Kemarin saya bertemu dengan salah satu karyawan yasasan sosial di Surabaya. Blio ke kantor saya untuk menyerahkan BAST (Berita Acara Serah Terima) barang bantuan yang blio donasikan ke tempat saya bekerja. Sambil menunggu urusan administrasi selesai, saya mengobrol dengan blio sebentar.
Ternyata yayasan tempat blio bekerja ini sudah berumur lebih dari 60 tahun. Luar biasa sekali menurut saya, karena untuk mendirikan yayasan sosial itu tidak mudah. Dulu saya pernah bersama beberapa orang berusaha untuk mendirikan yayasan sosial di bawah naungan sebuah organisasi keagamaan yang besar. Pada saat seminar/pelatihan diceritakan kalau potensi donasinya dari masyarakat sangat besar. Kemudian program - programnya juga bagus. Bagus karena tidak sekedar memberikan donasi, tetapi ada program pengentasan kemiskinan, dimana penerima nanti diberikan pelatihan tentang wirausaha, kemudian dibantu modal awalnya. Jadi nantinya tidak bergantung terus pada uang pemberian, tapi dilatih untuk mandiri.
Singkat cerita, ternyata ada banyak gesekan di dalam anggota tim. Dan satu persatu tim nya menghilang.
Lanjut ke teman saya yang tadi. Blio cerita kalau memang tidak mudah dalam mencari donatur. Adapun di yayasan beliau donaturnya bukan hanya dari dalam negeri, kebanyakan malah dari luar negeri. I see... pantas saja mereka bisa survive sekian lama.
Kemudian beliau juga bercerita tentang program pengentasan kemiskinan, serta program pembelajaran. Untuk program pembelajarannya biasanya di target daerah - daerah yang agak terbelakang secara sosial dan ekonomi, seperti di daerah dekat lokalisasi dan semacamnya.
Kemudian saya bertanya: "Lho Bu, kalau untuk program pembelajaran untuk anak-anak ini modelnya seperti apa ya? Seperti les begitu kah?"
"Biasanya awalnya seperti itu mas. Ada pendampingan dari tutor2. Rata2 tutor kami lulusan S1 yang kebetulan masih belum dapat kerja kami berdayakan. Nanti kami ganti uang transport nya. Terus nanti biasanya gak cuma belajar saja, ada sharing tentang ilmu yang lain, ataupun nanti ada program sendiri yang diinisialisasi oleh tutornya"
"Kalau pembelajaran buat anak - anak itu memang efeknya tidak terlihat langsung ya bu. Hasilnya mungkin setelah beberapa tahun ke depan ya?" , Tanya saya.
"Benar sekali mas, jadi dulu kan pernah, saya ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Kemudian saya bertemu dengan seorang suster di situ yang kemudian menyapa. Saya bertanya2 siapa orang ini. Dan ternyata dia bilang: Ini aku mbak, yang dulu beberapa tahun yang lalu mbak ajarin. Alhamdulillah mbak.. sekarang seperti ini."
Waktu mendengar cerita ibu tersebut saya agak mbrebes mili, teringat masa lalu saya mungkin hampir sama dengan cerita si anak yang dulu beliau bimbing.














