Tali itu melilit tubuhnya dan melingkari mengelilingi badan yang kurus ini, sampai jari-jari kelingking juga terlilit kaku. Ikatan yang begitu kuat, semakin ingin melepaskan, semakin ia lebih keras lagi mengikat. Entah dari mana atau siapa yang melakukan ini, ia masih ragu-ragu dengan semua ini, seakan itu hanyalah khayalan imaji yang menjadi-jadi. Seperti cerita kuno tentang mumi yang terjebak dalam sebuah peti yang disimpan di tengah-tengah labirin selama ratusan tahun, hingga tersesat untuk menemukan jalan pulang. Siapa ini! Mau apa kau mengganggu. Entah ia marah pada siapa, bersedih pada siapa, berdoa pada siapa, semuanya masih samar untuk diungkapkan. Keresahan yang ambigu itu bagaikan metafor di kesehariannya yang kian hari semakin memunculkan putaran pertanda secara diam-diam yang malu. Dengan daya yang keras kembali ia mencoba melawan kembali tubuhnya itu dalam kegetiran. Semakin menyakitkan, semakin rumit, semakin rumit, itu yang terjadi.
Kodir tak bisa kemana-mana, ia masih saja terjebak. Walaupun ia bisa pergi kesana-kemari mengunjungi tempat-tempat ramai, ia tetap saja seperti masih terikat tak bisa kemana-mana. Entah terikat apa itu, Kodir pun tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Layaknya tali itu semakin mengikat erat mengelilingi tubuhnya. Menutupi diri dengan jarak yang secara tak sadar mengikat mengelilingi dirinya sendiri. Secara perlahan Kodir mencoba beberapa kali untuk melepas lilitan itu. Dengan cara apapun ia selalu berharap bahwa ada sesuatu yang dapat dimengerti olehnya. Ia dapat merasakannya melalui beribu pertanda yang dapat membuat ia kembali waras.
Masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang ia coba mengerti dan mungkin bagi segelintir orang tak mudah mengerti. Walau ia masih saja dengan wataknya yang bebal. Malah semakin mengutuk dirinya dengan pilihan-pilihan yang membuatnya menyulitkan. Bahkan ia telah keluar terlalu jauh dari kedalaman dirinya, menghancurkannya dan membuang segala tentang aku yang menurutnya sakit itu, dan segala amukannya masih bergelora. Seperti bagian pelarian yang begitu saja mengacak-acak suatu tempat dan pergi begitu saja semaunya tanpa permisi, hingga ia lupa untuk menemukan jalan pulang kembali. Jalan pulang bagi Kodir sendiri adalah momen yang ia rindukan, ia sering terjebak dalam beribu jalan yang ia tuju, walau ia bisa pergi kemana saja sesuka hatinya, sampai-sampai tersesat. Tetapi hati kecilnya tak bisa dibohongi, karena kejujuran hati itu tak mempunyai nilai materi dan kali ini ia mulai menyadarinya sedikit berbeda. Ia mencari jalan pulang yang benar-benar jujur.
Dalam perjalanannya ia seperti mengulangi pengalaman mimpinya. Ia rindu banyak sekali hal dalam kehidupan terdekatnya, masa kecil, ayah-ibu, kakak, sahabat dan sanak saudaranya. Walau kekecewaan masa-masa lalunya banyak membuatnya menyesal, banyak yang telah hilang merenggut dari dirinya dan pusaran masa lalu yang masih terkadang berputar tiba-tiba. Tapi ia mengerti bahwa ia harus melakukan perjalanan ke depan, dan sambil melihat-lihat ke belakang, walau ia sadar tak akan bisa sepenuhnya selalu melihat ke belakang, karena jalan dan waktu melajunya ke depan. Ia akhirnya menyepakati dengan dirinya untuk berbagi antara 70:30, 70% melaju ke depan dan 30% ia agar selalu waspada melihat ke belakang, tetapi menurutnya 30% masih kebanyakan, dan ia akhirnya menyepakati menjadi 80:20.
Menjelang malam setelah pergi sejenak dan kembali dari kebun yang tak jauh dekat rumahnya, Kodir berjalan melalui pelataran jalanan belakang di sekitaran pelataran rumahnya dan secara tak sengaja bertemu dengan Mumun, salah satu sahabat lamanyanya yang telah lama menghilang entah kemana, atau Kodir yang memang telah menghilang. Bertemu diantara persimpangan gang yang tak jauh dari rumahnya. Mereka kawan lama, entah berapa lama mereka tak berjumpa. Sejak kecil mereka selalu bersama-sama bermain kesana kemari melakukan petualangan kecilnya. Di antara rumah-rumah perkampungan yang saat itu belum terlalu berdempetan, jarak antar rumah dengan tetangga masih berjarak. Karena di sekitaran tempat tinggalnya, masih banyak lahan kosong dan pepohonan yang rindang. Sungai-sungai masih jernih mengalir, biasa digunakan warga sekitar untuk mandi dan menyuci, lalu hamparan sawah yang menghiasi sekitaran rumah-rumah. Sayang sekali itu hanya kenangan yang sekarang entah kemana. Tempat Kodir besar kini telah menjadi pemukiman yang padat, berpenghuni dari berbagai aneka ragam wajah baru yang cukup asing bagi Kodir.
“Haii Kodirrr!!” Sapa mumun dari jarak cukup jauh, dengan lantang dan wajah yang penuh percaya diri.
“Apa kabar? Lama sekali tak jumpa,” tanya Mumun.
“Baik. Kamu?” Kodir kembali bertanya.
“Sangat baik sekali. Sekarang sibuk apa? Kuliah dimana? Kerja dimana?” Pertanyaan Mumun yang cukup bertubi-tubi sedikit membuat Kodir kaget, layaknya seorang calon mertua bertanya. Sedangkan Kodir seperti belum siap menyiapkan jawaban untuk itu.
“Eeeemm… engga, masih belajar koq,” jawab kodir dengan sedikit gugup. Kodir merasa tidak perlu menjawab panjang lebar dengan pertanyaan seperti itu dan ini kan perjumpaan yang sangat jarang, setelah 8 tahun tak berjumpa, pikirnya masih banyak bahasan lain yang menyenangkan untuk dibicarakan.
“Ahhh kamu dirr, dari dulu masih saja tak berubah. Jika kamu butuh pekerjaan kamu bisa datang ke tempatku dir,” dengan sedikit sindiran motivasi bijaknya nampak Mumun seperti memposisikan seseorang yang lebih berhasil daripada Kodir. Padahal Mumun itu tau dari mana bahwa dirinya sudah berubah atau belum, dan intinya, itu bukan urusan Mumun untuk berkata seperti itu.
Percakapan tersebut membuat Kodir merasa lebih tersudut diantaranya. Karena mereka memang sudah jarang sekali bertemu. Mungkin bagi kawan lainnya Kodir tak terlalu dianggap sebagai orang yang beruntung dengan segala hal yang ia punya. Ditambah dengan cerita-cerita Ibu yang selalu menyindir Kodir, bahwa teangga si anu sudah menjadi anu, sudah anu, sudah anu dan ahhhh… Menyebalkan!
Kodir malah lebih suka menjauh dari setiap kerumunan. Dan percakapan di pertemuan sore itu diakhiri singkat oleh kodir dengan jawaban “ Iyaa,” setelah itu Kodir cepat-cepat menuju jalan pulang, ingin cepat menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dan ia menuju rumah.
Rumah baginya tempat peristirahatan yang sunyi baginya, lebih tepatnya di ruang kamarnya. Disana ia bisa melakukan apapun, berkhayal, bermimpi, tidur, melakukan apapun, mengerjakan apapun dan sengaja menyendiri. Rumah juga terkadang sesuatu yang bising jika ada cek-cok persoalan sepele yang dibesar-besarkan karena ulah yang bemulut besar, lebih menyebalkannya jika menjadi sangat emosional sekali. Karena Rumah tempat ia bermalas-malasan dan tidur pulas beristirahat dari segala lelahnya riuh di luar sana. Rumah juga bisa menjadi jebakan bagi dirinya jika terlalu lama mengurung, membuat seperti orang asing yang tersungkur dalam kompetisi di kehidupannya. Sengaja menjauh membuat jarak untuk terhindar dari ketidak sukaannya pada orang-orang yang membuat semakin dirinya onar itu. Kembali ke rumah tidur pulas tak ingin diganggu selamanyaa, kalo bisa.
Dan Ibu selalu membangunkannya kala terbit fajar tiba. Ibu menggedor pintu keras, keras sekali untuk menyuruhnya cepat-cepat bangun dan bergegas mengambil air. Dengan nada keras Ibu sambil berkoar ala khutbah paginya. Kodir yang masih sedikit pusing karena bangun mendadak dari tidurnya terkadang jika tak bisa menahannya akan merasa kesal sekali, sambil menahan dan mengatakan, “iyaa iyaaaa…” Lalu ia cepat bergegas pergi ke kamar mandi, sambil berpura-pura membasahi wajah, kaki dan kedua tangannya. Ia pikir ini hanya untuk memenuhi syarat saja dan sebagai bentuk menghargai perintah orang tuanya. Karena ia merasa keyakinannya tak bisa dipaksakan lagi, sudah bukan waktunya itu, Kodir sekarang sedang memilih dan mencari jalannya sendiri dalam apa yang ingin dikehendakinya. Dan kehendak spiritualnya tak akan ada yang bisa memerintah, siapapun itu, merupakan bagian terdalam dirinya, yang tak akan tersentuh siapapun.
Di setiap malam tiba, Kodir selalu terjebak di dalam kamarnya, dengan posisi berada di atas karpet di samping lemari. Dalam remang-remang lampu kamar ia terbaring dengan kaku, sambil memurungkan tubuhnya dengan keadaan yang setengah sadar, sambil mendengar musik yang membawanya terhanyut. Tali-tali di bayangannya seperti datang dari berbagai sudut untuk mengikatnya, dadanya seperti tersesak untuk bernafas, leher seperti tercekik dan tubuh sulit untuk berdiri, semakin ia meringkuk saja terbalut dalam malamnya. Kian malam lilitan itu terus mengitari tubuhnya dan semakin kencang saja, beberapa kali ia melakukan cara untuk menenangkan diri sambil nafas tersesak-sesak. Emosi dalam tubuhnya menggumpal membentuk pusaran di dalamnya, tak mudah ia keluarkan, hanya menjadi perkara yang menjadi-jadi di dalam dirinya. Ia butuh istirahat, ia butuh tenang, ia butuh mengerti, ia butuh belajar dan ia membutuhkannya.
Telepon genggam tiba-tiba bergetar pada Pukul 01.00 malam itu. Ada 4 pesan singkat masuk. Kodir sedikit merasa terhentak oleh bunyi getaran pesan tersebut. Kodir kaget, orang yang baru kenal satu minggu kemarin tiba-tiba menghubunginya, dan mengajaknya untuk sekedar nongkrong sambil berbincang. Namanya Eti, ialah perempuan yang secara tak sengaja kenal saat bertemu di perpustakaan umum, dari situ awal Kodir mengenal perempuan mahasiswa smester 3 jurusan komunikasi itu. Berambut hitam yang terurai sepundak, sedikit berbadan kurus dan berkulit putih kekuning-kuningan dengan wajah cuek.
Sisa pesan lainnya lagi dari kawan di kampusnya, seperti biasa mereka menanyakan Kodir dengan teks, “dimana?” Kodir tak membalas pesan tersebut. Pertama, karena kondisinya yang tak tepat, kedua, memangg Kodir untuk malam ini tak akan berniat untuk kemana-mana, kecuali memang ada hal-hal yang penting.
Tapi untuk pesan dari Eti tersebut, Kodir sangat mempertimbangkan sekali. Apakah ia harus menemuinya di tengah malam tersebut, apakah ia harus menghiraukan pesan singkat tersebut dan membalasnya esok pagi, dengan alasan “sudah tidur.”
Akhirnya Kodir memutuskan untuk menemuinya, dan membalas pesan singkat tersebut.
“Gimana di kedai atas dekat perpustakaan kemarin?” jawab perempuan itu.
“Ayook,” Kodir menyepakati pertemuan itu.
Kebetulan lokasi yang cukup dekat, baik dari rumah Kodir dan tempat kosan Eti. Dalam keadaannya yang bingung Kodir masih terlentang dalam balutan kesemrawutan malam. Ia masih berdiam, berfikir sejenak dalam hatinya, mengapa ia begitu saja mengiyakan pertemuan tersebut. Padahal malam itu Kodir sedang tak karuan. Berdiam diri sejanak sambil menenangkan kecemasan yang menyelimuti tubuhnya, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membasahi wajahnya sambil mengambil segelas air bening. Ia terduduk di atas ranjang kamarnya sambil meminum secara perlahan airnya. Gerakannya masih sedikit kaku terbelit kecemasan pikirnya. Lalu ia mengambil untuk kedua kalinya air bening tersebut, dan meminumnya kembali. Dalam hatinya berkata, adakah sesuatu yang bisa melebihi dirinya sendiri yang dapat ia kenal, agar suatu saat ia bisa menyuruhnya untuk medekapnya, jika masih saja terjadi kesalahan-kesalahan yang berulang, agar cermin dirinya itu bisa memperbaikinya, dan jika masih saja keterlaluan, bisa ia menyuruhnya untuk membunuhnya perlahan.
Waktu dan malam semakin dingin mendekapnya. Mengingatkan akan pertemuan dengan perempuan tersebut. Saat melihat jam, Kodir seperti tersentak, karena ia telah terlambat 15 menit. Tanpa banyak membuang waktu langsung bergegas keluar rumahnya sambil berjalan cepat.
Dalam perjalanan malam itu udara dingin sedikit mendinginkan isi kepalanya yang panas, menenangkan pikirnya. Agar menghemat waktu perjalanan ia berjalan melalui gang-gang sempit yang berukuran sekitar dua kali lebar tubuhnya. Sambil melihat kiri-kanan mengamati pemandangan di setiap sudut gang kecil tersebut. Tak lupa ia mengucapkan “permisi” jika setiap melewati orang-orang, karena kehidupan di sekitar gang padat itu keras, jika ia melakukan kesalahan bisa saja ia babak belur digebuki pemuda lokal sekampung itu. Kodir tak mau melakukan kesalahan konyol, setidaknya ia harus tetap bisa menjaga dirinya. Bisa saja jika ia memang benar digebuki, dan akan gagal pecuma untuk bertemu si perempuan tersebut.
Bau-bau yang aneh berseliweran di antara kedua lubang hidung, membuatnya untuk sedikit menahan nafasnya yang terengah-engah dan semakin mempercepat langkah kakinya. Tetapi ia berdiam sejenak dari langkah kakinya, ia mengambil kamera handphone dan memfoto tikus yang mati tergeletak di jalan yang dilewatinya. Entah mengapa ia suka memfoto tikus-tikus yang mati tersebut.
Setelah keluar melalui gang-gang kecil itu ia lebih mempercepat langkah kakinya. Dalam keadaan hening dengan nafas terengah-engah, suara telepon genggam Kodir bergetar. Ia mengambil telepon genggam dari Jaket dan membukanya, perempuan itu mengirim pesan singkat, dan menanyakan, “jadi ktmu?” nampaknya ia sudah menungunya.
Kodir membalas pesan tersebut, “iya sudah dekat.”
Tubuh mulai gemetar disaat-saat tak diinginkan, tubuhnya mudah hilang kendali, terurai dalam kegelisahan yang tak beraturan. Langkah kaki semakin melambat, layaknya hari yang begitu dini ini, namun malam ini banyak menghadirkan tusukan-tusukan yang begitu menyayat peraasaannya. Karena sebenarnya ia belum merasa baikan, dan karena bodohnya itu, ia tetap memaksakan untuk terus berjalan membawa sisa-sisa hatinya yang beku. Nampak ini kesalahan kembali yang berulang bagi Kodir. Namun ia tak peduli, ia masih menyisakan sedikit energi keberanian untuk sedikit mempecundangi kepengecutannya saat ini.
Ia sudah tepat berdiri di depan kedai tersebut. Masuk perlahan dan memperhatikan suasana kedai yang cukup sepi, ia menghentikan sedikit langkahnya untuk mencari dimana si perempuan tersebut duduk. Tampak di sebelah ujung pintu kedai lambaian tangan si perempuan itu, dan Kodir menghampirinya melewati beberapa meja dan kursi yang kosong. Lalu duduk mengambil kursi. Wajahnya sedikit kecut untuk memandang perempuan itu. Namun Kodir berusaha bersikap santai, sambil berusaha agar memainkan suasana.
“Halooo,” sapa perempuan itu dengan wajah dinginnya.
Kodir menjawab kembai, “haloo, maaf sudah menunggu.”
Nafasnya terengah-engah, Kodir yang seperti gelisah itu merasa semakin gugup. Kodir lantas minta permisi sebentar kepada perempuan itu untuk ke toilet. Setelah di toilet Kodir melihat wajahnya di depan cermin, nampak kusam dan lelah. Ia membasuhnya dengan air keran yang segar sambil menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya kembali dengan tekanan tenaga. Sedikit menyelaraskan kembali tubuhnya, Kodir mencoba untuk bersikap tenang. Di depan cermin ia sambil bertanya-tanya kepada bayangan dirinya tersebut, “Apakah ini sudah pantas? Apakah sudah waktunya?” Perasaan bersalah seperti datang meneror secara tiba-tiba. Menggetarkan tubuh. Tapi Kodir masih menyisakan sedikit kekuatan, ia bangkit dan tak mempedulikan apapun yang terjadi. Pikirnya, ini sudah bukan waktu mengawang dengan imajinya. Perempuan itu sudah di depan mata menanti, terlihat dengan jelas dan nyata. Lalu Kodir kembali ke tempat duduknya, menghampiri perempuan tersebut. Ia kembali bersemangat seolah menghilang dari keluhannya.
“Nampak segar,” celetuk perempuan tersebut.
“iya, sedikit baikan,” timpal Kodir.
“Maaf ya membuatmu kaget.”
“Kaget bagaimana?” Kodir sedikit menyangkal, untuk sedikit menutupi perasaan gugupnya.
“Aku mengajakmu bertemu tiba-tiba di tengah malam,” jawab perempuan itu.
“Ooo santai koq, kebetulan aku juga sedang bosan dengan apapun. Terus mengapa tiba-tiba kamu mengajak bertemu?”
“Pengen saja,” jawab Eti.
“Kangen yaaah,” gombal Kodir.
“Mmmenyebalkan juga kamu rupanya.”
“Gimana, apakah buku itu sudah dapat?” tanya Kodir, sedikit mengalihkan obrolan.
“Belum, sudah kucari di tiga perpustakaan tapi tak dapat juga.”
Suasana hening sejenak, Kodir akhirnya cukup dapat memainkan peran dalam pertemuan ini. Dan perempuan ini cukup membuat perasaan Kodir bergairah, memberangus kecemasan sebelumnya. Hati Kodir seakan kembali hidup dari kebekuan yang menggumpal meleleh oleh panasnya intuisi. Entah.
Hujan di hari yang dini ini mulai meneteskan air secara perlahan, dan angin-angin yang semakin menusuk tubuh. Tapi berkat kehangatan pertemuan ini cukup memompa darah, sehingga dingin yang berhembus tak lagi menjadi soal. Dan hujan mulai deras, semakin memicu untuk meneruskan perbincangan yang lebih mendalam lagi. Membuat magnet di dua kutub antara selatan dan utara untuk dapat saling mendekap satu sama lain dalam pelukannya. Tak peduli kecanggungan yang masih terlalu dini ini sedikit membuat ragu. Hasrat yang berpusar dalam gejolak ini akan tumpah menjadi badai yang saling mendekap. Saat ini Kodir seperti sedang menjadi-jadi, luapan emosinya kembali bergairah, terpompa rasa yang begitu saja mengalir, Kodir sudah siap, Kodir akan melakukan petualangan barunya ini, dalam benaknya.
“Heeiii… heii.. heii” bisik Eti di hadapannya. Perlu beberapa kali eti mengucapkan bisikannya karena Kodir tak merespon, Kodir seperti sedang melamun entah kemana.
“Ooooh… gimana-gimana?” Kodir seperti terkaget, karena ia bingung setelah melamun cukup lama dalam pikirannya.
“Kamu sedang melamun apa sih? “ tanya eti dengan sedikit kesal.
“Ngelamunin kamu,” dengan dingin Kodir menjawab dengan guyon.
“Ahhhh.. mulai gombal lagi.”
Percakapan yang tidak begitu singkat dan tidak juga panjang, mereka telah cukup berbincang mengenai segala hal. Malam yang dingin ini membawa suasana tenang untuk duduk berdua saja, sambil menikmati air teh dan kopi hangat. Pertemuan malam yang cukup, dan mereka sama-sama sudah menikmati pertemuan ini, karena obrolan malam yang semakin pagi ini tak banyak membawa mereka pada percakapan yang banyak membuang kata-kata, tetapi cukup sekedar untuk memompa hati yang dingin. Hingga sang waktu sudah tiba di titik 02.30, dan Kodir akhirnya mengajak Eti kembali pulang.
“Tunggu bentar lagi laah, hujannya masih lumayan deras,” Eti sepertinya masih menikmati pertemuan ini, dalam rintik hujan di dini hari yang mengiringi mereka berdua.
“Oke. Sebatang lagi yah.”
Sambil menunggu hujan yang tak kunjung reda mereka berdua masih dalam posisinya seperti awal mereka duduk. Mata mereka saling menatap, mencoba menerawang ke dalam satu sama lain, lalu mengalihkan pandangnya, menatap lagi dan kadang mereka tiba-tiba tersenyum irit tanpa alasan.
Hujan masih saja bebal, tak mau mereda, malah tambah bergemuruh cukup kencang. Dan rokok telah habis dalam batang kedua. Kodir tak mau kalah bebal oleh derasnya air langit yang kencing menyerbu daratan bumi. Ia mengajak Eti untuk pulang, Eti sama-sama menyetujui Kodir untuk menerjang deras hujan. Mereka sama-sama menyepakati untuk pulang. Kodir memutuskan untuk mengantar Eti terlebih dahulu menuju kosannya.
Lalu mereka bergegas pulang menerjang percikan air yang bergemuruh. Kodir merangkul pundak Eti, sambil menyelimuti kepala Eti oleh jaket sweaternya. Mereka berjalan sedikit cepat sambil tertawa-tawa dibasahi air langit yang turun. Tak peduli seberapa besar hujan bagi mereka, karena ombak yang menerjang deras dalam perasaan mereka tak kalah besar. Jarak yang tak terlalu jauh bagi Kodir menuju tempat Eti, bukan soal.
Perjalanan singkat ini tak terasa. Waktu telah telah berubah, dan selalu berubah, lebih sialnya tak akan kembali, dan jarum jam telah berada di pukul 02.45 dini hari. Guyuran air langit membasahi kuyup seluruh tubuh mereka, namun mereka menikmatinya. Emosi yang marah seakan padam, berubah menjadi emosi yang bergembira, tenang dan menyenangkan. Memutarbalikan pesakitan Kodir sebelumnya. Ia dapat kembali memandang dunia dengan cara lain. Menghanyutkan amarahnya seperti kaldera tumpah yang mengalir, meresap ke dalam tanah bumi dan menyatu dengan tanah yang kering. Dan lilitan yang terbelit melingkari tubuh Kodir seperti terurai sendirinya, terputus satu persatu oleh gejolak hasrat yang seperti kumparan dinamo.
Sudah tepat di depan mata kosan tempat Eti. Mereka berdiri berdua di depan pagar, sambil memandangi wajah yang basah. Air hujan yang turun seakan bersorak, bergembira bersama dengan tiap tetesnya. Diantara tubuh mereka, tak menyisakan sedikitpun bagian yang kering. Setelah mengantar tepat di depan rumah kosnya, Kodir berencana untuk cepat-cepat bergegas pulang dan pamit mengucapkan kecupan perpisahan. Karena dalam waktu dekat, 3 hari kedepan, Kodir sudah harus meninggalkan pulau yang di pijaknya, pergi menuju pulau seberang.
Saat tubuh Kodir mulai berbalik ke kanan menuju arah pulang. Tapi seketika saut Eti mengajaknya masuk ke dalam, sekedar mengeringkan tubuh oleh handuk dan menyeruput teh hangat dulu.
“Gimana kalau masuk ke dalam dulu, untuk menghanduki dan mengeringkan tubuhmu yang basah kuyup itu,” tanya Eti.
Kodir tak menjawabnya, tapi ia langsung berbalik arah dan merangkul tubuh Eti. Mereka menuju ke dalam. Tetesan air yang membasahi lantai diantara keheningan subuh, semakin mengeratkan genggaman tangan mereka di tubuh yang dirangkulnya. Eti mengeluarkan kunci dari saku celananya, dan membukakan pintu. Mereka masuk menerobos kemunafikan yang canggung, tubuh mereka saling berpeluk dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Mereka saling menikmati tubuh satu sama lain. Kegetiran dinginnya hari yang dini semakin terhempas oleh hasrat mereka berdua. Dengan penuh kerelaan mereka bergembira, sampai mereka berdua tertidur dalam pelukan mimpi yang pulas hingga paginya.
Ketika terbangun Eti sudah tak melihat Kodir di sampingnya, hanya sisa bayangan malam itu yang masih hadir memeluk benaknya. Kodir meninggalkan pesan yang tertulis di atas bantal, “perpisahan tidak akan berarti jika kembali bertemu.”
Setelah sesampai rumah, Kodir langsung menggeletakan tubuhnya di kamar, sambil mengitari bayangan malam tadi. Ia merasakan kekuatan yang tiba-tiba muncul pada malam itu. Walau perjumpaan singkat itu baginya hanya seperti transit saja untuk melanjutkan perjalanannya. Karena ia menganggap di masa muda ini masih tak pantas untuk meyakini sesuatu, apalagi cinta, kebanyakan orang hanya sekedar merasakan saja dan menjadikannya pembenaran sesaat. Ia berfikir ini bukanlah sebuah cinta, ini seperti kebanyakan anggapan para orang muda yang bilang telah menemukannya. Dan Kodir melanjutkan tidurnya, ia seakan kembali pada perasaan sebelumnya. Dalam tidurnya kembali berkecamuk huru-hara yang mengitari kepalanya.