Di antara wewangian aroma nostalgia dan samudra, kenangan-ingatan bertumbukan di benak kala ombak bergulung-gulung ke arahnya. Ia rasakan sengatan-gigitan pasir di kulitnya yang lembut. Betapa ingin ia terbebaskan dari gamis hitam yang memeluk erat tubuhnya. Ia benamkan jemari kakinya ke pasir basah, dan jejak kakinya, seringan kupu-kupu, segera lenyap tanpa bekas. Ia melangkah ke depan, takut-takut akan apa yang bakal terjadi. Kakinya terperosok dalam ceruk, terlalu dalam untuk melepaskan diri. Tetapi, ia terus melangkah, senang karena telah terjerumus. Tungkai gading itu telah sepenuhnya basah dan butiran pasir keemasan, berkilauan di sekelilingnya.
Ia berenang lebih jauh. Air mersap ke bawah pakaian hingga menggelembung di sekitarnya. Ia rasakan gelenyar mendebarkan yang hampir tak tertahankan. Gairah itu bertumbuh begitu ia melanjutkan langkahnya, tanpa menyadari kulit kerang melukai telapak kakinya, menjadikan momen itu terlengkapi oleh beberapa tetes darah wanita. Rasa sakit dan gairah mencengkeram tubuhnya. Buih laut mengelilinginya bagaikan gelang madu yang berpilin-pilin dengan aroma arum manis, tepiannya berkilauan dengan cahaya keemasan tatkala buih itu menyerap nektar dari matahari yang melayang di awang-awang.