jakarta.
seen from Canada
seen from China

seen from France
seen from Kazakhstan

seen from T1
seen from Singapore
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Italy
seen from Russia
seen from United States
seen from China
seen from Sweden
seen from Italy
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Belarus
jakarta.
Cala Ibi oleh Nukila Amal
...berkali-kali aku menatap wajah seorang pria dengan bekas luka di wajah, di meja sebelah. Bekas lukanya membujur turun dari pelipis ke rahang, biru ungu. Aku menatap sinar kuning yang melintas turun dari atas kepalanya, jatuh di sepanjang pipi kanan dan bahu, berpikir, akhirnya, inilah seorang pria yang bisa kucinta. Akhirnya, inilah seorang pria yang pernah berdekatan dengan kematian, menatap gelap raut maut, segelap wajahnya segelap Bacardi Cola dalam gelas. Akhirnya, inilah pria dengan luka, manusia, yang tak coba menyembunyikan duka di wajahnya. Hampir mati, hampir marti, selamanya martir, untuk sesuatu sebab yang diyakininya begitu rupa hingga bertaruh nyawa ...
Ia berdiri, martirku berdiri, aku melihat punggungnya menjauh. Punggungnya seluas sabana, mungkin ada bekas luka lain di sana, panjang seperti ilalang (aku ingin menyusuri garis ungu itu dengan jariku, dengan bibirku). Pria terluka kembali. Ia berjalan dengan langkah pelan di antara umat manusia, seakan waktu telah dibuangnya, tak ada lagi, tanpa benam matahari bulan purnama. Ia duduk bersandar (seperti lelah), menyulut sebatang rokok. Pemantik menyala sejenak memperlihatkan pipinya biru ungu, rerumputan tundra di rahang dan dagunya, kerut gelombang laut di dahinya. Helai-helai rambut jatuh di gelombang laut dahinya, bagai layar-layar tipis hitam, ia tanpa angin tanpa kapal tanpa pelabuhan tanpa utara tanpa lentera (seperti lelah, ia ingin menepi).
Cala Ibi oleh Nukila Amal
Aku bersetelan. Aku bercelana panjang, rok selutut, stoking hitam, skarfku melingkar di leher, motif pakis, garis, tartan; baju-baju zirahku menghadapi dunia. Aksesori di telinga dan jari. Serasi. Rapi jali. Bibir dan kuku cat warna bunglon, berubah-ubah warna sesuai setelan, situasi, juga suasana hati (mengapa ada pakaian dinamai blazer, mengingatkanku pada mobil penjelajah gurun pasir sungai lumpur—tak mengena). Aku tampak menarik, metalik. Tapi aku paling manis ketika bangun di pagi hari, tanpa segala rias dan aksesori, rambut jatuh ke mana-mana; di bantal, mata, wajah, senyum. Aku tersenyum, ingat semalam aku bermimpi manis sekali.
Mungkin belum usai , atau tak pernah usai. Bukan karena ditinggalkan, kehabisan bahan atau nyali, tapi berhenti saja. Seperti sebuah kalimat yang tahu harus berhenti ketika bertemu titik – usai segala huruf hidup dan mati. Titik sunyi. Seperti semesta malam ini. Akankah berlanjut, ataukah tak berlanjut, kau merasa tak perlu mempersoalkannya. Karena hanya ada saat ini. Di sini.
Cala Ibi