seen from Hungary

seen from Hungary

seen from China
seen from Belarus
seen from China

seen from Guatemala
seen from Bulgaria
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Lithuania

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Maldives

seen from United States

seen from China
Menjadi Ibu Rumah Tangga (3)
[ternyata ibu rumah tangga harus siaga 24/7]
Sebut saja tulisan ini adalah aliran rasa sebagai ibu rumah tangga. Namanya aliran rasa maka cerita ini mengalir saja. Tak pernah berpikir akan menjadi beberapa bagian dan hari ini adalah bagian ketiga. Sengaja kulanjutkan karena aku mendapat hikmah yang berbeda setiap harinya. Jika bagian awal bercerita tentang ibu rumah tangga itu melelahkan, bagian kedua bercerita tentang bahwa ibu rumah tangga tidak ada hari liburnya, dan bagian ketiga ini adalah tentang harus siap siaga 24/7.
Sore tadi suamiku mengabarkan bahwa ia akan pulang terlambat karena harus menunggu tukang datang ke kantor. Kupikir tidak akan lama, mungkin sekitar 30 menit dari jam seharusnya pulang. Ternyata usai sholat Isya ia baru sampai rumah. Hari ini adalah hari Senin, alhamdulillah kami sedang berpuasa. Kondisi itu yang membuatku kehabisan tenaga saat membersamai bayiku yang sedang rewel. Kubiarkan ia menangis tapi tak kunjung berhenti. Akhirnya kuhibur ia dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Setelah terdengar adzan Maghrib, kubatalkan puasaku dengan tegukan air putih. Aku tidak menyediakan makanan untuk berbuka karena harus menjaga bayiku yang mulai explore kesana kemari. Akhirnya suamiku menawarkan untuk membelikan makanan via gofood. Setelah makanan datang, seketika langsung kuhabiskan. Di samping itu, bayiku sedang melihat aku makan sambil berteriak berkali-kali seolah ingin meminta makananku. Alhamdulillah, aku kembali bertenaga hehe.
Jika biasanya sepulang suami dari tempat kerjanya ia bergantian menjaga anak kami dan aku mengerjakan hal lain namun kejadian hari ini menyadarkanku bahwa aku harus siap siaga 24/7. Aku hanya berdua saja di rumah bersama putraku. Tidak ada yang bisa kutitipkan meski hanya semenit. Lelah, tentu. Maka, di sisa tenaga banyak kuhabiskan sambil tiduran di playmate dan atau berpindah ke kamar.
Ternyata, menjadi ibu rumah tangga itu tidak ada habisnya. Aku memang tidak pernah mencita-citakan ini secara getol tapi ada keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa berekspektasi tentang lelah, jenuh dan monotonnya rutinitas.
Semoga Allah kuatkan dan mampukan kita semua untuk menjadi sebaik-baik istri dan ibu sesuai yang Allah mau. Domestik ataupun publik, dimampukan untuk bisa maksimal dalam mengelola rumah tangga dan mendidik generasi bertaqwa, beradab juga berilmu. Aamiin.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa.”
(QS Al Furqan : 74)
To new beginnings
Started with old sorrows
In hopes that moving forward
Would somehow bring a better tomorrow
But the old me stays
Worn away from running nonstop
The older me gone like the dreams I've learned to drop
Where have I been
That the tears have dried up and my chest aches still
I dread everyday and every minute
Somehow I pray that I'll make it past tomorrow
With guilt to live a harder life
To run until my legs bleed
My skin tears
And my heart gives
Until I can rest by saying I can do no more
But to lay broken and still
Do I take paper and pen then
Or will I stay with broken arms
Finally allowed to be still
Permission coming from nothing but unshakeable truth
That I have no more to give
That I can give no more
There are no more words on my tongue
No movement in what lays broken
And the only thing left to offer
Is to burn for another warm night
- ...