lebih mengenal dia. Seorang ibu yang memiliki prinsip kuat, seorang ibu yang mempunyai pandangan luas, seorang ibu yang pintar juga tentunya dan juga menyenangkan. Yang selalu ku ingat waktu itu, dia menceritakan tentang perkembangan indonesia. Itu hal yang sangat menarik dan berkesan. Kalo bicara soal indonesia aku memamg selalu tertarik. bukan sonasionalis. tapi ini beneran loh. Aslina.
Oh iyaa aku masih ingat satu pesannya.
“Kalian anak muda calon penerus bangsa jangan diam saja. Jangan mau dinina bobokan oleh bangsa lain”. ucapnya
Waw !! tak kusangka akan keluar kata-kata itu dari mulutnya. Kata-kata pejuang banget kan !! Orang-orang seperti ini yang aku suka !! Langsung semangat banget tuh pas denger kata2 itu hahaha. Dari situ aku mempunyai keinginan untuk bisa mengobrol kembali di lain waktu dengannya.
“Bakalan seru nih pasti” ucapku dalam hati.
Aku tidak punya banyak cerita ataupun memori tentang dia. Karna memang baru sebentar aku mengenalnya, kebanyakan cuman mendengar cerita dari kamu saja. Dan baru sekali aku bertemu. Tapi aku sangat-sangat bersyukur dengan kesempatan yang Allah berikan itu. walaupun hanya sebentar.
Oh ya. Ada suatu hal yang membuat aku terharu. Waktu itu kamu bercerita bahwa ketika di rumah sakit, ibu kamu masih menanyakan tentang oleh-oleh apa yang kamu bawa dari romania untuk aku.
“Waw ? Seriously ?”. ucapku dalam hati seakan tidak percaya.
Di situ aku tersentuh, benar2 tersentuh. Dalam keadaan sakitpun dia masih memikirkan orang lain, dan itu cuman aku. Orang baru yang baru bertemu satu kali dan belum lama dia kenal. Begitu luar biasa bukan ibu ini.
Ketika mendengar cerita itu, ingin sekali rasanya aku berbicara langsung dengan dia, ingin sekali aku langsung berada di sana, mengucapkan terimakasih telah mengingatku. Tapi karena satu dan lain hal aku menundanya. Aku berfikir, nanti saja kalo ibu sudah di rumah baru aku menemuinya (menjenguk), di samping ada beberapa pekerjaan juga yg harus aku selesaikan di sini.
Dan benar saja, aku benar-benar menemuinya ketika dia sudah berada di rumah. Tapi,,dengan kondisi yang berbeda. Tak ada lagi perbincangan yang bisa dilakukan dengannya waktu itu. Tak sempat aku mengucapkan terimakasih. Menyesal. Ya, jelas sekali ada rasa sesal dalam diriku waktu itu :’(
Pesan terakhir yang akan selalu aku ingat dari dia adalah ketika aku turun dari mobil.
“sok yah semoga lancar, semoga sukses, sing rajin kuliahnya, rajin ibadah”.
Pesan pertama dan terakhir yang dia katakan langsung untuk ku. Mungkin terdengar umum. Tapi tidak bagiku. Pesan terakhir dari seseorang yang menjadi ibu dari perempuan yang spesial. Bukan martabak. Serius, ini benar-benar spesial.
Sebenarnya aku ingin punya banyak waktu untuk berbincang dengannya, lebih kenal dekat, menjalin silaturahmi lebih dalam. Oh ya. ada satu hal yang ingin aku sampaikan juga bila bertemu lagi dengannya.
“boleh ya bu neng iky jagain, inshaa Allah nanti iky bikin bahagia sebisa iky bu”. Begitu kira2 kurang lebihnya hehehe.
Tapi sekarang hanya doa yang dapat menjadi penghubung antara aku dan dia. Dan itu salah satu hal yang bisa aku lakukan. Selain menjaga dan membahagiakan anak perempuannya. Aku yakin, ibu pasti senang kan kalo liat neng bahagia ? ya itu pasti.
Tenang di sana ya bu, jangan khawatir, kau mempunyai keluarga yang luar biasa. Anak-anak mu yang hebat, suami mu yang begitu tabah dan kuat. Kau pasti bangga dengan keluarga kecilmu itu bukan.
Banyak orang di luar sana yang menyayangimu juga. Terlihat dari banyaknya orang yang mengantarkan mu ke tempat peristirahatan terakhir. Aku yakin, doa untukmu tidak akan terputus.
Bu, jika diizinkan, anak perempuan mu akan ku jaga sebisa ku, akan aku bahagiakan dengan caraku, InshaaAllah. Meskipun tidak akan sebaik dan tidak akan pernah seperti ibu, tapi iky akan berusaha.
Semoga Ibu merestui. Aamiin.
Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara Maret menabur gerimis
Makhluk kecil, kembali lah dari tiada ke tiada
Rest in peace Ibu Juharoh
Semoga amal ibadahnya diterima, dilapangkan siksa kuburnya, mendapatkan tempat terbaik di sisi Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin