PUNCAK PERTAMA
Setiap perjalanan membawa hikmah, tinggal bagaimana kita mau memaknai atau tidak.
Banyak hal yang saya dapatkan ketika ikut kakak saya naik gunung kemarin. Anak yang sok-sokan ingin naik gunung, tapi beberapa waktu lalu ibuk dan bapak melarang, yaa mereka tentu lebih tahu jika putri bungsunya tidak tahan dengan udara dingin (semenjak kerja yang ruangannya ber ac 9 jam nonstop aja sudah cukup buat suara ndak kembali-kembali seperti semula). Beberapa hari lalu kakak saya menawarkan ingin ikut ke Sindoro atau tidak, bersama teman-teman dari tanah kelahiran saya, Klaten. Setelah berpikir berpikir dan berpikir, setelah berusaha izin dengan bapak ibuk, akhirnya dibolehin (mungkin karena kakak saya ikut, jadi diperbolehkan). Sabtu pagi bersama rombongan, 3 perempuan dan 6 laki-laki (termasuk kakak saya). Perjalanan yang menyenangkan, bahkan di jalan sudah sangat membayangkan, meskipun di satu sisi tetap takut, takut kalau-kalau merepotkan banyak orang selama di perjalanan. Sabtu siang kami mulai melakukan pendakian di gunung Sindoro. Perjalanan menuju pos satu cukup melelahkan, jalan lurus yang sedikit menanjak, harus berbagi jalan dengan para bapak ojek yang akan mengantarkan sampai pangkalan ojek jika kita mau (sampai atasnya pos satu). Tapi kami memilih berjalan meskipun entah berapa kali memilih menepi untuk mempersilakan ojek lewat karena membawa motor sudah seperti pembalap motorcross.
Sampai di pos satu tidak ada kendala yang berarti, kami beristirahat sebentar untuk mengisi amunisi. Matahari cukup terik, tapi benar, tidak ada yang tahu bagaimana keadaan gunung, mudah sekali berubah, pukul 15.00 kabut mulai turun, rintik air cukup membasahi kerudung. Sampai pada akhirnya sampailah di pangkalan ojek. Sesampainya di sana kami berisititahat sebentar, membeli nasi untuk tambahan perbekalan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Sebelum sampai pos dua kami memutuskan berhenti lagi karena udara cukup dingin dan kami memutuskan untuk memanaskan air untuk membuat teh pun kopi dan menggoreng sosis dan mie sembari mendirikan tenda darurat di pinggiran jalur pendakian. Setelah dirasa cukup membuat perut sedikit hangat dan kenyang, kami meneruskan langkah. Satu yang selalu saya ingat, bahwa di sepanjang jalan, setiap berpapasan dengan pendaki yang lain, kami saling menyapa, menyemangati dan menguatkan satu sama lain. Baru tahu, sekeren ini ternyata rasanya. Kira-kira pukul 21.00 kami sampai di sunrise camp, dua bukit setelah pos tiga. Jalan dari pos 2 menuju pos tiga cukup membuat kaki sedikit gemetar, dan tanjakannya pun mulai meninggi, beberapa bonus (jalan lurus) cukup mengobati kaki yang mulai berteriak-teriak. Di tengah gerimis perjalanan dari pos 3 menuju sunrise camp lumayan membuat deg-degan. Posisi di malam hari, gerimis, memegangi senter yang cahayanya mungkin kurang jika untuk ukuran mata saya, kembali lagi merepotkan kakak agar mau berbagi lampu senternya. Sesampainya di sunrise camp, kami langsung mendirikan tenda. Jangan tanya apakah saya ikut mendirikan tenda. Karena jawabannya adalah tidak. Cukup melihat sambil menyelonjorkan dan memukul-mukul kaki yang mulai lecet. Beberapa luka di punggung tangan dan lutut mulai terasa. Setelah tenda jadi, kami memutuskan untuk memasak demi mengganjal perut. Jangan tanya apa saya ikutan memasak, karena jawabannya lagi-lagi tidak. Peralatan yang berbeda membuat saya bingung harus melakukan apa, sampai pada akhirnya hanya terima jadi, dan yang memasak adalah para kaum laki-laki.
Selesai makan dan menghangatkan badan, kami memutuskan untuk tidur, karena keesokan harinya kami akan melanjutkan pendakian menuju puncak, yang di peta menunjukkan 4 jam perjalanan. Pukul 22.30 kami mulai tidur, tenda-tenda lain juga mulai sepi. Jangan tanya apa saya bisa tidur? Karena jawabannya adalah tidak, samasekali tidak bisa tidur, mulai tidur justru jam 3 pagi, padahal saatnya bangun dan persiapan mendaki lagi. Paginya menunggu sunrise, tapi yang ditunggu malu-malu, jadi hanya semburatnya saja yang membuat tampak indah
Pemandangan yang menyejukkan, dengan view gunung Sumbing. Allah, indah sekali alamMu. Setelah menikmati keindahan itu, kami mulai packing dan membereskan isi tenda, lalu kami meletakkan carrier di dalam tenda, barang-barang berharga dibawa menuju puncak. Wacana yang mau naik puncak pukul 4.30 menjadi sedikit molor karena perut berteriak minta makan, dua nugget dan satu sosis tanpa nasi cukup membuat perut kenyang. Kami melanjutkan langkah. Di perjalanan selalu bertanya apakah pos 4 masih jauh atau tidak. Jalur menuju pos 4 dan puncak ini membuat kaki lumayan terasa. Selesai 2 bukit, kepala saya sedikit pusing, ketua rombongan menyuruh saya makan antangin dan madu. Alkhamdulillah dan seketika kembali bersemangat melanjutkan perjalanan. Beberapa pemandangan indah nampaknya sayang untuk tidak diabadikan.
Perjalanan menuju pos 4 cukup membuat napas tersengal, jadi sering istirahat (apalagi saya). Akhirrnya langkah menjadi lebih lambat. Ketua rombongan dan teman-teman yang lain tetap menunggu, menawarkan minuman, sesekali bergantian membawa tas yang isinya lumayan karena berisi 2 botol air mineral.
Setelah melewati sabana, kami menemukan pos 4, disana ada batu tatah, dan cukup lapang tempatnya. Setelah itu jalan mulai berbatu dan kerikil, jadi perlu kehati-hatian dan pandai-pandai untuk bersabar meredakan langkah. Jalanan menuju puncak cukup membuat hati berdebar, terperosok sedikit saja bisa entah kemana kita tidak tahu. Setelah bertanya apakah masih jauh puncaknya, pendaki lain hanya menjawab "ndak kok, deket", tapi kenyataannya, masih banyak lagi bukit berbatu yang harus dilewati untuk bisa sampai ke puncak. Di perjalanan kami menemui pasangan suami istri dan anaknya yang sangat cantik, mungkin masih 3 tahun. Seusia murid-muridku di sekolah. Lucunya si anak yang bernama Nayla Iza ini tidak mau digendong, sepanjang perjalanan terus berjalan sendiri sembari digandeng kedua orang tuanya, yang artinya butuh sabar lebih karena tidak bisa sampai ke puncak sesuai dengan estimasi waktu yang sudah ditentukan. Tapi, bukan itu poin pentingnya, sebenarnya semua lebih pada apa-apa yang kita temukan di perjalanan, baik buruk, pun segala resiko yang harus kita terima. Setelah melalui kerikil dan batu-batu untuk beberapa bukit, akhirnya sampai di puncak
Alkhamdulillah sampai puncak, puncak pertama yang mungkin dan insyaAllah membawa puncak-puncak yang lain nantinya (kalau diizinin bapak dan ibuk lagi). Hanya sekitar 45 menit kami berada di puncak, lalu kembali turun karena memperhitungkan agar sampai basecamp tidak terlalu malam dan segera kembali ke rumah karena keesokan harinya harus bekerja. Perjalanan turun ternyata lebih menakutkan (menurut saya), kaki harus lebih kuat untuk menahan, tetapi waktu tempuh lebih cepat dibandingkan saat naik. Sekitar pukul 15.00 kami sampai di sunrise camp, lalu menggoreng sosis dan tempe sebagai pengganjal perut. setelah itu kami packing tenda dan kabut mulai turun. Sebelum itu, kami mengambil foto terlebih dahulu.
Pukul 16.00 lebih kami memutuskan untuk turun ke pos 3 untuk menuju basecamp yang hampir memakan waktu 4 jam, lagi-lagi saya yang menghambat. Kami memutuskan untuk tidak menggunakan jasa ojek ketika yang lain memilih ojek dari pangkalan ojek setelah pos 2 menuju basecamp. Kami memutuskan untuk berjalan, benar saja, sejak dari pos 1 kaki saya mulai sakit, dan berjalan sedikit ngilu sampai di basecamp, langkah sangat pelan dan harus menggunakan tongkat. Sesampainya di basecamp sekitar pukul 20.30. Alkhamdulillah, kami segera pergi mandi dan berkemas, tidak lupa untuk makan terlebih dahulu. Karena Temanggung-Solo cukup lumayan, 4-5 jam ditambah tidak tahu jalan dan hanya mengandalkan gps dan plang ijo, sampai rumah sekitar pukul 02.30. Padahal keesokan harinya harus bekerja ditambah jadwal piket. Hari itu saya belajar, benar-benar belajar. Tentang sabar, tanggung jawab, simpati, empati, peduli, ikhlas, bersyukur, dan persahabatan yang sebenar-benarnya. Oh iya, waktu mau bonceng motor kakak saya, saya bertemu lagi dengan Iza, digendong mamanya, gadis cilik dari Pekalongan itu mengajarkan kami tentang arti semangat. Alkhamdulillah, alkhamdulillah, alkhamdulillah.
Temanggung, 20-21 April 2019












