Ah, aku bingung harus mulai menulis darimana.
Mungkin akan aku memulai dari perasaanku padamu saja. Karena kamu tahu bukan, aku seorang wanita yang tidak pandai mengutarakan perasaanku lewat ucapan. Jadi biarlah aku tuliskan perasaanku yang sebenarnya disini.
Teruntuk seorang tuan yang pernah mengisi hati dan hidupku selama hampir 3 tahun ini. Aku sangat menyayangimu.
Aku bukan perempuan yang mudah untuk jatuh hati, apalagi mudah untuk menggunakan segenap perasaan dalam suatu hubungan. Tapi denganmu berbeda. Aku benar-benar mengesampingkan ego dan logikaku saat aku bersamamu. Aku juga tidak menyangka kenapa semudah itu memberikan seluruh perasaanku padamu, bahkan ketika kamu menyakitiku dan berkali-kali kamu melewatkan kesempatan yang sudah kuberikan padamu, aku tetap memilih memberikanmu toleransi, melawan rasa sakitku sendiri dan terus mendengarkan hatiku untuk selalu memaafkanmu. Jika itu aku yang dulu sudah pasti aku dengan mudah akan melepaskanmu karena kesalahanmu sendiri.
Mungkin karena diawal hubunganku dan kamu, aku sudah berkomitmen dengan diriku sendiri "untuk hubunganku kali ini akan kujadikan hubunganku yang terakhir dan berakhir di pernikahan".
Hingga saat ini hubunganku dan kamu berakhir, tidak ada yang berubah. Sejak aku jatuh hati denganmu aku tetap akan terus menyayangi dan mengasihimu meskipun kali ini hanya lewat doa. Aku akan tetap selalu tersenyum mengingat hal-hal kecil tentangmu dan bagaimana aku membersamaimu selama kamu bangkit dari kesulitanmu hingga kamu bisa berdiri ditempatmu sekarang. Aku sangat bangga pada prosesmu. Aku mensyukuri dengan teramat sangat akan kehadiranmu di hidupku. Aku mensyukuri semesta mempertemukanku denganmu. Aku bersyukur pernah merajut kasih bersamamu. Aku sangat amat mensyukuri kamu pernah memberikan kasih sayangmu kepadaku. Dan aku sangat amat bersyukur untuk semua hal yang pernah kita perjuangkan bersama.
Kali ini aku benar-benar melepaskanmu. Aku tidak ingin meminta apapun darimu selain berproseslah agar kamu menjadi manusia yang memiliki pemikiran dan empati yang begitu luas, belajarlah untuk konsisten terhadap segala hal yang kamu usahakan, kemudian berbahagialah tanpa aku. Berbahagialah dengan pilihanmu kelak, tuan. Berbahagialah tanpa aku. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Bukankah bentuk mencintai paling tinggi adalah merelakannya bahagia bersama seseorang yang dia pilih? Jangan kasihani aku, tuan. Hidup akan terus berjalan bukan? Lanjutkanlah hidupmu, kejarlah keinginanmu, dan berbahagialah disana.
Aku disini akan selalu menyayangimu dengan setulus hatiku. Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu, tuan. Aku tidak akan mengganggumu lagi agar kau bisa hidup lebih tenang.
Tuan, terima kasih. Terima kasih, ketika aku bersamamu banyak hal yang bisa aku pelajari darimu. Terima kasih, untuk segala hal yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan dari siapapun.
Kamu tahu tuan? Pada titik terbaik dan terburukku sekalipun, aku tetap akan selalu memilihmu meskipun aku tahu kamu sering kehilangan kesabaran ketika menghadapi suasana hatiku yang tidak menentu. Aku tetap akan selalu memilihmu meskipun aku tahu kamu kebingungan menghadapi pemikiran dan sikapku ketika aku sedang mengalami relapse. Maafkan semua kekuranganku itu ya tuan, hehe. Tapi kamu harus tahu, sebenarnya aku sangat amat menyayangimu dengan tulus. Aku membutuhkanmu, tapi aku tahu lebih baik aku pergi daripada membuatmu merasa lelah dan tidak nyaman. Aku akan belajar dari awal lagi untuk membiasakan diri tanpa bergantung pada orang lain termasuk pada kamu.
Bagiku kamu cukup. Bagiku kamu adalah sosok yang sempurna dengan segala ketidak sempurnaan dan kekuranganmu. Tapi aku tidak tahu apakah bagimu aku juga seperti itu? Biarlah kamu dan semesta yang tahu kebenarannya.
Aku pergi. Berbahagialah selalu kamu disana, tuan.
- Malang, 13 Nov '22.