Menghilang untuk Menemukan: Kembali Berkawan ditengah Ketidakpastian
Sejak kecil, buku sudah kuanggap sebagai sahabat terbaikku. Buku selalu menjadi teman yang siap sedia hadir di kala sedih, senang, kesepian, atau bahkan disaat-saat aku berada dalam kebisingan. Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika aku bisa asyik bercengkerama dengan buku. Menghabiskan banyak waktu berdua.
Meskipun terkadang aku juga merasa bersalah. Suatu hari aku pernah berjanji untuk bercengkerama dengannya setiap hari. Setidaknya dalam sehari aku meluangkan waktu sekian jam untuk membaca cerita-cerita miliknya. Tapi untuk merealisasikannya, memang tidak semudah ketika merencanakan. Bagaimanapun, janji adalah janji. Aku tetap harus berjuang untuk menepatinya.
Orang-orang mungkin melihat kami berdua seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Jujur, akupun terkadang merasa kehilangan apabila kami berjauhan. Kemanapun aku pergi, di dalam tasku kubawa serta kawanku itu. Lumayan, ketika diharuskan untuk menunggu sesuatu, maka akan ku manfaatkan untuk bercengkerama dengan buku.
Sedekat ini kami. Mungkin tidak ada yang mengetahui bahwa pada suatu masa aku pernah berjauhan dengan buku. Ada satu titik dimana aku menjauhi buku. Aku mengira bahwa bersahabat dengan buku adalah sebuah hal yang cukup membosankan. Namun sebetulnya ini juga disebabkan oleh faktor lain. Memang saat itu aku pernah tinggal di lingkungan yang melarang buku-buku tertentu. Hingga, kuanggap semua buku sama. Daripada aku lelah meminta kepastian, buku mana yang bisa aku ajak bercengkerama. Akhirnya aku putuskan untuk menjauhi teman masa kecilku itu.
Ya, waktu kecil aku bersahabat baik dengan Lima Sekawan, buah karya ibu penulis novel anak dari Inggris, Enid Blyton. Hampir setiap diselenggarakan pameran buku di kotaku, aku tidak pernah absen untuk membeli karya-karyanya. Tapi cerita George dan ketiga sepupunya adalah yang paling aku tunggu-tunggu. Petualangan mereka betul-betul menjadi cerita paling menarik buatku saat itu. Senang sekali aku bisa menamatkan ke 21 serialnya.
Bertahun-tahun kemudian, aku cukup menjaga jarak dengan buku. Sedih sekali rasanya, tapi waktu itu aku belum betul-betul merasakan kesedihan. Mungkin aku terlanjur jengkel dengan lingkungan yang sedikit ‘memaksa’ aku untuk menjaga jarak dengan buku. Kesedihan itu baru betul-betul aku rasakan, barangkali setahun terakhir ini. Ketika pandemi menerpa, dan aku kembali berteman baik dengan buku. Bahkan, buku membantuku untuk kembali menemukan diriku. Siapa diriku.
Meskipun pada saat-saat itu aku tetap mencoba untuk tetap dekat dengan buku. Hanya membeli. Kalau kantong sedang beruntung, ditambah diskon-diskon yang mendukung, aku sempatkan datang ke toko buku untuk menambah kawan-kawanku itu. Kalau toko buku online memunculkan pemberitahuan diskon, tidak lupa kusempatkan juga membeli buku. Hanya sebatas seperti itu. Untuk urusan bercengkerama, nanti sajalah. Begitu kataku.
Lantas, waktu itu sekitar bulan Maret. Bosan sekali rasanya, hanya mengurung diri di rumah. Menunggu 14 hari berlalu terasa sangat lama sekali. Sedihnya, setelah masa 14 hari itu masa ‘mengurung’ diri di rumah justru terus diperpanjang. Bahkan hingga saat ini. Akhirnya aku mencari cara untuk mengusir kebosanan. Kucoba datangi rak buku, menemui kawan-kawanku yang selama ini cukup terpampang disana saja tanpa ku ajak bercengkerama. Akhirnya ku ajak salah satu dari mereka untuk bercengkerama. Hingga terus berlanjut, ke kawan buku-buku lainnya.
Waktu itu juga menjadi waktuku untuk kembali berselancar di twitter. Beruntungnya aku menemukan salah satu akun base yang berbicara literasi. Padahal sudah lama sekali aku tidak tinggal di dunia per-twitteran. Entah kenapa, hatiku saat itu diarahkan untuk menuju ke sana. Aku semakin yakin, bahwa skenario Tuhan untuk mengembalikan persahabatanku dengan buku adalah sebuah rezeki yang sangat membahagiakan.
Dari akun tersebut aku bertemu dengan teman-teman bookmania lainnya. Mereka banyak sekali yang memberikan rekomendasi macam-macam. Jumpalah aku dengan salah satu buku yang sekarang menjadi kawan baikku. Buku yang mengisahkan perjuangan Biru Laut Wibisana dan kawan-kawannya dalam judul Laut Bercerita. Buku ini membawaku menyukai dunia sejarah. Entah kenapa, selama ini aku menganggap bahwa sejarah adalah hal yang sangat membosankan. Mungkin karena dipengaruhi proses pembelajaran di sekolah dulu, yang isinya hanya menghafal tahun dan nama-nama penting. Tapi buku ini berbeda. Ia telah membuatku jatuh cinta dengan sejarah.
Saking cintanya aku dengan Laut, aku membaca betul-betul apa referensi mba Leila dalam proses penulisan buku itu. Ternyata Anak-anak Revolusi Budiman Sudjatmiko adalah salah satunya. Langsung aku mencari di toko online gramedia.com. Mengharap bisa menemukan buku yang sudah terbit sekian tahun lalu. Ternyata versi cetaknya sudah tidak ada. Tinggal softfile, sementara mataku belum bisa diajak kompromi untuk bisa berkawan dengan buku softfile.
Akhirnya kucari buku itu di toko buku Gramedia di kotaku. Saat itu, toko buku di kotaku sudah mulai membuka diri untuk dikunjungi. Karena aku sangat rindu dengan suasana toko buku, bahkan aku pernah datang ke Gramedia Bookstore hanya untuk melihat-lihat buku. Tidak membeli satupun buku. Aku sungguh merindukan pemandangan buku-buku bertumpuk dan, tentu saja, bau buku baru.
Sampai mana tadi. Oya, buku Anak-anak Revolusi. Aku mencarinya di toko dan ternyata sudah tidak dicetak ulang. Sedihnya. Tapi, aku bukan orang yang mudah menyerah. Kuusahakan untuk mencari di marketplace lain, tapi mayoritas mereka menjual kawan-kawanku itu dalam versi bajakan. Aku sangat menghindari untuk memiliki barang hasil curian itu. Pada akhirnya setelah berulang kali mencari, aku menemukan buku itu di salah satu toko di Jawa Barat. Senang sekali rasanya.
Hingga saat ini, ku sadari bahwa buku ternyata betul-betul sahabat terbaikku. Aku merasa bahwa jalan kontribusiku, jalan kebermanfaatanku adalah melalui buku. Semoga. Aku bisa membagikan cerita dan banyak pelajaran yang aku dapatkan dari buku. Saat ini bahkan, aku sedang berusaha untuk merintis sebuah komunitas penggemar buku. Philo book, cinta kepada buku. Aku berharap komunitas ini akan benar-benar berdiri. Tolong doakan. Supaya semakin banyak yang merasakan kehangatan persahabatan dengan buku.
Harapan utamaku adalah, tidak akan ada orang yang pernah merasakan seperti aku, bagaimana sedihnya pernah jauh dengan buku. Bagaimana sedihnya pernah berjarak dan memandang buruk buku-buku. Memang, lingkungan mencintai buku harus diciptakan. Supaya tidak ada trauma-trauma dan stigma-stigma buruk terhadap buku.
Terimakasih banyak, buku! Kau telah membantuku dalam banyak hal!
Dan tentu, selamat ulangtahun penerbit favoritku sejak kecil! Semoga semakin menginspirasi para penduduk bumi pertiwi!















