I dont have nice tittle for this bad writing
Peringataan dini. | Ini hanya tulisan pesimis dan kacau yang keluar dari kepala yang habis dicekcoki situasi yang sama kacaunya. | Jangan berharap lebih, syukur-syukur kalau layak ditimpuk bata!
-------------------------->>>>>>>>>>>>>>>>>
Telepon berdering tiga kali jeda semenit kira-kira kemudian berdering lagi. Aku mendengar sesungguhnya meskipun di telingaku terpasang earphone tanpa bising lagu atau suara seseorang dari kejauhan yang hari ini kuinginkan. Kulihat wanita bertubuh semampai muncul dan bergegas menyambar telepon dengan kasar. Aku tidak peduli, aku memakai earphone. Alibi yang bagus. Pasti ia merasa dongkol mendapatiku duduk santai dengan penyumbat kuping. Masih bisa kudengar ia mengeluh, "Pantas saja, uh!"
Kupandangi langit-langit sambil memperhatikan diam-diam tingkahnya. Ia nampak agak terkejut karena sesuatu yang disantap pendengarannya. Siapa sih yang menelepon? Dalam hal ini aku tidak punya jurus tebak-menebak yang jitu. Dan sedikit saja yang kutangkap dari pembicaraan wanita itu. Seperti mencoba menyusun kepingan puzzle. Kepindahan, bangkrut, masa depan, kuliah, beberapa potongan-potongan puzzle kusimpulkan sendiri di kepalaku. Yang menelpon itu, mengharapkan sebuah tempat bertahan demi menjangkau masa depan. Lalu apa hubungannya dengan ibu tiriku? Bukankah katanya dulu ia sebatang kara? Aku benci menghadapi situasi tak terjangkau nalarku.
Kepingan puzzle terpecahkan esok paginya. Seorang anak muda seumuranku mematung di ambang pintu dengan tas besar di sisinya yang sengaja dijatuhkan, mungkin karena isinya terlalu berat untuk terus menerus dibebankan pada pundaknya. Sempat kulihat ia memukulkan tangannya yang tergempal ke balik punggung atas dari gorden yang kusibak sedikit sebelum membukakan pintu.
Mata kami bersitatap sepersekian detik, ia mengulum senyum tanda kesopanan dalam menghadapi orang asing yang harusnya ia tahu siapa. Maka ia memutuskan tersenyum sebagai cara terbaik membuka diri. Ini pikiranku selintas seusai perkenalannya.
“Aku tidak terkejut, aneh saja! Ya sudah masuk!” Kuantar ia menemui ibu.
“Buuu!” teriakku lembut sembari mengedarkan pandang mencari sosoknya yang sempurna di mata ayah.
“Mungkin sedang di dapur, tunggu di sini. Oh ya, duduk saja!” Aku menjulurkan tangan mempersilakan.
Di dapur ibu tengah membikin aneka masakan lengkap disertai makanan pembuka serta pencuci mulut. Amat jarang ia memberlakukan serangkaian adat makan orang barat. Atau kedatangan tamu istimewanya kali ini alasannya.
“Anak itu sudah di depan!”
Kalimatku membuatnya bergegas, ia melepaskan celemek, menaruhnya sembarangan. Salah satu ujungnya bahkan hampir tercelup ke mangkuk sup.
“Ikut ibu ke depan, kukenalkan lebih jauh soal Ardi. Ibu sudah membicarakan masalah ini dengan ayahmu. Kuharap kau menerima Ardi baik-baik!”
Berdua, aku dan ibu berjalan menuju ruang tamu. Aku menahan diri tidak mengeluarkan komentar. Otakku mencerap kejadian barusan, membandingkan hari-hari ke depan bersama orang asing kedua di hidupku. Bukankah dua kali lipat ketidaknyamanan akan menyerangku sepanjang waktu.
Riwayat ibu tiriku dan Ardi tidak berbeda jauh. Mereka dibesarkan di panti asuhan yang diperuntukkan bagi korban bencana tsunami yang menerjang Aceh beberapa tahun lampau. Usia mereka terpaut dua puluh tiga tahun. Semenjak Ardi kecil dititipkan seorang relawan untuk di asuh di tempat ibu juga diasuh, ibuku begitu menyukai Ardi. Ia menganggap sekaligus memperlakukan Ardi selayak anaknya sendiri. Aku tidak ingin mengakui aku agak mencemburui mereka berbincang sangat hangat suatu ketika. Sesungguhnya aku merindukan ibuku, ibu kandungku. Namun ia lama tenang berselimut tanah.
“Ngelamun nih?” suara Ardi mengesalkanku walaupun detik yang berputar telah merubah hubungan kami semakin baik. Berkatnya pula hubunganku dengan ibu tiriku melewati tahap kritis. Semua berjalan lancar, tak terduga.
“Balik ke masa-masa dulu sebentar, nggak salah kan?” kataku meminta sarannya.
“Jika menurutmu itu berdampak positif, lanjutkan saja!” ia tersenyum. Entah kenapa kurasai senyumnya mendesirkan kesejukan, mengalahkan semilir angin sore ini. Aku mengalihkan perhatian ke obrolan lain. Tentang kepindahan kuliahnya di kampusku.
“Eh, gimana perkembangan kuliahmu? Kerasan kuliah di kampus biru?”
“It’s better. Not to worry about...”
“Oh my God, you’re english student. I almost forget it. Don’t let me look like idiot beside you. I have so many english task. Help me, please!”
Cukup. Aku tidak bisa memetastasiskanmu dengan imajinasiku bernama Ardi maupun menyuguhkan seorang ibu tiri yang memiliki kasih sayang pada Ardi. Serta menjadikan diriku gadis tak bernama yang telah kehilangan ibu. Aku punya nyali walaupun sedikit untuk melanjutkan potongan cerita ini sesuai kebenaran yang kutimbang sendiri.
Kami bersisian menyisir setiap toko DVD. Beberapa yang telah kami kunjungi tidak menyediakan kaset yang sedang kucari-cari. Memang kaset audio drama itu terlalu tidak populer dan jauh dari selera pasar sekarang. Aku hampir menyerah, tidak ada jalan lain termasuk mengunduh di internet. Dosenku bukan tipe orang yang tidak menghargai karya. Setidak-tidaknya bila kutunjukkan bukti bahwa aku membeli online di situs yang menjual versi original pun jawabannya sama saja, tetap tidak mau menerima pertunjukanku dengan iringan narasi kaset abal-abal.
"Harusnya kita mengajak serta Dosenmu itu!"
"Harusnya aku tidak usah mengambil mata kuliahnya sekalian!"
"Hussy, jangan menyerah! Selesaikan!"
Benar, ini mata kuliah terakhir yang belum kurampungkan. Aku mengangguk menyetujui.
Sampai larut kami masih mengupayakan untuk mendapatkan keberuntungan. Tapi detik ini habis sudah daya yang kukeluarkan. Aku menangis.
"Kita pulang dulu, masih ada waktu besok." Dia menenangkan atau juga mengalah kalah.
Ajari aku bagaimana menunjukkanmu, melepaskanmu dari sini (tunjuk dada), dari sini (tunjuk kepala). Alur maupun klimaks yang nyata justru menjerumuskanku pada stagnasi.
** Seandainya jalan yang kutempuh hanya lurus ke depan, seandainya kau tidak menerobos jalanmu sendiri. Dan aku adalah burung yang terbang bebas. Tidak terantuk di toko DVD.
Ardi menontonku merampungkan dialog di dekat tepi jendela ruang kelasku. Ia memandang jengkel pada dosenku. Tapi pada akhirnya kami merayakan keberhasilanku menuntaskan mata kuliah terakhirku.
"It was not good enough to feel."
Kami duduk berdampingan di selasar kafe, menyeruput sore yang terbenam perlahan.
"But you did the best you could!"
Bahkan aku sudah memikirkan kebersatuan di penghujungnya. Itu tidak lantas membantu sama sekali. Aku ingin berhenti. Berhenti menulis ini. Besok kuracik lagi Ardi, Ibu, dan aku sendiri yang asli.