Ini kisah lama, sekitar 2016. Masih single, baru aja selesai yudisium. Akhir tahun itu memutuskan angkat ransel dan bertekad menjelajahi sebagian wilayah NTT sendirian, lebih tepatnya Atambua di perbatasan Indonesia-Timor Leste dan Pulau Ndana Rote di perbatasan Indonesia-Australia. Kali ini, fokus ke perjalanan pergi dan pulang dari Atambua.
Aku menginjakkan kaki pertama kali di Kupang dan menginap di rumah temannya teman. Rencanaku mau keliling kota Kupang dulu baru berangkat, biar gak ngadi-ngadi karena gak punya kenalan, kuhubungilah ketua 1000 guru sulteng dan minta dikenalkan sama salah satu pengurus 1000 guru Kupang. Kenapa? Karena menurutku komunitas kerelawanan pasti legowo untuk saling memperkenalkan teman dan sejalan dengan tujuanku yaitu Travelling.
Masuklah satu kontak di Line ku waktu itu yang ternyata nomor Ketua nya langsung. Wahhh bingung juga mau ngobrol sama ketua. Tapi gak ada pilihan, maka kusampaikanlah maksudku gimana caranya buat nyampe di Atambua versi transportasi publik. Jadi, waktu itu medsos tu belum se masif sekarang di 2023. Sepanjang pencarianku di Youtube dan #atambua di Instagram info nya tidak banyak. Pun yang benar-benar kasi penjelasan tentang Atambua cuma 1 orang, kebetulan dia pernah PPG di sana dan menjelajahi sekitarnya. Persis seperti tujuanku cuma versiku tidak by program jadi benar-benar jalan dan cari caranya sendirian.
Sampai aku tiba di Kupang, informasiku masih sebatas Aku tau posisinya di peta dimana, berapa lama waktu tempuh perjalanannya, do and don't selama di sana apa aja, sejarahnya gimana. Tapi how to get there by public transportation Aku masih bingung. Syukurnya aku disambut hangat, Aku tidak dijelaskan gimana caranya sampe sana tapi Aku diajak ikut program Travelling and Teaching yang lokasinya mengarah ke Atambua. Ini tu sama dengan program yang dulu kuikuti di 1000 guru Sulteng. Bedanya kali ini aku tidak perlu ikut seleksi, jadi kaya semi peserta aja.
Aku bingung kan ya jadi jobdesk nya gimana karena Aku bukan peserta tapi diluar dugaanku Aku tu diperlakukan persis sama peserta lainnya bahkan dilibatkan dalam prosesi pembukaan, ikut bantu bagi-bagi bingkisan ke anak-anak. Dari awal sampe akhir bener-bener gak ada bedanya sama peserta lain padahal gak ikut seleksi and such unforgetable moment for me. Waktu masih di Kupang aku ditawari untuk dicarikan bus ke arah Atambua pas kegiatannya selesai dan Aku iyakan dengan tawaran balik boleh ga Aku bayar juga seperti peserta lainnya. Gimanapun kan perjalanannya jauh, aku makan juga di sana. Awalnya ditolak, gak usah bayar apa-apa, ikut aja, cuma aku gak enak kalau cuma nebeng aja. Akhirnya deal meski waktu itu Aku bingung juga dapat tambahan duit 300rb an tu darimana soalnya benar-benar berangkat dengan budget pas pasan yang kuperkirakan bisa pergi dan pulang.
Eh tapi, Aku tu tiap mau nyerahin duit selalu dialihkan, kaya gak mau kalau Aku bayar. Pas acaranya selesai aku mau nyerahin duit lagi tapi dikasi tau "Ika... Uang transportnya nanti aja, kita kan masih ketemu di Kupang lagi nanti" trus dia bilangnya buru-buru kaya udah gak sempat aja gitu. It help me much sebenarnya hehehe. Karena aku bisa punya pegangan yang cukup untuk di Atambua.
Yang bikin Aku terharu juga, pas momen udah diperjalanan meninggalkan lokasi. Kan kita ada 2 bus nih, terus di lokasi tertentu, dua bus ini berhenti karena Ketua sama beberapa pengurusnya nyari dan nungnguin bus buat aku tumpangin ke Atambua. Diurus sampai sebegitunya, ransel diangkatkan, tempat duduk dicarikan. Dipastikan aku tu benar-benar aman selama perjalanan. Orang-orang membantuku gak tanggung-tanggung.
Rencananya di Atambua aku mau nyari penginapan. Tapi di ranselku ada tenda yang kalau-kalau ada kesulitan, aku bisa nginap di pusat keamanan kaya kantor polisi atau di masjid (Aku merinding pas nulis kalimat barusan, Aku tu seberani itu ya 🥺). Pada akhirnya soal tempat tinggal Aku dapat tempat gratis dari peserta 1000 guru juga. Sedikit banyaknya, rencanaku ini mencuri perhatian. Sering ditanya pas awal-awal acara. "Ini Ika yang mau ke Atambua yaa" terus kaya di luar jangkauan aja ada orang mau ke Atambua sendirian.
Aku dikasi nomor temannya dan dicarikan rumah penduduk suku Bugis sesuai asalku. Detail perjalanannya sih panjang banget, tapi garis besarnya kurang lebih seperti tulisan ini. Di Atambua, Aku dilayani baik sekali sama pemilik rumah, di ajak ngomong tentang Sulawesi, tentang merantau, dan ada apa aja di Atambua. Pemilik rumahnya adalah Ibu dua anak. Kebetulan anaknya masih kecil-kecil.
Terus aku keliling benar-benar menyusuri tempat-tempat indahnya, dari jembatan yang punya satu garis ditengah, kalau kita melangkah, satu kaki ada di Timor Leste, satunya lagi di Indonesia. Mengunjungi rumah-rumah adatnya di atas gunung. Melihat perbatasan hutan Indonesia-Timor Leste, tempat yang dulunya perang berkecamuk disitu. Dari gunung turun ke pantai melewati pada savana dan bukit bukit kering yang Masya Allah cantik bangeeetttt. Rasanya Aku pengen singgah di tiap belokan. Keren sih emang alamnya Indonesia tu. Dan perjalanan di Atambua ini kuakhiri dengan menikmati senja di Kolam Susu, lokasi inspirasi dari lagu Koes Plus. Tempat itu benar-benar nyata adanya. Bagaimana lirik lagunya ya begitulah tempatnya.
Sepanjang perjalanan itu Aku merasa seperti "hidup". Jadi bagiku yang namanya Travelling atau backpackeran benar-benar bikin jiwaku menyala. Aku suka dan selalu mencari feeling itu. Makanya, pas mau pulang Aku tu gak berhenti berterima kasih sama orang-orang yang ikhlas menolong, kenapa? Karena awalnya kita gak kenal. Sekedar cuma kasi tau arahnya belok kanan atau belok kiki itu bantuan yang luar biasa. Dan karena itu juga Aku tu selalu minta supaya dipertemukan sama orang-orang yang baik...
Well... Sekian cerita singkatku tentang Atambua 💛💛💛 Aku senang bisa menulisnya, setidaknya untuk kubaca lagi nanti 😊