352
Perlu waktu panjang dalam mempersiapkan, untuk memantaskan diri bersanding dengan apa yang dicita-citakan. Oleh karena itu, ku sampaikan saja tujuan pokoknya,
"Sehidup sesurga, ya."
—08

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from France
seen from China
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States

seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from India
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Netherlands
352
Perlu waktu panjang dalam mempersiapkan, untuk memantaskan diri bersanding dengan apa yang dicita-citakan. Oleh karena itu, ku sampaikan saja tujuan pokoknya,
"Sehidup sesurga, ya."
—08
Sejak kecil diajari untuk; berani bermimpi setinggi langit, berani bercita-cita setinggi-tingginya. Mereka berkata akan mendukung dengan semua cara agar impian setinggi apapun itu bisa tergapai. Setelah besar memberanikan diri untuk sendirian terbang, tapi kenapa ekornya dipegang? - Sastrasa
Keinginanku mengurangi keinginan
Belakangan lagi sering ngapus-ngapusin keinginan. Kalau biasanya masuk-masukin keranjang, ini justru kebalikannya.
Ada keranjang di marketplace, buang. Liat barang yang suka banget muncul di beranda, langsung cari opsi tidak tertarik.
Padahal suka banget. Tapi biar engga muncul lagi aja.
Karena algoritma sosial media, semakin kita ngasih perhatian terhadap sesuatu. Maka sesuatu itu akan sering muncul.
"Lho bukannya keinginan itu harus banyak?"
Iya memang boleh, boleh banget. Bahkan bermimpilah setinggi-tingginya. Toh tidak ada yang mustahil juga.
Tapi ini hanya berusaha menghindari Impulsif Buying aja.
Keinginan untuk membeli barang secara tiba-tiba tanpa melalui pertimbangan dan proses berpikir panjang.
Alhasil, udah beli nyesel. Kalau pun udah dibeli, engga kepake. Engga terlalu butuh-butuh banget.
Belibet banget yah, padahal bilang aja uangnya engga ada. Haha...
Ya justru itu, karena uangnya memang tidak ada. Makanya bikin capek. Kalau dibiarin mikirin berhari-hari lama-lama maksa.
Maksa minjem, maksa ngutang, pinjol, paylater.
"Lho ya gpp, jadi punya tanggungjawab biar semangat nyari duit"
Hiyaaa hiyaaa boleh, boleh banget.
Kembali lagi, tergantung orangnya cocok apa engga.
Tapi bagi aku pribadi sih, jauh lebih tenang. Dan semakin sedikit pula yang mesti dipikirkan.
Kalau di tiktok lagi rame banget yang bahas "Law Of Attraction" nulis serangkaian daftar keinginan-keinginan.
Ini justru, buang-buangin keinginan.
Ngapurane gusti, hambamu pasrah.
Izinkan untuk sedikit berusaha realistis bahwa di setiap mimpi besar itu, ada sebuah proses panjang yang mesti ditempuh.
Dan sekalipun ternyata prosesnya mudah dan tidak lama, semua keberuntungan itu karena KuasaMu.
—ibnufir
Pelari yang ingin menang juga larinya sambil napas, kamu lari ngejar ambisi malah lupa napas.
Hehehe. Pelan pelan saja yuk, nanti juga sampai.
Yang Telah Kita Bagi, Namun Menemukan Jalan Sendiri
Aku menulis surat ini lantaran aku tak bisa menyampaikannya langsung padamu. Semoga jika sampai surat ini padamu, kamu dapat mengerti kabarku.
***
Aku pernah mendapati sebuah larik surat dari sebuah novel favoritku, Perahu Kertas karya Dee Lestari. Surat yang ditulis Kugy kepada Keenan untuk ulang tahun Keenan. Kurang lebih begini isi suratnya:
Hari ini aku bermimpi, Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku. Sejak kamu membuatkanku gambar-gambar ini, aku merasa mimpiku semakin dekat. Belum pernah sedekat ini. Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng. Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu. Karena bersama kamu aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Karena hanya bersama kamu segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. Selamat ulang tahun..
Dulu kamu adalah Keenan bagiku. Begitu naif kamu percaya pada mimpiku; pada mimpi-mimpi kita. Kamu tidak hanya percaya, tapi kamu ikut mewujudkan. Kamu tak segan memperkenalkanku pada duniamu dengan embel-embel yang menurutku berlebihan.
"Calon penulis besar," begitu katamu sambil terkekeh. Sesekali aku memukul pundakmu karena kupikir pujian itu terlalu berlebihan. Namun kamu menambahkan dengan tersenyum, "Diaminkan saja. Siapa tahu kejadian."
Writing is a lonely job. Having someone who believes in you makes a lot of difference. They don't have to makes speeches. Just believing is usually enough. -- Stephen King
Barangkali benar kata Stephen King. Kepercayaanmu yang naif pada mimpiku itu memberikan energi yang begitu besar untukku. Segala kerja berat dan kesepian yang harus ditanggung penulis aku hadapi sendiri. Ada orang yang percaya, begitu siasatku.
Pada malam-malam panjang penuh percakapan yang lalu, kita selalu membicarakan mimpi-mimpi itu. Mata kita seolah-olah melihat satu hal yang sama: titik tuju. Aku mendengar ambisi pada deru napasmu. Kalimat-kalimat yang kita lontarkan pada percakapan kita berlarian beriringan di angan untuk satu titik yang sama: titik tuju.
Pada saat yang bersamaan, aku merasakan betul betapa bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. Aku seperti berlari di atas angin. Tak pernah seringan ini. Tak pernah semudah ini. Sampai hari ini, aku masih ingat betul perasaan-perasaan itu.
Lalu kini, setelah kamu pergi, mimpiku hanya tinggal di angan. Ia berjalan sendiri tertatih-tatih. Jangan salah kira. Ia tidak patah lantaran kamu pergi. Ia masih berlari dengan kencang bahkan setelah kamu pergi. Aku masih ingat betul betapa susahnya menahan diri untuk tidak memamerkannya padamu tentang pencapaian-pencapaianku setelah kepergianmu.
Ia patah karena berusaha dibunuh oleh orang-orang yang tidak percaya. Barangkali jika aku ceritakan hal ini, kamu pun ikut tidak terima. Tapi kabar gembiranya, ia tidak terbunuh. Hanya terluka di sana dan sini. Maka itu, ia tak mampu lagi berlari. Ia hanya bisa berjalan sendiri tertatih-tatih sambil menyembuhkan diri.
Di kepalaku banyak skenario kemungkinan-kemungkinan dan harapan. Kalau saja kita masih bersama, barangkali mimpiku hanya luka ringan dan masih bisa berjalan tanpa tertatih. Barangkali suatu hari nanti kita akan bertemu lagi seperti Kugy dan Keenan. Barangkali kita sedang melewati jalan berputar.
Ah, ini realitas. Itu tidak mungkin terjadi.
Orang-orang yang percaya masih banyak. Meski tidak sekuat rasa percayamu, itu tak jadi masalah. Membiarkannya berjalan tertatih adalah pilihan terbaik untuk tetap membuatnya hidup dan menghargai siapa-siapa saja yang masih percaya. Alih-alih mengharapkanmu kembali lagi.
Tapi inilah realitas. Namun setidaknya, aku pernah merasakan hidup yang mirip dengan fantasi.
serial cita-cita
tertrigger twit yang bahas kkpk. terus beberapa orang pada reply, katanya dulu suka nulis, berandai-andai bisa ngirim ke kkpk. aku jugaa aku juga.
lalu jadi recall cita-cita fathya kecil apa saja. banyak. dan seru karena kalau ditanya "cita-citanya apa?", aku bingung jawabnya karena banyakk. beda sama sekarang yang bingung jawabnya karena ngga tau mana yang realistis untuk diwujudkan wkwk menguap keinginan-keinginan itu. sad.
dulu cita-citaku arsitek atau desainer interior. aku sama elieana nuraeni (wkwk sebangku terus kitaa) setiap hari gambar rumah. kadang desain luarnya. kadang dalemnya. sesekali denahnya. one day one house/room. digambar di lembaran buku tulis yang dicopot dari tengah itu lho, biar ngga robek. kadang di buku tulis halaman paling belakang. sayangnya bukan di sketch book dan tidak diarsip dengan baik. bahkan kadang ada temen yang "ih fat ini bagus, buat aku lah" lalu akumah ya seneng aja mangga dibawa jadinya ngga bisa dilihat lagi sekarang.
nanti ilya kalau bebikinan sesuatu kayanya seru kalau diarsip dengan baik, biar ilya kalau sudah besar bisa lihat lagi.
dulu cita-citaku pengarang, lalu berubah jadi penulis. aku tau sih kenapa tadinya inginnya pengarang, soalnya dulu aku punya buku harian (yang pertama dari buku tulis sampulnya merah!) terus isinya "dear diary, hari ini aku naik layang-layang". anak-anak memang jago mengarang. lalu lama-lama isi buku hariannya jadi lebih jujur. dan waw menulis kejujuran juga seru ya. supaya lebih umum, kita ganti pengarang dengan penulis. tentang harap-harap bisa jadi penulis kkpk, aku nulis cerita yang tokoh-tokohnya serangga sudah puluhan lembar. tentu saja mengendap di komputer, tidak dikirim ke penerbit 😌
dulu cita-citaku pelukis padahal aku tidak hobi melukis. diksinya pelukis karena kalau penggambar kok tidak pernah dengar ya. dan dulu aku belum tau ada istilah ilustrator. intinya aku suka menggambar walau tidak bagus hehe. aku suka menggambar untuk bercerita atau apapun itu.
dari penulis dan pelukis itu, aku bersama hanin kamal, nida salma, azlia intan (betul ngga ya personilnya itu) bikin novel bergambar. satu halaman buku tulis dibagi-bagi, ⅔nya untuk gambar, ⅓nya untuk teks ceritanya. sehari dibawa aku, sehari dibawa nida buat dikerjain di rumah. kolab gitula. yang lain kalau mau baca ya di sekolah. diputer ke baanyak teman-teman sekelas.
dulu cita-citaku jadi ahli botani. fathya smp isi itu pas tes psikotes. pelajaran biologi bunda rara seruu sekali dan jadi menjiwai. pas ketemu bu tina di man, masih seru. pas bu etty ternyata serunya kebangetan 🥲 sampai akhirnya meragukan apa sebetulnya yang aku sukai dan aku bisa wkwk inilah titik di mana cita-cita yang ada parada menguap (sad) (sob).
mau masuk fsrd tidak boleh, padahal kalau aku punya argumen dan bersikeras mungkin akan dibolehin. terus akhirnya masuk sith padahal keyakinan akan perbotanian sudah surut eheheu. terus sedih karena tidak menyelami jurusan lain wkw
boleh ngga sih merasa salah jurusan kuliah di usia 24 akhir, ketika sudah punya anak 1 🤣
di masa berlalu lalang pikiran macam begini, aku senang masih kepikiran tentang aku yang lama, aku yang punya cita-cita. mungkin kalau disiram lagi, masih bisa tumbuh dan berbuah lalu bisa dipetik?
masih banyak sebetulnya cita-citanyaa. bersambung ah. kepanjangan nanti.
mari lampirkan foto tidak nyambung, yang dijepret dalam rangka lulus dari jurusan yang dirasa salah jurusan tea wkw tapi tidak kok tidak menyezal
Satu diantaranya
Satu dari berbagai cita citaku adalah meninggal di circle saat ini, aku ingin sekali meninggal di tengah banyaknya pekerjaan yang telah aku kerjakan, aku ingin meninggal di tengah sedang berjuang di jalanNya, aku ingin meninggal di lingkungan yang positif, karena kenapa ? alasannya bahwa ketika meninggal nanti aku hanya butuh doa dari orang2 yang telah ku tinggalkan, aku ingin meninggalkan jejak kebaikan di dunia agar doa itu bisa tersalur saat aku sudah tak ada di dunia ini. Maka dari itu lingkungan yang positif yang mampu mendekatkan ku kepada Allah Swt adalah yang harus dicari, jika itu membutuhkan materi dalam memperjuangkannya aku siap insyaallah , dan pasti Allah Swt membantu jalan ini jika memang ini yang terbaik
semoga kelak tawaran ini yang kita dapatkan.
dimana ketika mereka mengira telah mendapatkan sebaik baik kenikmatan. padahal...
Allah berfirman, "apakah kalian masih menginginkan kenikmatan lain ?".
mereka menjawab, "bukankah engkau telah membuat wajah kami bersinar. bukankah engkau telah memasukkan kami kedalam surga. bukankah engkau telah selamatkan kami dari neraka".
dan Allah berfirman, *"ada sebuah janji untuk kalian yang aku ingin penuhi janji itu untuk kalian."*.
Nabi bersabda, "Kemudian Allah menyingkap penutup yang menutupiNya dan mereka tidak pernah diberikan kenikmatan yang lebih agung daripada kenikmatan _memandang Tuhan mereka 'azza wa jalla_ "
Yaa Allah, saliim saliim 💦