Hello, my name is Shirley Cheng and I am a member of the American Executive Committee of the Taiwan-America Student Conference (TASC).
We would like to announce open recruitment for all university students from across Taiwan and the United States. We are currently looking for American delegates to represent the U.S. in this international student conference and would greatly appreciate it if you could share this rare and unique opportunity by forwarding this e-mail with its attachments to your students or any party that would be interested. Please also note that although this conference is taking place in Taiwan, we encourage students of any major to apply as long as they are interested in a life-changing, international experience.
TASC is a two and a half week long professional conference held in Taiwan and conducted formally in English. Throughout the conference, 15 top university students from America and 15 from Taiwan will participate in:
Roundtable Discussions designed to hone the delegates understanding of a single contemporary issue throughout the conference. (8 delegates total, 4 from each country)
Topic examples: Taiwan-China-U.S. Relations; Modern Issues in Education; Diversity, Identity, and Discrimination
Please note that students do not necessarily need to be versed in these topics, only open and eager to learn about and discuss them.
Academic Forums featuring international leaders such as Dr. Stanton, the former director of the American de-facto Embassy in Taiwan and Anting Liu, the founder of Teach for Taiwan.
Professional Networking Events that will allow students to gain real-world experience in building a community of strong connections and mentors to help them professionally in their future.
Cultural/Historical Excursions tailored to immerse students in Taiwanese culture and allow them to enjoy the conference as one that focuses on fun learning.
For more detailed information please visit our website at http://www.taiwan-america.org/. Financial Aid and scholarships are available for students that qualify.
We hope that students from your university will apply for the first ever TASC and join us for this life-changing summer!
As our final application deadline is March 16th, we urge this letter to be sent to students at your earliest convenience. Feel free to CC me at [email protected] in your email so that students can reach out to me if they have any questions!
Global Medical Brigades: E-board positions available!!
Are you interested in international health and development?
Join the Wellesley GMB E-board to make a lasting impact on healthcare in developing countries! We are planning our next medical brigade to Ghana next January.
Please email [email protected] for more information about available positions and how to apply. Anyone is welcome to apply!
Hari ini, Rabu 12 Maret 2014, aku kena masalah besar! Dan aku rasa masalah ini akan terus berlajut. Tapi hell yeah~ emangnya aku peduli? Hahahaha :D
Well, sebenernya aku peduli banget, tapi ini udah terjadi, jadi mau diapain lagi? Kalo kata pepatah sih, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang udah terjadi kan nggak bisa diulang lagi. Hidup nggak kayak reaksi senyawa yang punya anak panah bolak-balik; bisa dikembaliin ke wujud semula. Iyuuh~
Jadi ceritanya gini. Tadi pagi sama kayak hari rabu lainnya yang sudah kulewati di semeter ini; pergi ke kampus Inderalaya pagi-pagi buta untuk praktikum. As you know, Inderalaya itu jaraknya sekitar 34 km dari Palembang. Jadi yaaah~ kira -kira bisa ditempuh selama satu jam perjalanan dengan bus tua milik universitas yang sebenarnya udah nggak layak beroperasi di jalanan. Bus-bus kuning itu sudah terlalu renta. Kalau cuaca panas, berada di dalam bus itu rasanya kayak dipanggang di dalam oven, sedangkan kalau hujan...ya pasti ada aja penghuni di dalamnya yang kena rintik-rintik air dari atap yang udah bocor.
Semenyedihkan itukah bus universitasku? Ya. Semenyedihkan itu. Aku nggak tahu kemana aliran uang spp kami yang dialokasikan untuk peremajaan bus-bus itu. Kayaknya sih beda haluan dengan tujuan. Haks~
Balik lagi ke cerita utama, jadi hari ini aku, si mahasiswa semester enam kampus Palembang, praktikum biokimia di kampus Inderalaya. Aku ke sana bawa-bawa blender dari rumah karena nggak tahu blender di lab rusak atau nggak. Kebayang kan? Aku bawa kotak gede isinya blender dari rumah, ditaruh di lantai bus, ngehalang orang yang mau turun dan ditenteng lagi waktu jalan mau ke lab. Hihihi. Kalau dipikir konyol banget. Udah seniat itu aku mau praktikum.
Hari ini judul praktikum kami “Isolasi Enzim Papain dari Pepaya”. Bahan utama yang harus ada itu getah pepaya. Sialnya, aku nggak bisa dapet getah dalam ukuran banyak karena nggak ada pohon pepaya di rumah. Ada sih di area sekitar rumah, tapi rumah tetangga, bukan rumahku, hehehe. Temen-temen yang lain juga keadaannya kurang lebih gitu. Kami cuma bawa sedikit getah dan yah, bisa ditebak kan kelanjutan kisahku ini? Kami kena marah. Pastinya.
Peraturan di dunia pendidikan kita kakayaknya emang belum berubah dari zaman kolonial sampai sekarang; kalau murid dan guru beda pendapat, guru itu nggak pernah salah. Yup! Kesalahan selalu ada di murid; nggak mau belajarlah, nggak mau usahalah, nggak niatlah; nggak inilah, nggak itulah. Banyak sekali yah kesalahan murid? Hehehe.
Kalau kalian pernah nonton film India yang diproduseri oleh Amir Khan (judulnya Taare Za Men Paar kalo nggak salah), kalian mungkin bakal sadar kalau murid itu juga punya masalah dalam belajar.
Murid itu manusia. Manusia itu punya keterbatasannya masing-masing dalam melakukan sesuatu. Misalnya gini, ada anak SD yang nggak pinter matematika; nilai ujiannya selalu nggak jauh dari angka dua dan tiga, tapi dia punya kemampuan di bidang seni musik yang luar biasa! Dia bisa memainkan piano dan gitar dengan baik! Apa anak ini bisa disebut idiot? Bodoh? Nggak mau belajar matematika? No! Dia bukannya nggak mau, tapi memang kemampuan otaknya nggak terlalu berkembang di bagian itu! Tuhan nggak ciptain manusia dengan sempurna kan?! Selalu saja ada kelebihan di dalam diri saat Tuhan menitipkan kekurangan. Betul apa betul nih?
Nah~ Dari sepajang paragraf di atas, sebenernya yang mau kumonongin itu adalah kami juga sama! Meski judulnya kami ini mahasiswa, bukan lagi murid SD atau SMA, tapi tentu kami juga masih punya keterbatasan. Dan sebenarnya keterbatasan kami kali ini buka di bagian kognitif, tapi lebih ke afektif.
Pikir aja nih. Aku ini tipe orang yang cukup tertutp; orang yang kalau bisa, lebih baik semuanya dikerjain sendiri tanpa harus ngerepotin orang lain. Aku cenderung nggak biasa minta banyak hal, termasuk pertolongan. Aku terlalu kikuk untuk bicara perihal kebutuhanku, termasuk sama orang tuaku sendiri. Dan tentu aja, aku nggak bisa mudah bilang ,“Tante, minta pepayanya lagi yah. Buat diteliti getahnya” tiap hari ke tetanggaku. Bukannya apa-apa sih. Minta tolong sama tetangga sendiri kan nggak salah yah? Tapi malunya itu loh~ Aku sudah bilang kan? Aku ini kikuk. Boleh deh kalian tambahin kata “banget” di belakangnya.( T^T)
Karena nggak bisa dapet getah dalam jumlah banyak, so pasti dong, aku yang ngaku mahasiswa semester enam ini muter otak? Yup! Aku mulai cari-cari lagi prosedur percobaan yang kira-kira nggak butuh getah yang notabene sulit untuk kuraih itu! #halah!
Jadilah aku niru-niru Joshua zaman baheula, kuobok-obok deh tuh om google. Kutanya sana-sini dan finally! Alhamdulillah aku nemuin jurnal yang isinya penelitian tentang papain juga! Dan metode yang peneliti itu gunakan nggak butuh getah, cuma daunnya aja! Alhamdulillah! Aku bersyukur dan hampir menitikkan air mata! (karena mataku udah perih lihat layar laptop, hehehe ^^v)
Tapi masalah memang selalu hadir di tiap kehidupan. Dan kali ini kehidupan hari rabuku didatangi banyak masalah. Hiks.
Ada salah satu bahan, namanya sistein (salah satu jenis asam amino), yang dibutuhin untuk praktikum dengan prosedur yang baru kudapat itu nggak tersedia di lab!
Halo? Inikah lab yang sudah kami sumbang berjut-jut itu? Kok nggak lengkap sih? Rasanya mau nangis lagi deh tuh akunya. Udah susah-susah cari, ternyata prosedur dari jurnal itu nggak bisa dipake karena keberadaan sistein di lab kami adalah nol gram.
Bisa tebak lanjutannya? Yah. Kena marah lagi, kena marah lagi.
Aku nggak tahan waktu dosenku bilang “Kalian itu nggak niat praktikum Nggak serius.”
Genjreeng! Bagai bensin yang dari tadi diletakkan di wadah terbuka kemudian disulut percikan api, DHUAARR!!! Emosiku meledak,
Aku nggak terima kalau aku dibilang nggak niat. Oke. Mungkin aku atau temen-temenku yang lain memang nggak terlalu serius karena jujur aja, kami capek, stres, lelah dengan praktikum yang nggak jelas mau dibawa kemana tujuannya ini! Tapi kalau nggak niat, mana mungkin kan kami datang ke kampus yang seharusnya bukan kampus kami itu? Yang jaraknya 34 km dari rumah? Yang jalannya jelek dan kalau ada satu aja mobil mogok macetnya bisa berjam-jam?
No! Kalau kami nggak niat, nggak mungkin kami rela kesana kemari mencari alamat! Eh, salah! Maaf~ Kebawa isu Ayu Ting Ting yang lagi hot sih, hehehe. Maksudku, nggak mungkin kami mau kesana kemari cari dan beli sendiri bahan-bahan praktikum kayak bakteri starter, atau getah pepaya terkutuk itu! (Maaf getah pepaya, kamu jadi pelampiaasan amarahku. Maaf!) Nggak mungkin kami mau beli dan susah payah bawa alat-alatnya (panci, kompor gas, blender, dsb) dari Palembang ke Inderalaya! Nggak mungkin kami pusing-pusing cari jurnal-jurnal untuk lihat isi prosedur percobaan yang kami butuhin! Kalau kami nggak niat, nggak mungkin kan kami pilih mata kuliah itu sejak awal pengisian KRS??? Aaaaaaargh!
Rasanya sesak banget waktu dibilang, “Kalian itu nggak punya niat.”
Uuuuh~ Jadi apakah tak ada yang melihat niat dan usaha kami selama ini? Tak adakah seorang saja, Tuhan? Hiks! *dramatis*
Mungkin kalian melihat kalau aku cuma ngeluh, tapi ini bener-bener nggak kayak itu! Ini bukan keluhan. Ini lebih tepat disebut penyampaian aspirasi!!! (hahaha alasan banget yak? :D)
Okay. Mungkin kalian mengira ini adalah akhir kisahku, tapi nggak. Hari rabuku masih panjang. Ini masih awalnya aja. Hoalah~
Setelah emosiku tersulut api amarah #halah, dosenku keluar ruangan dan aku spontan ngedumel sendiri. Rasanya kesel banget. Banyak dosa yang keluar dari mulutku tadi. Aku akui itu. Tapi ada satu hal yang membuat dosenku kesal, tapi nggak buat aku menyesal. Aku bilang, “Nggak seharusya kami, anak kampus Palembang, praktikum di Inderalaya. Harusnya yah praktikumnya di Palembang.”
Itu membakar emosi dosenku. Dan dia langsung, tanpa pikir panjang, nyuruh kami beresin semua barang, rapiin lab dan bilang kalau mulai minggu depan, praktikum kami dilaksanain di kampus Palembang aja. Hahaha.
Antara takut dengan kemarahannya yang bisa mempengaruhi nilai praktikum temen sekelas (kalau aku sih jujur nggak terlalu peduli sama nilai ini. C atau D aku terima aja deh), seneng dengan pernyataannya yang bilang kami nggak usah ke Inderalaya lagi, dan merasa bersalah sama temen-temen karena harus bawa pulang barang di lab yang begitu banyak sekaligus, membuatku yah~ mau nggak mau ngeluarin air garam yang begitu deras dari kelenjar di mataku. Beneran nih. Tadi aku nagis sampe sesenggukan.
Tapi yah. Aku bersyukur juga sih. Mulai sekarang berarti nggak perlu dong buang-buang uang untuk ongkos pulang-pergi naik bus renta lagi? Nggak perlu dong ngeluh Inderalaya itu terpelosok banget sampe sinyal ponsel pun kadang nongol kadang “emergency calls only”??? Hahaha.
Dan aku bersyukur. Pake banget deh karena temen-temenku nggak mojokin aku. Mereka nggak nyalahin aku karena kejadian “penyulutan api” dosenku. Mereka justru meluk dan nenangin aku waktu tadi aku nangis. Hehehe.
Dan akhirnya, setelah beres-beres, kami sewa satu bus untuk nganterin kami ke kampus Palembang. Seriously, barang bawakan kami memang buanyak banget.
Sampe di Palembang, sebuah ruang yang cukup berantakan, dengan berkas-berkas daftar hadir guru peserta PLPG yang berserakan, dan kursi-kursi berjajar penuh debu di tengah ruangan, menanti untuk dibersihkan. Ruang itu adalah ruangan yang disebut lab kimia kampus Palembang. Ruangan petak tanpa blower, dengan jendela kecil yang jumlahnya sedikit, dan justru dipasang AC (!) itulah lab kimia kami. Haks.
Ada petugas kebersihan, tapi kami pilih untuk beresin, sapu, dan pel ruangan itu sendiri. Karena tadi kami diharuskan untuk itu. Dan setelah semua selesai, aku beneran berterimakasih sama semua temenku. Makasih untuk solidaritas kalian. Makasih karena tadi nggak ada satu pun di antara kita yang “memelas-melas” rasa kasihan dari dosen yang bersangkutan dan lebih milih untuk beresin barang-barang kita dan beneran “cau” dari lab di Inderalaya. Makasih! *mewek di dalam kamar*
Thanks a lot for Allah’s bless. Thanks a lot for my friend’s strength.
Dan terakhir, mungkin aku cuma bisa bilang THE END.
The Passenger | (1975, Dir. Michelangelo Antonioni) | March 12
Wednesday, March 12, 2014. 6:00 p.m.
Collins Cinema
To coincide with his exhibition New Gravity, artist Tony Matelli has selected four of his favorite films for a series of screenings. Following each, Cinema and Media Studies faculty will discuss the artist’s selections—and the intriguing notes he has provided on his choices (below)!
Matelli will join the conversations on April 30.
---------------------------------------------
Upcoming Screening:
The Passenger | (1975, Dir. Michelangelo Antonioni) | March 12
"The weight of my obligations is overwhelming. The inertia of my character has become unbearable. Everything feels like a dead end. I want out. New friends, new family, new morals. I want to become someone else."
Inception | (2010, Dir. Christopher Nolan) | April 2
"Ontological magical realism, I think about this a lot."
Dillinger Is Dead | (1969, Dir. Marco Ferreri) | April 30
"The girlfriend is a bore. Every day is like the last. My general privilege has me sleepwalking toward a shallower and shallower horizon. I could really use a clean break."