Why is the bat called a flying fox? #shorts #ytshorts
seen from United States
seen from Russia
seen from Italy
seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Egypt

seen from Vietnam
seen from China
seen from Mexico
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Russia
seen from China
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Japan
Why is the bat called a flying fox? #shorts #ytshorts
Sungguh Tidak Mudah Menjadi Junior Namun Lebih Tidak Mudah Lagi Menjadi ....
[Tulisan ini bukan karya saya, entah siapa author nya - alasan saya membagikannua karna isinya menarik dan ada beberapa hal yang bisa diambil - tulisan ini diambil dari grup WA yang dishare oleh seorang senior yang saya hormati]
p.s : baca sampai akhir ya, biar informasinya tersampaikan secara utuh, be wise reader :)
Saya … bukan siapa siapa, dan juga bukan apa apa. Hanya seorang lelaki biasa, yang selama 46 tahun berkecimpung di dunia pegiat alam bebas. Sejak di SMA kelas 2, di umur 17 thn, tepat di tahun 1971, memutuskan untuk memasuki kelompok pendaki gunung di Cimahi.
Tidak mudah untuk menjadi anggota kelompok Pecinta alam pendaki gunung saat itu. Umur organisasi yang baru genap 2 th ( berdiri sejak th 1969 ), belum ada yg cukup mampu untuk dijadikan instruktur beneran, sehingga kami melirik pada RPKAD ( sekarang Kopassus) grup 3 di Batujajar, untuk melatih kami. Jadilah saya dan teman2 seangkatan dilatih tentara elit itu, di tebing tebing citatah, hutan gn Burangrang, sampai ke barak situ lembang. Gunung hutan selama 2 minggu penuh, dan 5 hari terahir melakukan longmarch dalam kondisi survival sepenuhnya ( survival dinamis ).
Saat itu sudah berlalu, seiring waktu angkatan kami semakin dewasa dalam jam terbang. Gantian tugas sebagai instruktur dalam pendidikan dan pelatihan dasar ( Diklatdas ) menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Siswa siswi baru bergantian datang angkatan demi angkatan. Sebagai anggota muda di awal, dan merekapun berproses menjadi dewasa dalam pengembaraan maupun operasi-operasi SAR yang kami lakukan.
Sejak awal, perintah komando kami bukan lagi jenis kalimat perintah seperti “tuan tuan push up 2 seri” (1 seri 10 kali), tapi “tuan-tuan ikuti saya !”, instruktur mengambil posisi lalu push-up 20 kali bersama sama dengan siswa. Begitu pula saat senam para, tangan kesamping lalu kipas-kipaskan spt sayap burung keatas kebawah sebanyak 1000 kali. Senam kipam didalam air selama 30 menit, merayap, lari pagi, apapun, kata komandonya sama “tuan-tuan ikuti saya !”.
Artinya bukan hanya siswa, namun instruktur lah yg harus selalu memberi contoh dan keteladanan. Saat siswa terlambat masuk kelas, instruktur bersama siswa yg telat push up 20 kali. Jika kemudian muncul lagi siswa lain yg telat, sama dihukum bersama push up 20 kali, jika muncul yg ketiga, keempat, dst. Setiap siswa yg telat hanya push up 20 kali, namun instruktur bisa push up 40 sampai 100 kali membarengi mereka.
Ketika kami melatih free-climbing di tebing 48 m di citatah. Di jaman itu artificial climbing belum populer karena terbatasnya sarana. Para siswa bergelayutan di tebing, semua tegang berdebar, namun yg paling tegang justru sang instruktur. Pernah pada sebuah angkatan, saat siswa masih di tebing, hujan tiba tiba turun, bersukur tak terjadi kecelakaan apapun. Saat latihan ini selesai wajah yang paling lega adalah sang instruktur.
Para siswa lulus dari pendidikan dasar serta masa bimbingan. Dilanjutkan pada tugas pengembaraan, untuk mendapatkan nomor induk anggota. Mereka dilepas dari sekretariat untuk memulai perjalanan yang telah dirancang jadwalnya. Hari demi hari menunggu berita dari para junior ini. Apakah mereka selamat ?, apakah mereka menghadapi hambatan diperjalanan ?, apakah mereka tersesat saat pulang atau turun gunung ?. Waktu itu komunikasi belum seperti sekarang, bahkan telp rumah pun masih merupakan kemewahan. Maka penantian itu betul betul menguras mental dan emosi.
Sering sekelebat muncul pikiran buruk, jangan jangan para junior ini tersesat di perjalanan dan masuk ke lembah. Lalu kehabisan makanan, sehingga terpaksa survival. Namun jika mereka dalam kondisi basah, maka dengan mudah hipotermia menyergap mereka. Jika gigilan mereka hilang, lalu tertidur…. Habislah sudah, mereka akan kembali terbungkus dalam kantung-kantung mayat.
Jika situasi yang terburuk itu terjadi, kalimat tanya yang pertama kali keluar adalah “ apakah aku telah cukup melatih dan mendidik mereka ?”. Pertanyaan yang terus menerus menggedor di kepala, bertalu talu menyakitkan. Pernahkah rasa kasihanku saat latihan membuat mereka lalai dalam belajar dan berlatih ?. Apakah metodaku terlampau lembek, sehingga mereka menganggap enteng pelajaran tentang cara bertahan hidup ?. Jika “ya” lalu bagaimana pertanggung-jawabanku dalam pengadilan di akhirat kelak ?.
Mereka bisa terbunuh di alam sana, bukan karena kesalahan mereka, tapi akibat rasa “kasihan”. Rasa kasihan sang instruktur yang tidak proporsionalah pembunuhnya. Menolak berkeringat saat berlatih, namun menyebabkan berdarah-darah dalam pengembaraan sebenarnya. Apalagi berujung pada tragedi kematian. Memang kematian merupakan takdir Illahiah, Namun tanyalah pada setiap instruktur, sebuah pertanyaan yang paling esensiel, bagaimana jika ada junior yang mati saat pengembaraan, hanya karena mereka tidak cukup keras dalam berlatih ?. Hanya karena sang instruktur takut di cap melakukan “penganiayaan” pada siswa. Padahal tahu persis bahaya dan resiko yang akan dihadapi sang junior, saat melakukan pengembaraan pertama dan pengembaraan-pengembaraan berikutnya di alam bebas.
Ketika para junior kembali dari pengembaraan, saat sidang usai dilakukan, saat syal dan nomor induk anggota diberikan. Mata junior dan sang instruktur berkaca kaca, seraya berpelukan dalam tangis bahagia. Selamat datang adik-adikku. Sang Junior paham, “penganiayaan” yang dialaminya dulu, membuat mereka menjadi tangguh dan siaga. Membuat mereka paham, bahwa berkeringat bahkan kadang berdarah-darah saat menjadi siswa, menjadi bekal berguna ketika berhadapan dengan tantangan alam yang sesungguhnya.
Bahwa kerasnya hardikan, kerasnya tamparan, ribuan push up, sit up, squat jump, merupakan bukti “kasih”, agar dalam setiap pengembaraan, mereka masih mampu kembali pulang ke keluarganya masing. ….. Agar mereka pulang tidak dalam bungkusan kantung mayat..!!!.
Para Junior perlahan tumbuh, berganti menjadi senior dan instruktur instruktur baru untuk angkatan adik adik mereka. Perasaan ketegangan, kegalauan yang pernah dirasakan oleh para senior dulu, kini juga mereka rasakan. Betapa berat memikul arti “pertanggung-jawaban”. Lantas kesadaran itu muncul. Dulu mereka berfikir betapa sulitnya untuk menjadi junior, yang habis disuruh suruh dan di bentak bentak. Namun mereka kini maphum, betapa lebih tidak mudah lagi menjadi seorang senior dan instruktur. Hanya karena seorang instruktur harus mempertanggung-jawabkan semuanya di yaumil akhir, tepat didepan sang Khalik kelak. Apakah yang diajarkannya pada para siswa, akan membawa berkah manfaat atau bahkan sebuah musibah ?.
Sebuah musibah, hanya karena sang instruktur mengumbar rasa kasihan yang tidak pada tempatnya, sehingga berujung pada kedukaan …..
Dan juga mudah mudahan bukan ketika para instruktur mulai melupakan, bahwa perintah komando yang paling mujarab adalah
…. Tuan tuan , ikuti saya !
Yat lessie
ko bisa ya foto se deep ini belum ada di ig? terima kasih dan selamat ulang tahun ke 26 @kmpaganeshaitb, Tuhan bersama orang-orang berani. in frame: GL XXI, maaf hari ini kayanya gabisa ikut dies, lagi ga enak badan, hehe. #kmpaganesha #itb #kmpaganeshaitb #mapala (at Institut Teknologi Bandung)
Soal Diksar Mapala STAIN Bone, Kabid Humas Polda Sulsel Sebut Polisi Tetapkan 3 Tersangka Baru
Soal Diksar Mapala STAIN Bone, Kabid Humas Polda Sulsel Sebut Polisi Tetapkan 3 Tersangka Baru
Makassar, RakyatNews.id – Polres Bone kembali menetapakan tiga tersangka baru dalam kasus penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya seorang peserta Diksar Mapala STAIN yakni Iksan (19). Itu terjadi setelah mengikuti kegiatan Diksar Mapala yang dilakukan oleh penitia dan anggota Mahasiswa Pencinta Alam Petta To Risompae (Mapala Mappesompae) STAIN Bone, di Dusun Coppo Bulu, Desa Selli, Kecamatan…
View On WordPress
Salam Rimba.!!! Salam Lestari.!!! PENGUMUMAN.!!! Ada Kabar Gembira.! Dalam rangka memperingati HUT Mapala "Arga Dahana" UMK @mapalaargadahana yang ke-XXV, nanti akan ada Perayaan Ekstern, Arga Dahana Climbing Competition Se-Karesidenan PATI, Music Contest Se-Kabupaten Kudus, Donor Darah, Final Party, dan masih banyak kegiatan seru lainnya. CATAT TANGGAL MAINNYA.!!! Jangan Lewatkan Keseruannya.! Dan Kalian harus datang.! See you.... #argadahana #universitasmuriakudus #wartapalaindonesia #mapala #wartapati #eventkudus #eventpati #eventjepara https://www.instagram.com/p/B875xVcJuQ5/?igshid=1eddiidyte91y
HEAT STROKE
Lima hari yang lalu 2 peserta diklat SAR Mapala gugur dalam masa pendidikan. Gugurnya dua peserta diklat diduga disebabkan sera gan heat stroke. Heat stroke merupakan cidera parah dari cidera panas. Ada dua bentuk heat stroke yaitu :
• Exertional Heat stroke (EHS) : pada umunya terjadi pada usia muda yang menjalani aktifitas berat dalam jangka waktu yang lama di lingkungan yang panas / ekstrem.
• Non Exertional Heat stroke (NEHS) : pada umunya dialami seseorang pada usia tua, atau yang memiliki penyakit kronis (adanya disfungsi organ)
Dari kedua bentuk tersebut pada dasarnya heat stroke sama sama teruadi akibat ketidakmampauan tubuh merespon lingkungan, khususnya pada lingkungan yang ekstrim. Namun secara umum heat stroke disebabkan oleh dua hal yaitu :
• Peningkatan suhu panas. Peningkatan suhu panas bisa disebabkan karena peningkatan metabolisme (infeksi, radang otak, obat perangsang, dll) dan peningkatan aktifitas otot (latihan, kejang, tetanus, dll)
• Penurunan ‘proses kehilangan panas’. Secara normal seseorang perlu proses kehilangan panas berupa keringat melalui pori-pori kulit, penguapan air dalam tubuh, penguapan lemak, menjaga lebar otot dan saraf kardiovaskular (lebar sempitnya pembuluh darah) yang mana hal ini berhubungan dengan regenerasi sel dalam tubuh. Penurunan ‘proses kehilangan panas’ ini dapat diakibatkan oleh :
1. Berkurangnya keringat
2. Berkurangnya respon sistem saraf
3. Berkurangnya cadangan kardiovaskular (pembuluh darah menyempit)
4. Faktor lingkungan berupa tingginya suhu dan kelembapan
5. Berkurangnya kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri
Tanda tanda sesorang terkenan serangan heat stroke antara lain :
1. Suhu dubur di atas 40,5 derajat celcius
2. Hipotensi
3. Status mental (disorientasi, histeria, koma, dll)
4. Berkurangnya kemampuan untuk menurunkan suhu tubuh (berhenti berkeringat, kulit menjadi panas)
5. Tanda tanda yang mengancam jiwa : pendarahan dari saluran intra vena, luka memar, endema paru, tanda acut renal failure (ARF)
Gejala gejala yang dialami seseorang yang terserang heat stroke antara lain kelelahan, pusing, mual, dan muntah.
Faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang terserang heat stroke secara umum dibedakan menjadi dua berdasarkan sumbernya. Yaitu :
1. Diluar lingkungan (dari pribadi seseorang)
a. Dehidrasi. Seseorang yang mengalami dehidrasi dapat dilihat dari warna urine, ataupun perubahan berat badan dari sebelum dan sesudah latihan yang dilakukan. Gejala dan tanda dari dehidrasi adalah: merasa haus, merasa tidak nyaman secara umum, kulit yang memerah, kecemasan berlebihan, kram, apatis, malas, sakit kepala, muntah, nausea, merasa panas di tangan dan leher, kedinginan, dan dispnea.
b. Terhambatnya penguapan tubuh
c. Sakit
d. Riwayat sakit (pernah terkena heat stroke)
e. Tebal tipisnya lapisan lemak. Orang gemuk cenderung lebih beresiko terserang heat stroke
f. Fisik yang tidak terlatih
g. Ketidakmampuan fisik menyesuaikan dengan iklim (ketidakseimbangan elektrolit)
2. Faktor lingkungan
Pada saat suhu lingkungan melebihi suhu kulit, atlet dapat menyerap panas dari lingkungan dan bergantung sepenuhnya pada penguapan untuk melepaskan panas. Kelembaban yang relatif tinggi menghalangi pelepasan panas dari tubuh melalui penguapan.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi resiko dari cedera panas termasuk suhu udara di sekitar, kelembaban yang sedang (jumah dari penguapan air di udara) pergerakan udara, dan jumlah radiasi panas dari matahari atau sumber lainnya.
Cedera heat stroke dapat dicegah dengan cara: memberikan waktu yang tepat untuk dapat menyesuaikan diri dengan iklim (10-14 hari); melakukan latihan pada waktu yang paling dingin dari hari latihan (pagi hari atau sore hari); membatasi atau menunda latihan jika terlihat gejala stress terhadap panas pada zona dengan resiko tinggi; Mencukupi kebutuan cairan sebelum latihan dan mengganti cairan yang hilang selama latihan. Memantau berat badan yang berubah dengan teliti setiap hari, karena dapat menggambarkan kekurangan air akut; Menggunakan pakaian yang berwarna terang dan longgar, serta membiarkan lebih banyak area kulit yang terkena matahari untuk meningkatkan penguapan.
Dari sedikit penjelasan ini bisa menjadi referensi ketika mengadakan kegiatan, khususnya kegiatan di alam bebas yang memang sulit untuk diprediksi. Meski begitu kembali lagi bahwa alam punya caranya untuk menyampaikan bahasanya, semua kembali ke diri masing-masing maukah untuk belajar mengenal alam.
Sumber :
Iso, Saharun, dan Ade Tobing. 2016. PRINSIP UMUM PENATALAKSANAAN CEDERA OLAHRAGA HEAT STROKE. Jurnal Olahraga Prestasi, Volume 12, Nomor 2. Hal 9 - 60.
Tiga Mahasiswa Pecinta Alam Tewas di Gua Lele
Tiga Mahasiswa Pecinta Alam Tewas di Gua Lele
KARAWANG, (KAPOL) – Perihal : Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Singa Perbangsa Karawang (Unsika) dan Sekolah Tinggi Polibisnis Purwakarta berduka. Saat melakukan ekspedisi, delapan orang terjebak di dalam Gua Lele, Kampung Taneuh Beureum, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang. Tiga orang di antaranya meninggal dunia.
Korban berhasil dievakuasi, Senin (23/12/2019). Delapan orang yang…
View On WordPress
Hadiri Ultah Mapala Bandung Seru juga guys...