15. Engkau Menyembuhkanku
Menurutku bicara adalah hal yang menyembuhkan. Seperti malam lusa kemarin saat aku banyak pikiran sehabis berdebat dengan kekasihku. Kekasihku sangat lembut hatinya walau ia keras kepala—walau akulah sebenarnya yang lebih kepala batu. Aku mengaku merasa stress dan mataku sudah berkaca-kaca saat bilang tentang ibuku, tes CPNS yang membuatku tertekan, aku yang tidak bisa pulang kampung untuk bertemu ibuku. Lalu tiba-tiba tatapannya melembut sampai ia juga hampir menangis. Ia menggenggam tanganku. Menghiburku. Ia berjanji akan mengajakku kencan. Hal yang selalu aku tunggu-tunggu. Walau aku menggeleng keras aku tahu dalam hati aku merasa betapa begitu pedulinya dia padaku. Ia selalu melakukan hal itu. Menghiburku, mengalihkan kesedihanku, menceritakan hal-hal bahagia hanya agar aku tidak menangis dan bersedih. Kadang aku merasa begitu buruk dan malu pada diriku sendiri. Ia memang berusaha menghiburku, namun tidak pernah sekalipun ia menjanjikan hal yang muluk-muluk dan mustahil. Dan ia juga tidak pernah menurunkan harga dirinya sama sekali. Aku melihatnya seperti ia sedang menghibur seorang adik dengan memberikan permen dan menceritakan hal-hal baik. Dan aku, aku merasa hangat karenanya. Begitu sederhana, apa adanya, tidak dibuat-buat. Aku selalu tersentuh karenanya.
Lalu keesokan paginya, Hari Minggu, kami berjanji untuk lari pagi. Aku yang masih keras kepala, gadis perajuk, menyambut hari itu dengan malas. Setelah menerima pesan dari kekasihkupun aku hanya antara niat dan tidak niat, walau aku memasang sepatu dan berjalan cepat meuju tempat janjikan kami. Aku malah tidak sabar menunggu kehadirannya. Lihatlah tingkah seorang gadis dengan harga diri tinggi, ternyata perasaannya lah yang tidak bisa ia kalahkan. Saat aku melihat sosoknya berlari ke arahku, aku otomatis tersenyum. Rasanya pagi itu begitu cerah dan aku hampir memeluknya kalau saja aku tidak menahan diriku.
Kami memutuskan berjalan santai, tertawa-tawa, seakan hal yang semalam tidak terjadi sama sekali. Namun di tengah perjalanan aku mulai mengeluarkan unek-unek dan keluhanku padanya. Aku menuduhnya mender padaku, menuduhnya merasa rendah diri denganku. Dan segala prasangka bodoh lainnya. Lalu setelah ia menjelaskan akhirnya aku tahu bahwa akulah yang terlalu rumit. Akulah yang banyak menduga-duga. Aku yang menyimpulkan terlalu cepat. Padahal dia, kekasihku tetap seperti apa adanya, tetap seperti saat pertama kali kami menyatakan cinta. Lalu aku menjadi malu pada diriku. Dengan segala tuduhan dan dugaan-dugaan tanpa alasan itu, aku merasa bahwa aku tidak ada bedanya dengan mereka yang menuduh kekasihku tanpa alasan. Asal tuduh, asal menilai, terlalu cepat menyimpulkan. Memberi label yang bukan dirinya. Aku merasa kecewa. Kecewa pada diriku sendiri. wanita macam apa aku? Aku yang seharusnya percaya saja pada dia, sosok yang besar dan tangguh yang aku bukan apa-apa dibanding dia, namun aku masih meragukannya? Lalu apa kelebihanku dari yang lain? Lalu apa bedaku dengan orang-orang yang baik secara terang-terangan maupun tanpa sengaja meremehkan dan merendahkan kekasihku? Aku malu pada diriku sendiri.
Lalu akhirnya ia bilang bahwa, sebenarnya aku bersikap begitu hanya karena sedikit sekali kami memiliki waktu bersama. Dan ia bilang bahwa sepertinya kami perlu untuk jalan-jalan seperti ini dengan santai, sambil membahas masalah kami masing-masing. Aku hampir menangis saat kekasihku menggenggam tanganku dan mengatakan bahwa aku boleh memilih menjadi apapun. Mau menjadi seperti tadi atau mencoba berubah. Itu tidak masalah. Karena ia akan tetap menerimaku dan mencintaiku seperti biasanya. Bahkan saat menulis ini aku begitu sentimen, gelombang haru menyelimutiku atas penerimaanya yang begitu total apa adanya. Ia menasehatiku dengan lembut, ia tidak memintaku untuk berubah dan dia menerima kekuranganku itu. Lalu aku menggenggam tangannya lebih erat, menatapnya dalam kilauan cahaya matahari pagi. Duhai betapa hebat dan besarnya sosoknya terasa. Tangguh dan kuat.
Kemudian dalam hati aku berjanji akan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Hari Minggu kemarin juga hari pernikahan seniorku dari Mapastra Bang Ari Lurah dan Kak Aji dari Rafflesia. Aku selalu berdebat dengan Bang Ari ini. Mulai dari saat ia memesan tas padaku, yang hampir 6 bulan baru selesai. Ia menjadi lawan debatku menyangkut hal-hal aneh dan kemapalaan. Namun bukan berarti aku membencinya. Walau kadang kesal, namun aku juga menganggap dia kakak lelakiku di mapala. Tak berkurang rasa hormatku—walau kadang lebih banyak kesal dan kesal dan kesalnya sebenarnya. Namun aku tahu aku tidak pernah bisa sangat benci padanya.
Aku dan kekasihku datang di acara pernikahan beliau lalu mendapati banyak adik-adik mapala yang hadir sebagai penunggu tamu dan untuk bantu-bantu hal lainnya dan menurutku itu luar biasa dan sungguh manis. Kami juga bertemu Fajar yang menjadi tukang foto dan sudah potong rambut. Kami makan di meja paling depan di dekat Fajar yang sibuk mengarahkan posisi tamu yang akan berfoto. Disela-sela tugasnya ia mengutuki diri harus memakai baju seragam panitia dan tidak bisa bergaya mengeluarkan ketampanannya. Kami langsung menertawainya. Dan saat kekasihku bilang bahwa ia yang merekomendasikan Fajar ke Bang Ari, ia kembali mengutuk. Dan begitulah kami. Apapun mengutuk, namun dalam hati sunggh bahagia, bukan karena dapat kerja namun dapat kembali bersua. Dengan sesama mapala, dan seangkatan lalu sama-sama saling merindukan yang dibalut dengan kata-kata sumpah serapah namun selalu ada kasih sayang begitu kental didalamnya.
Beberapa kali pasangan pengantin menggoda aku dan kekasihku, tertawa-tawa dan bilang agar kami segera menyusul mereka. Tentu saja aku mejadi terbawa perasan. Lalu kekasihku sudah menggenggam tanganku saja. Sambil tersenyum bijak. Aku pun jadi tersenyum padanya, dan bilang aku pun ingin menikah. Ia mengangguk pasti. Kalau saja orang tidak ramai disekitar kami, ia pasti sudah berucap dengan tegas, bahwa ia harus menikahiku.
Aku suka hal-hal kecil yang dilakukan kekasihku. Saat ia memfotoku lewat handphone nya dan aku sulit menahan untuk tersenyum dengan lebar seramai apapun orang disekitarku.
Beberapa kali Fajar juga menggodaku agar segera menikah, dan aku membalasnya dengan minta hadiah penikahan berupa tiket pesawat ke Bali atau Papua. Karena dulu ia pernah menjanjikannya. Akhirnya ia mau membelikan tiket untuk pergi saja. Dan aku menolak degan tegas dan pura-pura tidak mendengarnya lagi—walau sebenarnya Fajarlah yang pura-pura tidak mendengarku lagi yang terus menagih-nagih hadiah pernikahku yang akan dilangsungkan dimasa depan.
Karena kami akan pulang, maka tibalah saatnya sesi foto bersama sang mempelai—Fajar (pura-pura) menolak saat aku menyodorkan hanphoneku untuk mengambil foto, dan aku harus (pura-pura) memaksanya dengan sangat.
Kami menaiku panggung tempat mempelai—yang entah kenapa aku dan kekasihku melewati sisi yang berbeda. Lalu berfoto bersama. Dan yang menarik adalah saat pose yang kedua, aku sekilas melihat kekasihku membisikkan sesuatu pada Bang Ari, dan beliau langsung menyuruh aku duduk dikursi pelaminan bersama kekasihku. Astaga betapa terkejutnya aku. Aku menolak, namun Bang Ari yang sudah berdiri memintaku untuk duduk. Aku sungguh gugup, malu, senang, bahagia, dan akhirnya hanya bisa tersenyum dengan sangat bahagianya menghadap kamera. Aku melihat tamu-tamu melihat ke arah kami, ada yang menunjuk sambil tertawa, tersenyum dan entahlah. Aku hanya merasa bahwa aku gugup dan aku merasa sudah menjadi adik yang kurang ajar dan tak tau malu. Namun ternyata Bang Ari malah tertawa sehabis itu, dan aku kembali menyalaminya. Aku menyalami Kak Aji juga dan memimta dipeluknya. Kak Aji kanget namun ia tersenyum lalu memelukku. Para mempelai menyampaikan pesan agar kami segera menikah, dan bisa duduk di pelaminan dengan status yang diakui. Aku hanya bisa tersenyum, lalu turun dari panggung—kembali dengan jalan yang berbeda dengan sang kekasih.
Lalu aku mendapati aku sangat bahagia sekali. Saat aku melihat fotokami di handphoneku, terlihat betapa bahagianya pula senyuman kami saat di foto tadi. Aku berharap bahwa hal itu tidak lama lagi akan kami alami juga. Dan saat Fajar memperlihatkan foto Bang Wahyu dan sang istri, aku kaget dan tertawa, ternyata beliau berfoto juga dengan pose yang sama seperti yang aku dan kekasihku lakukan. Ada-ada saja.
Dalam hati aku terkejut dan juga aku bahagia, betapa kekasihku punya ide seperti itu—yang jarang-jarangnya ia membuat sebuah kejutan. Namun sekalinya itu terlihat begitu manis dan tak terduga. Rasanya aku bisa terbang meingingatnya.
Mungkin karena yang menikah adalah bukan orang lain juga baginya—kekasihku dan Bang Ari telah lama kenal jauh sebelum aku kenal beliau. Baginya, Bang Ari sudah dianggap abangnya sendiri. Sampai kami sering memperdebatkan bahwa beliau adalah abangku bukan abang dia, begitu sebaliknya, karena terlalu merasa lebih baik untuk mengakui bahwa Bang Ari adalah abang kami berdua—walaupun itulah kenyataan sebenarnya.
Atau mungkin dia melakukannya untuk membuat aku bahagia, mengingat aku selalu bilang ingin menikah. Atau karena tanpa sadar ia melihatku menatap pesangan pengantin dengan begitu mengangumkan dan membayangkan diri bila kami yang berada disana.
Wahai Sang Pemilik Hati, sumber rasa cinta yang Maha. Berilah kemudahan atas hal-hal yang telah kami niatkan di jalanMu.