#SelfTalk : 1. Self Acceptance
Pekan pertama di tahun masehi 2020. Hari baru resolusi baru, impian lama cara baru, aseeeek. Apasih aku.Tahun ini mau coba rutin nulis mingguan dulu di tumblr. Nulis kegelisahan, harapan, dan keseharian. Belum mampu nulis yang berat-berat akunya.
Pekan pertama ini, aku mulai merenungi tentang self-love bagian self-acceptance atau sederhananya menerima diri sendiri. Pertanyaan yang muncul dari topik ini adalah yang pertama apakah aku sudah mengakui kekuranganku dengan ikhlas? dan yang kedua, apa ada hal yang aku sesali dalam hidupku selama ini?
Engingeng, jleb. Saat pertanyaan itu muncul aku hanya bisa diam.
Apakah aku sudah mengakui kekuranganku dengan ikhlas?
Rasanya belum, aku masih enggan menerima bahwa aku begini, begitu. Setiap ada celah untuk kekurangan itu muncul aku selalu berusaha menutupinya. Entah dengan pembelaan atau mungkin kebohongan. Bukan hanya pada oranglain, lebih parahnya lagi itu kulakukan juga pada diriku sendiri. Aku cemas saat oranglain mengungkap kekuranganku, yang mestinya itu kujadikan pengingat untuk memperbaikinya atau mengakui untuk menerimanya. Kecemasan yang akhirnya membuatku terobsesi menjadi sempurna. Menolak kekurangan dan menonjolkan kelebihan secara berlebihan. Aku salah kan? Iyaa. Maka aku mulai belajar memperbaikinya.
Apakah ada hal yang aku sesali dalam hidupku selama ini?
Untuk jalan cerita hidupku sampai detik ini kupikir tidak ada. Meski tidak seindah atau semulus jalan oranglain leganya aku tidak mengandaikan yang mereka miliki itu. Kadang tidak serta merta mensyukuri juga. Yang aku tau dari segala yang aku lalui aku menerimanya sebagai “inilah hidupku, ceritaku, kisahku,”
Sedikit cerita, dulu semasa selesai menamatkan kuliah aku memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumah orangtua, di desa, jauh dari gemerlap ibukota, lowongan kerja jangan ditanya. Aku pulang, menganggur, menghabiskan waktu membantu orangtua. Hari demi hari berlalu, pertanyaan demi pertanyaan menghampiriku. Sampai suatu hari segala pertanyaan yang coba kuabaikan itu ternyata justru memendam, menumpuk dan tumpah dalam bentuk emosi. Perasaan yang mulai sensitif, mudah marah, dan jarang tertawa. Dan parahnya lagi aku sempat punya niat tuk menyakiti diriku sendiri. Sebuah pisau pernah tanganku genggam. Kenapa aku bisa begini? Apakah aku menyesal pulang? Bukan, bukan aku menyesali keputusanku pulang. Aku hanya lelah dicecar banyak pertanyaan yang kadang tidak butuh jawaban, atau hanya untuk menjatuhkan. Kadang juga aku berpikir bagaimana mereka berpikir tentangku , mungkinkah begini, “dulu sekolah rangking satu, tapi kok sekarang pengangguran ya?” . Pikiran-pikiran itulah yang akhirnya membuatku tertekan. Ingat jawaban tanya pertama, aku belum bisa menerima kekuranganku kala itu.
Ya begitulah hidup, selalu ada suara sorak sorai di sepanjang perjalanannya ,yang beranekaragam. Dan lewat semua perjuangan yang sudah kulalui ini, aku mulai mengatakan pada diriku
“Tidak peduli seberapa jauh mereka melangkah mendahuluimu, kamu hanya perlu terus melangkah di jalanmu sendiri. Hidup di dunia ini bukan untuk itu, bukan untuk berlomba menyaingi oranglain. lihat dirimu lagi dan lagi. Tidakkah ia sempurna untukmu?”
Taukah kamu? Sekarang hatiku sedikit lapang dan pikiranku mulai tenang. Penerimaanku mungkin belum utuh, tapi sedari kini aku akan berjuang. untuk mencintai diriku dan tak mengekang.
“Kamu kuat, kamu hebat”
Selamat berdialog dengan diri sendiri. :)









