Daripada banyak merasa, lebih baik banyak berusaha.
Perempuan seringkali punya kemampuan merasa yang lebih peka dan seringkali mendahulukan perasaannya. Terutama aku hehehe.
Tak jarang perasaan yang dirasakannya itu membawa pengaruh kepada produktivitas yang acapkali ikut berantakan karena mood yang juga sedang berantakan.
Alih-alih segera keluar dari zona tidak nyaman itu, aku justru terlena dengan overthinking dan perasaan sedih yang seringkali dibuat-buat dan diada-adakan sendiri. Huft, fyuh.
Sampai akhirnya aku sadar setelah suamiku memberikan pemahaman, "daripada banyak merasa, lebih baik banyak berusaha". Begitulah perkataan laki-laki sebagai makhluk paling realistis.
Bukan berarti tidak boleh merasa dan bukan berarti tidak berhak mendapatkan validasi perasaan, hanya saja perasaan itu seringkali membuatku berlarut-larut. Apabila tidak dikontrol dan diatasi dengan baik, perasaan itu bisa menghancurkan diri kita sendiri, bahkan orang lain.
Akhirnya kalimat itu jadi mantra buatku biar aku ingat kalo life must go on. Sesuatu yang dirasa kurang layak, gagal, belum benar-benar menjadi sesuatu yang berakhir. Bukan berarti kita payah. Kita masih bisa mengusahakan waktu yang tersisa untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Alih-alih terus memikirkan hal-hal menyedihkan yang bahkan tidak membawa kita kemana-mana sama sekali.
Selama Allah masih memberikan napas, selama doa masih bisa dilangkitkan, kita masih bisa mengusahakannya. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.