Cala Ibi oleh Nukila Amal
...berkali-kali aku menatap wajah seorang pria dengan bekas luka di wajah, di meja sebelah. Bekas lukanya membujur turun dari pelipis ke rahang, biru ungu. Aku menatap sinar kuning yang melintas turun dari atas kepalanya, jatuh di sepanjang pipi kanan dan bahu, berpikir, akhirnya, inilah seorang pria yang bisa kucinta. Akhirnya, inilah seorang pria yang pernah berdekatan dengan kematian, menatap gelap raut maut, segelap wajahnya segelap Bacardi Cola dalam gelas. Akhirnya, inilah pria dengan luka, manusia, yang tak coba menyembunyikan duka di wajahnya. Hampir mati, hampir marti, selamanya martir, untuk sesuatu sebab yang diyakininya begitu rupa hingga bertaruh nyawa ...
Ia berdiri, martirku berdiri, aku melihat punggungnya menjauh. Punggungnya seluas sabana, mungkin ada bekas luka lain di sana, panjang seperti ilalang (aku ingin menyusuri garis ungu itu dengan jariku, dengan bibirku). Pria terluka kembali. Ia berjalan dengan langkah pelan di antara umat manusia, seakan waktu telah dibuangnya, tak ada lagi, tanpa benam matahari bulan purnama. Ia duduk bersandar (seperti lelah), menyulut sebatang rokok. Pemantik menyala sejenak memperlihatkan pipinya biru ungu, rerumputan tundra di rahang dan dagunya, kerut gelombang laut di dahinya. Helai-helai rambut jatuh di gelombang laut dahinya, bagai layar-layar tipis hitam, ia tanpa angin tanpa kapal tanpa pelabuhan tanpa utara tanpa lentera (seperti lelah, ia ingin menepi).