It's okay if all you've done lately is surviving; sometimes, it requires a lot of effort but, despite everything, you're doing it.
trying on a metaphor
will byers stan first human second
DEAR READER
Game of Thrones Daily

No title available
dirt enthusiast

titsay
Sweet Seals For You, Always

if i look back, i am lost

ellievsbear

izzy's playlists!
Show & Tell
🪼
tumblr dot com
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Love Begins
KIROKAZE
taylor price

Kiana Khansmith

seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Croatia
seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from South Korea
seen from China

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from South Korea
@syaffata
It's okay if all you've done lately is surviving; sometimes, it requires a lot of effort but, despite everything, you're doing it.
Delapan tahun sejak ayah jatuh sakit.
Waktu yang cukup lama untuk membekukan sebuah perasaan, mungkin. Aku sudah bisa menceritakan kabar ayah dengan tersenyum pada teman. Curhat tentang ayah pada sahabatku, hanya sekedar cerita keluh kesah biasa.
Hari ini ayah lagi-lagi tidak ingat anak-anaknya.
Lagi-lagi ayah tidak sempat ke kamar mandi dan membuat lantai berantakan.
Lagi-lagi ayah memecahkan tiga buah piring.
Lagi-lagi ayah pergi ke mushola tanpa ada yang menjaga.
Lagi-lagi ayah bertengkar dengan Sofia berebut remot TV.
Cerita singkat seperti itu, yang aku ceritakan dengan enteng sambil tersenyum, ketika ada yang bertanya bagaimana kabar ayahku hari ini.
Delapan tahun telah berlalu. Delapan tahun "kepergian" sosok ayah dari hidup kami: aku, ibu, dan saudara-saudaraku. Suatu hal yang sulit untuk kami ungkapkan. Ayah ada, tapi tiada.
Sulit untuk menganggapnya ayah yang dulu, ketika tidak ada satupun jejak ayah dalam dirinya. Seolah digantikan oleh orang yang baru, yang baru berumur 5 tahun. Yang memorinya hanya bertahan lima menit. Pun kemampuan kognitifnya yang hilang begitu saja. Ayah menjadi seorang anak kecil tanpa kemampuan kognitif dan gangguan emosi.
Ah, aku kira delapan tahun waktu yang cukup untuk membekukan rasa sakit ini.
Nyatanya, hari ini, ketika lagi-lagi ayah membuat keributan, aku tetap menangis. Tidak ada tanda-tanda kemampuan ayah yang meningkat. Ayah yang tadinya seperti anak 5 tahun, berangsur menurun menjadi anak 3 tahun.
Ah.
Siapa yang bilang, "kamu mah mending Syaf, ayahnya masih ada, masih bisa dipeluk."
Lantas ketika tidak satupun jejak ayah yang lama ada dalam ayah sekarang, pantaskah berkata seperti itu?
Tidak ada satu yang lebih baik dari lainnya. Kami sama-sama berduka.
Ayah. Dirimu adalah ujian dan ladang pahala bagi kami. Semoga aku bisa bertahan, dan membalas sedikit jasa ayah yang telah membesarkanku selama 20 tahun.
“Sometimes you just need to disconnect and enjoy your own company.”
— Unknown
Bertemu dengan banyak orang itu menghabiskan begitu banyak energi. Bukannya aku tidak ingin bertemu atau bersosialisasi dengan orang lain, tapi aku lebih nyaman dan dapat mengisi energiku saat hanya seorang diri.
Di suatu hari yang sangat ramai, beberapa kali aku melarikan diri ke kamar mandi, kemudian duduk di atas toilet yang sudah ditutup lalu duduk terdiam. Akibat energi yang hampir habis, akibat bertemu banyak orang.
Berada di tengah keraiaman, aku akan otomatis mencari titik mana yang kosong atau yang paling sepi.
Dengan menyendiri, aku lebih mampu mengatur dan menata segala isi kepala. Memikirkan baik-baik apa yang ingin aku lakukan, memikirkan tujuan apa yang ingin aku capai, bahkan hanya sekedar mereset pikiran hari itu.
Tapi, aku malah tidak bisa pergi tanpa seorang teman. Sendiri di tengah keramaiab adalah hal yang menyeramkan. Maka harus ada setidaknya satu yang menemani. Tapi tetap saja, sedekat apapun orang itu, aku tetap butuh waktu sendiri.
That’s why I love to stay at home *another reason.
Ketika aku butuh sendiri, tapi rasa sepi itu tetap ada. Aneh memang. Ketika kebutuhan afiliasi harus terpenuhi dan digabungkan dengan tipe personality introver akut.
– Orang yang harus selalu diajak (atau bakal sedih kalau gak dianggep) walaupun akhirnya gak ikut-
“Time you enjoy wasting is not wasted time.”
— Marthe Troly-Curtin
“Sometimes you just need to disconnect and enjoy your own company.”
— Unknown
But I do this all the time.
Suatu Hari di Rumah Kami
Lagi-lagi ayahku mengambil gelas baru dari lemari. Padahal sudah ada enam gelas bekas ayah di atas meja makan.
Marah. Kesal.
Namun tatapan ibu tetaplah hangat, padahal aku baru saja membentak ayah yang hanya melakukan kesalahan sepele.
"Ayah hanya punya kalian," kata ibu seraya memandang aku dan saudara-saudaraku.
Aku diam, dengan hati yang masih kesal dan menunduk menatap pola lantai di bawah.
"Kalau ibu sakit maag, terus perut ibu sakit, apa salah?"
Aku menggeleng.
"Kalau ibu sakit flu, kemudian ibu pusing dan bersin-bersin, apa salah"
Aku kembali menggeleng.
"Ayah hanya sedang sakit," ucap ibu pelan.
"Kalau ayah tidak ingat siapa anak-anaknya, kalau ayah tidak ingat kalau ayah adalah ayah kalian, itu sakitnya. Kalau ayah sering marah tanpa alasan, ayah tidak mau bicara, ayah mungkin memukul karena kesal, itu sakitnya ayah."
Kami kembali terdiam.
"Ayah, hanya punya kalian."
Umur, mengapa begitu dipermasalahkan? Oleh banyak orang, termasuk diri ini.
Memori
Ada satu hal yang selalu aku lupakan saat menghadapi seseorang dengan dementia.
Bahwa satu kalimat sederhana bagiku, akan menjadi ribuan kata yang rumit dan tidak dapat dimengerti bagi mereka dengan dementia.
Maka tentu saja salah jika aku berharap mereka dapat langsung mengerti apa yang aku ucapkan, apa yang aku katakan, apa yang aku rasakan. Juga salah saat aku berharap mereka dapat melakukan sesuatu seorang diri, berinisiatif mengerjakan suatu hal.
Sulit sekali, untuk menerima bahwa semuanya adalah bagian dari penyakitnya. Saat kamu menyaksikan secara langsung betapa seseorang dapat berubah hanya dalam kedipan mata.
Memori yang telah terbangun puluhan tahun, hilang begitu saja digantikan oleh seorang baru yang terasa asing.
Orang-orang sering berkata, bahwa kami beruntung karena setidaknya kami masih berada di sisinya. Kami masih dapat melihatnya.
Tapi tanpa memori yang selama ini telah dibangun, tanpa kesadaran bahwa kami adalah keluarganya, dengan kondisi memory loss yang terjadi tiap beberapa menit, rasanya sulit untuk dikatakan beruntung.
Memori, kenangan, pikiran. Rupanya hal yang begitu penting untuk membangun seseorang. Karena ketiganyalah yang menjadikan diri kita saat ini, memberi nama pada diri kita, serta membangun siapa kita.
Apa yang sebenarnya aku cari?
Kalung Emas,
Waktu kelas 3 dulu (atau empat) saya merengek pada ibu dikarenakan iri. Itu penyakit saya dulu. Iri! Terutama dengan segala yang dimiliki oleh kedua kakak saya. Ah masa kecil, kadang ingin diulang, kadang ingin memarahi diri sendiri.
Alasannya yaitu kakak yang memiliki kalung. Padahal sudah cukup lama, pun dibelikan oleh nenek, bukan ibu. Namun entah angin apa saat itu, pokoknya saya juga harus punya. Titik!
"Sapa pengen punya kalung kaya kakak," kurang lebih seperti itulah, ucap saya pada ibu. Ditambah rengekan tentunya. Saya tebak saat itu ibu hanya menghela napas sambil bergumam, mulai lagi deh penyakitnya.
Namun saya yang masih kelas 3 SD saat itu, kurang lebih tahu, bahwa meminta kalung emas tentu bukan hal yang bisa dibeli keesokan harinya. Pun ayah tidak mungkin membelikannya cuma-cuma. Maka saya hanya kesal dan kembali merengek.
Tidak ingat persis bagaimana prosesnya, tapi datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Ibu memberikan saya kantung kain norak warna-warni, yang ketika melihatnya saya langsung tahu. Itu dompet nenek-nenek dari toko emas di pasar!
Saya bersorak seorang diri, senang bukan main. Akhirnya saya punya kalung sendiri!
"Itu ibu beli pakai uang sendiri, dijaga baik-baik," ucap ibu sembari memakaikannya di leher kecil saya dulu.
Saya hanya mengangguk-angguk tak sabar. Tanpa tahu pengorbanan apa yang ibu saya lakukan untuk permintaan nyeleneh saya dulu.
Terkadang ibu diminta untuk mengisi pengajian. Kemudian di akhir akan ada bingkisan untuk dibawa pulang. Terkadang ada selipan amplop dengan uang tak seberapa di dalamnya. Uang yang ternyata langsunh habis untuk dipakai membeli kalung itu.
Belakangan baru tahu, bahwa ibu tak pernah meminta apapun pada ayah. Tidak rumah, mobil, tas, perhiasan, mesin cuci, baju, bahkan sesepele makan di luar. Ibu terlalu sering memendam semua keinginannya seorang diri.
Dan ketika ibu memiliki uang sendiri yang bukan dari ayah, ibu justru menghabiskannya untuk saya. Anak tengah yang paling bermasalah dan sering mengeluh.
Ah, saya.
When I get hurt by someone's mere words, someone might also got hurt by my mere words.
“Strength grows in the moments when you think you can’t go on but you keep going anyway.”
— Unknown
Keep going anyway.
Even if you feel down, there must be a pinch of happiness somewhere.
Stay humble. Stay happy. Stay simple. Stay single.
“Let yourself be strangely drawn by the quiet pull of what you really love. It will not lead you astray.”
— Rumi
And keep my mind intact.
Should I or Should not I.
I don't like talking. Speaking. Telling others what's on my mind.
I don't like going outside. Seeing in front of public. Besides, choosing what outfit should I wear outside is exhausting me. My house is indeed my only safe haven.
I don't like texting. Chatting. Video calling. Or even just audio calling. I feel uncomfortable with all of that. I don't like keeping my phone next to me.
And I like observing. Staying low profile. Keeping my self hidden from the rest of the world.
So, if you find me being nosy, annoying as hell, can't stay still, always bothering you with unimportant text, calling you out of blue, and always say yes whenever you asked me out, you must be someone special then.