Calum and Ashton on stage in Saitama while 5SOS were opening for One Direction on the OTRA Tour — Mar. 2nd, 2015
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Italy
seen from Syria
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Italy
Calum and Ashton on stage in Saitama while 5SOS were opening for One Direction on the OTRA Tour — Mar. 2nd, 2015
Luke and Michael on stage in Saitama while 5SOS were opening for One Direction on the OTRA Tour — Mar. 2nd, 2015
Luke in a friend's IG post — Mar. 2nd, 2015
Malam itu
Aku dan malam itu entah bertemu entah tidak, tapi siapa yang membawaku malam itu seperti menghilang, kondisiku yang hampir sepenuhnya tak sadarkan diri itu entah membawaku kemana. Mungkin al-kohol dan lainnya telah menerobos merusak kesadaranku. Aku berteriak, memaki, menendang dan entah apapun yang ada disekitar. Meracau tak jelas sekenanya. Memang parah, keadaan yang sedang memuncak melepaskanku dari kontrol apapun, sangat jauh dari nilai-nilai para moralis. Berbicarapun entah apa yang dilontarkan, dibarengi dengan kesinisan yang dibarengi nada-nada tinggi. Ulahku memang sangat mengacaukan suasana, mungkin banyak orang yang sangat tidak menyukaiku, bahkan membenci karena ulah sikapku, tapi itulah aku malam itu, sikap yang sudah tak berbicara benar-salah atau baik-buruk. Ahh memang keadaanku sedang tak ingin mempedulikan apapun saat itu, aku tak peduli. Malam yang sangat penuh goncangan, menggetarkan seluruh tubuh ini sampai menuju urat saraf di kepala. Naluriku malam itu yang memenangkan kuasa atas diriku ini. Tak ada lagi pengendalian, aturan, etika, bahkan siapapun yang menghalangi. Aku berfikir apakah ini gila atau waras? dan untuk bisa dibilang normal itu apakah memang ada etika dan ketentuan2 tertentu yang harus dipatuhi dan ditaati, apakah dikte moral itu emang sekedar doktrin warisan jaman? atau manusia memang memilih kesadaran untuk idealismenya sendiri, tanpa harus disamakan dengan standarisasi kesepakatan umum lain, walaupun itu sangat individualis dan egois. Misalnya, apakah ada takaran matematis untuk mensistematiskan sebuah nilai ideal manusia itu sendiri?? disetiap pribadi diri masing-masing. Atau karena kita memang enggan menjadi seperti orang dewasa dan yang seperti itulah seharusnya, melalui cara dan ritme sudah sama saja membosankan dengan siklus yang terkadang konyol.
Saat itu, dimalam itu hilangnya kontrol diri yang terhempas oleh tekanan situasi terkadang tiba-tiba datang seperti tak bisa dikompromikan kembali. Aku sangat membencinya dan ingin marah sekali, tetapi aku takut. Entah takut seperti apa yang menghantuiku. Ketakutanku hanya takut menyakiti orang-orang yang ada disekitarku. Tetapi malam itu aku benar-benar hilang melepaskannya.
Aku menuju pulang seorang diri berusaha menjauh dari kerumunan orang-orang, karena takut itu. Di akhir malam menuju hampir pagi menghadap sang fajar yang sedang bersolek, bersiap menghadap buminya. Aku menaiki motor ditengah jalanan yang terhimpit gedung-gedung menjulang, diantara subuh yang hening. Ditambah pikiran yang kalap itu tiba-tiba tak menentu terbayang sesuatu yang tak kuinginkan itu mengapa datang, dari segala soal yang tak seharusnya ada lagi. Aku berteriaaak menghempaskan suara-suara emosiku. Menantang keyakinan yang hanya menggumpal sekedar menjadi kemarahan. Dan posisiku masih mengendarai motor dengan kecepatan yang tak menentu, hingga entah tak tau mengapa tiba-tiba saja motor sialan itu matii. Kuberhenti sejenak, mencoba menyelah-nyelah motor tersebut, dibarengi dengan tensi emosi yang tak karuan, tetapi motor itu tak kunjung menyala. Hingga aku kelelahan dan mendorong motor sekerasnya ke tengah jalan yang kebetulan kosong. Akhirnya aku terduduk di pinggir jalanan sambil mencoba menenangkan diri, hingga tubuh terbaring di sisi trotoar. Dan mataku memandang ke atas, melihat bentangan langit yang luas hingga tertidur sejenak.
Sampai sang fajar mulai terbit sambil diiringi alunan adzan saat itu, ada seseorang membangunkanku, dan langsung menanyakan kondisiku pada saat itu. Mungkin orang menyangka aku kecelakaan. Tapi aku lekas menjawab bahwa aku baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa, hanya saja motorku mogok. Dan orang itu lantas menawarkan bantuan, untuk menyetep motor-CB sialan ini. Aku meng-iya-iya-kan saja, lalu ia menanyakan arah tujuanku kemana, dan aku menjawabnya di sekitaran tamansari. Setelah di tamansari aku bingung mau kemana, karena sebenarnya tempat tinggalku masih cukup jauh dari sini, yaitu di sekitaran pajajaran. Tetapi karena aku tak enak jika harus meminta ia menyetep terlalu jauh, dan aku meminta berhenti saja. Dan tak lupa mengucapkan terimakasih banyak padanya.
Dan aku memutuskan untuk menginap saja di tempat kost-an kawanku yang ada di sekitaran tamansari. Aku langsung bergegas menuju tempatnya tersebut. Sampai-sampai setelah aku sampai di depan kamarnya aku harus mengetuk cukup lama pintu kostnya sampai dibukakan. Dan setelah pintunya itu terbuka aku langsung bergegas menuju tempat tidur dan merebut selimutnya. Hingga kawanku itu kebingungan dan menanyakan, “kunaon ari maneeehhhh.” Aku lantas menjawab, “kedeuiii weeh nyak, emmmmh.” Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
Patahan-15
Hoje não consegui dormir e nem de deixar de pensar em uma das coisas mais importantes da minha vida, que é você! Queria poder arrumar uma forma de poder te surpreender ou pelo menos deixar aquele sorriso bobo e lindo no seu rosto, por mais que eu não possa ver e só ficar daqui imaginando as suas reações! Sabe, a cada momento do dia, a todo instante, a nossa vida passa por oportunidades, escolhas, desafios.. E nesse meu instante, eu estou sendo capaz de parar mais uma vez e pensar no tanto e no quanto você é essencial na minha vida. Todas as suas formas, os seus jeitos, seus diferentes modos de sorrir, e brincar comigo, me dar beijo, me fazer rir, as suas expressões, seus olhos, o seu jeito de colocar as mãos no meu rosto e me olhar, dizendo com eles que quer dar beijo, que me ama e que está ao meu lado. Tudo e bem mais que isso, me faz perceber que é por cada detalhe que eu te amo. É pelos seus defeitos que eu posso melhorar os meus e entender o quanto vale a pena apenas saber que o nosso amor está acima de todas as coisas desse mundo! Eu te amo, porque você é e pra sempre será a melhor coisa que a vida pôde colocar na minha, para aprender, crescer, viver e saber amar! Te amo porque é no seu abraço e somente no seu, que eu encontro a minha paz e percebo que é unicamente do seu lado a razão da minha felicidade! Pode ter certeza, eu te amo pra sempre, porque sei que é além dessa vida, foi além de todas aquelas outras passadas, e vai ser além de tudo! Me perdoa por tudo, pelos meus erros, por eu ser insuportável, mas saiba e pode acreditar, por você eu faço tudo! Te amo minha paixão, minha razão, meu bem querer, minha alma, meu amor!
Evelyn