Memulai 2021: Terimakasih 2020
Kukira, tidak ada kata yang lebih tepat dari terimakasih. Apapun yang telah menjadi masa lalu, manis maupun pahit, membawa pelajaran tersendiri.
Kalau kata seorang teman,
It was the best, it was the worst.
Sepakat sekali dengan pernyataan itu. 2020 memang menjadi cerita kelam bagi bumi, tapi bukan berarti tanpa arti sama sekali.
Di tulisan ini aku ingin mengungkapkan banyak terimakasih.
Buatku, 2020 menjadi titik pencapaian sekaligus mula perjalanan.
Setelah 6 tahun menempuh pendidikan, akhirnya Allah beri kelulusan. Meski sempat khawatir akan ujian yang terus tertunda, finally we did it. Memang, hippocratic oath akhirnya diselenggarakan online. Tapi tentu, jadi kesan unik tersendiri dari batch-batch sebelumnya. Menyenangkan bisa melihat setiap orang bersama keluarganya, dengan persiapan yang sudah amat diperhitungkan, duduk rapi di depan layar.
Apakah kamu pernah, memiliki keinginan yang tampaknya tidak realistis?
Tahun ini aku merasa menemukan titik terang atas mimpi-mimpi.
Bagi sebagian orang, mimpi yang kumiliki tampak kurang realistis. Tampak kurang linear. Aku punya cita-cita untuk mengambil sekolah S2 disusul spesialis. S2 dengan major Public Health dan spesialis dengan major Patologi Klinik. Sejak awal memiliki cita-cita itu, aku cuma punya alasan ‘suka’, dan tetap bingung ketika ditanya, ‘apa hubungan keduanya?’.
Lalu pandemi datang menyerang. Tiba-tiba semua orang jadi harus memahami berbagai istilah kesehatan yang terdengar asing.
Pandemi, PCR, rapid test, virus, mutasi, droplet, airborne, ventilator, dan masih banyak lagi.
Seketika tenaga medis menjadi garda terdepan. Pemerintah, dokter, para ahli tidak berhenti, aku kira, untuk terus berdiskusi membentuk formula terbaik dalam menghadapi virus bagi negeri ini.
Zoominar diadakan dimana-mana, secara gratis. Membahas pandemi dan dampaknya. Mencari cara edukasi terbaik untuk menjelaskan kerumitan dan ke-chaos-an ini pada khalayak ramai.
Masyarakat mau tidak mau harus memahami, apa itu tes swab, PCR, rapid test, juga gejala-gejala jika terinfeksi.
Dokter PK di kampusku, begitu gencar memberikan edukasi melalui kanal youtube-nya. Begitu pula dengan dosen IKM-ku, menerangkan apa itu 3M, apa itu pandemi, dan seterusnya.
Disini, aku merasa pertanyaanku terjawab. Pertanyaan atas cita-citaku sendiri.
Momen pandemi ini membuatku sadar, betapa di masa depan mungkin akan terbentuk masyarakat dengan generasi yang memiliki kebutuhan edukasi yang berbeda. Besok, masyarakat tidak hanya perlu diedukasi tentang bagaimana pola hidup sehat. Besok, ilmu yang muncul di ruang-ruang steril laboraturium, juga harus teredukasikan untuk membentuk masyarakat yang sehat. Kita akan menghadapi generasi yang semakin maju, bukan?
Dari pandemi, aku semakin yakin atas cita-cita yang kutuju.
Kadang, bagaimana Allah memberikan petunjuk itu, memang tidak disangka-sangka. Baik caranya, sumbernya.
Maka, jika pertanyaan-pertanyaanmu belum terjawab, teruslah berdoa dan berusaha. Semoga Allah selalu beri petunjuk-Nya untuk kita semua :)











