Aku, Buku, dan Perjalanan Beradaptasiku
Aku dan buku menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sekarang, saat ini, setahun belakangan ini. Aku jadi ingat saat aku memulai kembali hobi lamaku yang sudah terlupakan. Lebih tepatnya sejak Maret 2020, sejak covid-19 menjadi penyakit pandemi di Indonesia. Pandemi covid-19 adalah sebuah malapetaka sekaligus keajaiban. Malapetaka karena baru pertama kali sebuah wabah mirip flu bisa mengubah tatanan kehidupan. Hal yang biasa saja menjadi tidak bisa dilakukan, seperti pergi ke kantor, belanja ke supermarket, jalan-jalan ke mall, dan travelling saat libur panjang. Sebuah wabah yang menghalangi kita untuk berkumpul dan bersosialisasi. Bekerja dari rumah, mall yang dibatasi jam operasionalnya, restoran yang hanya boleh menerima pelanggan sebanyak 50%, bandara dan stasiun yang ditutup merupakan hal-hal yang benar-benar baru. Hal yang tidak pernah terbayang akan terjadi. Pandemi ini juga merupakan keajaiban karena dengan hal-hal baru itu kita jadi menyesuaikan dan beradaptasi, mencari cara agar tetap bertahan hidup, sehingga menjadi manusia dengan versi yang lebih baik dan lebih kuat. Pandemi ini merupakan cara Allah untuk membentuk manusia dengan karakter yang lebih baik, sekaligus menyembuhkan bumi yang mulai tua ini. Aku masih ingat di awal pandemi covid-19 ramai tentang langit yang difoto sebelum dan saat pandemi covid-19. Langit yang difoto saat pandemi covid-19 lebih bersih dari polusi dibandingkan sebelum pandemi covid-19. Hal ini karena saat pandemi covid-19, semua kantor tutup dan ada pembatasan jumlah pengendara di jalan raya, sehingga polusi yang dihasilkan dari kendaraan menurun drastis.
Resolusi dan rencana liburan yang sudah disusun di awal tahun pun terpaksa dibatalkan. Travelling adalah solusi terbaik untuk distraksi sejenak dari penatnya rutinitas. Sekedar mencari tempat tujuan liburan, booking penginapan dan tiket pesawat, packing baju dan perlengkapan yang akan dibawa saja sudah jadi moodbooster. Lalu pandemi covid-19 datang, wacana hanya jadi wacana. Apa yang bisa menggantikan rencana travelling?. Saat aku scrolling sosial media, ada quotes yang bunyinya, “I do believe something very magical can happen when you read a good book – J. K. Rowling”. Dan ada quotes lain yang bunyinya, “You can’t buy happiness, but you can buy books and that’s kind of the same thing”. Dari situ aku mulai berpikir untuk mencoba membaca buku lagi. Mungkin ini akan jadi salah satu hal sederhana yang akan cocok untukku dalam mengatasi kejenuhan selama pandemi covid-19 ini. Tapi karena selama ini tahunya kalau ke Gramedia adalah beli novel, aku jadi pengen coba baca buku genre lain. Aku mengunjungi website Gramedia untuk mencari genre buku yang menarik perhatianku. Saat mencari referensi, aku tidak sengaja melihat iklan Gramedia Digital. Aku mulai berlangganan dan mencoba download beberapa buku di aplikasi gramedia Digital.
Aku memulai dengan membaca buku berjudul About Life karangan Tere Liye (terbit tahun 2019). Aku sering melihat buku ini di gramedia, tetapi selalu berpikir panjang dulu sebelum ambil bukunya dan bawa ke kasir, karena berpikir apakah isinya menarik atau tidak. Karena langganan gramedia digital ini semurah itu, aku pakai kesempatan ini untuk membaca banyak buku, cukup simpel karena hanya download di akunnya dan mulai membaca. Ternyata bukunya menarik karena berisi kutipan tentang persahabatan. Buku lain yang juga aku baca, yaitu buku berjudul Wake Up Sloth karangan Aulia Hanifa (terbit tahun 2019) yang menceritakan tentang sloth (kungkang) yang merupakan metafora dari manusia dan beberapa kalimat motivasi agar kita bergerak lebih cepat dan tidak sesantai kungkang. Ada buku berjudul Who Moved My Cheese karangan Spencer Johnson (terbit tahun 2012) yang menceritakan empat tokoh, yaitu dua diantaranya kurcaci dan sisanya tikus. Keempat tokoh memiliki karakter yang berbeda dan berada di dalam labirin yang merupakan metafora dari kehidupan. Mereka mencari cara untuk mendapatkan keju yang merupakan metafora dari apa yang ingin dicapai di dalam hidup, seperti harta, pekerjaan, kesehatan, kedamaian, cinta, persahabatan, atau keluarga. Dari buku ini aku memahami kalau tidak ada kondisi yang stagnant, pasti akan selalu ada perubahan, tapi jangan takut. Perubahan itu pasti, kita harus selalu bergerak maju dan jangan terlalu lama meratapi perubahan yang terjadi. Buku berikutnya berjudul Berani Tidak Disukai karangan Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga (terbit tahun 2019). Buku ini berisi dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Melalui penjelasannya yang logis, filsuf membantu pemuda memahami cara menentukan arah hidup yang bebas dari belenggu trauma masa lalu dan beban ekspektasi orang lain. Ada buku berjudul Atomic Habits karangan James Clear (terbit tahun 2018) yang menceritakan tentang pemuda yang memulai kebiasaan baik sampai kebiasaannya mengantarkannya kepada kesuksesan. Apapun bisa menjadi mungkin. Ada novel berjudul Shopaholic Takes Manhattan karangan Sophie Kinsella (terbit tahun 2015) yang menceritakan tentang seseorang yang ‘gila belanja’ mendapat kesempatan bekerja di New York ketika mengikuti kekasihnya bekerja ke luar negeri dan banyak hal terjadi yang menyebabkan kerenggangan hubungan mereka.
Aku berlangganan Gramedia Digital hanya dua bulan, karena aku merasa mulai kurang nyaman jika membaca artikel yang panjang di smartphone-ku. Aku menyadari bahwa ternyata membaca buku memberikan banyak manfaat. Tidak berhenti sampai di situ, aku mengunjungi Gramedia offline store dan membeli beberapa buku untuk meneruskan semangat membaca. Ada buku berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck karangan Mark Manson (terbit tahun 2016) yang membuat aku berpikir kalau ada banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan dan seperti judulnya, mengajarkan seni untuk bersikap bodo amat. Ada buku berjudul I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpeokki karangan Baek So Hee (terbit tahun 2019) yang berisi dialog antara psikolog dengan seorang wanita yang memiliki banyak trauma masa lalu dan mempertanyakan setiap tindakannya yang menurutnya harus diubah. Psikolog disini membantu mengarahkan cara berpikir wanita tersebut agar merasa nyaman dan mencintai dirinya sendiri. Ada buku berjudul Rich Dad Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki (terbit tahun 2016) yang menambah perspektif baru tentang penulis yang dibesarkan dengan dua ayah dengan latar belakang ekonomi yang berbeda dan cara penulis memilih cara berpikir ayah mana yang bisa mengantarkannya ke kebebasan finansial. Ada buku berjudul Rich’s Dad Cashflow Quadrant karangan Robert T. Kiyosaki (terbit tahun 2017) yang menambah perspektif baru tentang pengelompokkan kuadran ekonomi setiap orang dan cara untuk berpindah antarkuadran. Ada buku berjudul Skill with People karangan Les Giblin (terbit tahun 2019) yang berisi cara untuk menjalin relasi dalam karier dan kehidupan sosial. Ada buku berjudul How to Respect Myself karangan Yoon Hong Gyun (terbit tahun 2020) yang berisi cara untuk menghargai diri sendiri dan menangani emosi negatif yang singgah dalam diri kita. Aku juga membaca novel berjudul Please, Look After Mom karangan Shin Kyung-Sook (terbit tahun 2020) yang mengisahkan tentang sebuah keluarga yang kehilangan ibu karena terpisah di jalan dan diceritakan berbagai perspektif dari suami, anak, dan menantu ibu tersebut. Buku ini sangat sedih, aku sampai lama sekali menyelesaikannya karena terbawa haru setiap membaca beberapa lembar. Suami yang selalu menyesali istrinya yang hilang karena tidak tahu jalan dan anak-anak yang menyadari kalau selama ini mereka tidak mengenal ibu secara personal sampai kehilangan ibu menjadi moment yang sangat mereka sesali. Suami dan anak-anak mengenang moment susah dan senang saat bersama dengan ibu. Ceritanya tidak berakhir bahagia karena ibu tidak kembali dan tidak dijelaskan dimana keberadaan ibu. Buku berikutnya berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down karangan Haemin Sunim (terbit tahun 2018) yang berisi banyak kutipan tentang sebuah hubungan, cinta, mindfulness, kehidupan, masa depan, dan spiritualitas yang membuatku merenungi sejenak bahwa banyak hal yang perlu diresapi di dunia yang super sibuk ini. Terkadang kita harus melangkah lebih pelan dan berhenti sejenak untuk bisa melihat bahwa banyak hal yang harus disyukuri dan banyak kebahagiaan sederhana yang baru terlihat kalau kita melambatkan langkah.
Setelah diingat-ingat, buku yang aku baca ternyata lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Ada sebanyak 14 buku. Aku setuju dengan quotes yang sempat kubahas di atas. Awalnya aku tidak menyangka kalau dampak buku bisa luar biasa besarnya, sampai sering timbul rasa bahagia tersendiri jika mengingat masih ada beberapa buku yang menunggu di rumah untuk dibaca. Mengingatkanku pada Bill Gates yang membiasakan membaca buku dalam perjalanan kariernya dan bahkan sampai sekarang masih tetap memiliki kebiasaan ini. Membaca buku akan aku jadikan gaya hidup baru karena banyak manfaat yang aku dapatkan, seperti menambah sudut pandang, menambah wawasan, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas, meningkatkan kosakata dan tata bahasa, dan mengintrospeksi diri karena beberapa buku berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Aku sangat bersyukur karena buku menjadi teman baik dalam perjalanan beradaptasiku selama pandemi covid-19 ini. Bahkan, bila pandemi covid-19 ini berakhir aku akan tetap melakukan kebiasaan baik ini. “That’s the thing about books. They let you travel without moving your feet – Jhumpa Lahiri”.











