seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Germany
seen from Russia
seen from India

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from India
seen from Italy
seen from United States
seen from France
seen from Czechia

seen from Australia

seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from Türkiye
bir kudüs’lü çocuğun zihnindeyim şimdi
yediğim acı
hissettiğim acı
önüm ardım acı
I wonder if anyone actually thinks
On the concept of bliss
“We were made for each other:
Match made in heavens.”
Oh, how do they not see
That words aren’t as simple as they could be
Because made for each other leads to two paths:
Made to make each other;
Make each other exist
Make each other breathe
Make each other shine.
Or made to destroy each other;
Like the frogs who don’t feel
The warmth of the water
Until it is boiling
Drowning both.
The paths may end up at the same spot, though:
Time will pass, and flames will die
So maybe matches aren't to be played with
Or maybe it doesn't matter what type of "made for" you are
Because there isn't a scenario in which
The fire will wait.
So I guess it's time to leave things when they are still pure
I'm sure the universe would never want to see us fight ourselves
We were match made in heavens, for sure
But it was a match we shouldn’t have strike.
ben seni uzaklarda sevdim*
Sorun dürüst olmak Alda her şeyden önce kendine dürüst olmak ve dürüstçe sevgili kendim; "YALANCISIN!" yalan söylüyor diye kızdığın herkesten daha çok yalan söyledin kendine.
Zâten izzetle mevti, zilletle hayata tercih edenlerdeniz.
Mektubat
Ilmu
Judulnya juga mahasiswa, seharusnya ilmunya semakin tinggi semakin pandai juga pemanfaatan ilmunya.
Jam 21.49 tadi lagi asik-asiknya nonton k-drama tiba-tiba ada line masuk. Dikira si doi gitu yang tiba-tiba kesurupan langsung terbayang muka gue dan terlintas untuk chat line. Ternyata line dari teman kampus. Ralat. Kenalan di kampus. Ralat lagi. Belum kenalan sih cuma sama-sama tau selewat aja.
Kaya biasa, gue sih nunggu isi chat sampe lengkap, sampe dia jelasin maksud dan tujuan line malam-malam. Sebagai petugas admin-adminan, gue kategorikan komunikasi melalui telepon genggam apapun medianya melampaui jam 21.00 itu gak sopan ya kalau minta sesuatu bukan bersangkutan dengan hal pribadi. Dan benar, si oknum A ini, lebih lanjut gue sebut oknum A, chat karena dia butuh suatu data di kantor gue untuk kebutuhan tugasnya. Teman kampus sih, tapi kalau udah minta sesuatu berkaitan dengan data kantor atau semacamnya, ya kita sama-sama mahasiswa, apalagi mahasiswa komunikasi harusnya tau ya cara bersikap dan berkomunikasi yang baik gimana. Main peran kan harusnya. Dan kaya biasa juga, berhubung chat malam-malam, apalagi ini bukan hubungan antar teman, gue gak langsung read linenya. Beberapa menit kemudian, teman sekelompoknya, lebih lanjut gue sebut oknum B, chat juga. Dan dia juga minta data untuk keperluan tugasnya. Niatnya gue gak akan balas chat mereka sampe besok pagi karena bisa dibilang ganggu. Iya gue jomblo emang gak ada yang chat juga, tapi bukan berarti senang kalau ada yang chat malam-malam gitu.
15 menit kemudian oknum A chat lagi, akhirnya karena gak tega gue balas chatnya dan bilang kalau gue gak megang data yang mereka butuhkan karena bukan bagian dari kerjaan gue di kantor. Dan ternyata si oknum A bilang kalau data tersebut dibutuhkan untuk besok dan ternyata itu revisi seminar. Kasian sih, gue juga mahasiswa kalau dicuekin kan gak enak. Akhirnya gue jelasin kalau datanya bisa gue bantu cari tapi lusa karena gue baru masuk kantor lusa. Udah baik-baik, si oknum A malah minta kontak orang kantor yang megang data yang dia butuh. Yang tadinya niat bantu, karena isi chat yang seenaknya gitu, gue lebih milih nulis di sini daripada balas chat mereka. Kan udah mendadak, malam-malam, maksa pula. Siapa yang mau bantu kan.
Bukan maksud gue untuk songong sebagai pegawai perusahaan dan gak mau bantu. Bukan. Tapi kalau mereka gak mendadak dan meminta lebih sopan mungkin gue akan bantu cari solusi. Cobalah mahasiswa dipakai ilmunya, apalagi mahasiswa komunikasi masa gak tau cara berkomunikasi yang baik gimana. Gue jadi ingat, beberapa waktu lalu gue lagi scrolling timeline twitter dan ada yang curhat kalau dia di telepon oleh seorang mahasiswa dari Bandung untuk mengajukan kerjasama dengan kantornya. Awalnya dia dengan senang hati bantu dengan memberikan no telepon orang yang memang mengurus bagian sponsorship di kantornya. Tapi ternyata si mahasiswa tersebut malah minta ngobrol langsung dengan orang sponsorship dan minta orang yang ditelepon memberikan telepon genggamnya ke orang sponsorship tersebut. Karena kesal, dia langsung menutup telepon dari mahasiswa tersebut. Dan akhirnya dia bilang kalau mahasiswa jaman sekarang kok gak ada sopan santunnya. Benar juga, setelah mengalami kejadian tersebut gue jadi mikir kok mahasiswa jaman sekarang segala pengen instant ya? Kok mahasiswa jaman sekarang pengen yang gampang-gampang aja ya? Cara pendidikan di bangku kuliah selama ini emang gak ada pengaruhnya sama sekali untuk latihan kemandirian, kesopanan, atau untuk mahasiswa komunikasi khususnya mata kuliah dasar-dasar komunikasi yang dipelajari gak ada manfaat sama sekali untuk mereka?
Cobalah ilmu yang dibeli belasan juta, puluhan juta, bahkan ratusan juta dipergunakan sebagaimana mestinya. Tapi ilmu juga gak akan cukup kalau gak dibarengi sopan santun. Gak pintar juga kalau sopan kan orang lain juga pasti akan senang. Yuk, jangan lagi bikin stigma “mahasiswa jaman sekarang” yang aneh-aneh. Hargai peran sebagai mahasiswa yang populasinya di Indonesia kurang dari 10%. Udah susah-susah kuliah tapi ilmunya gak dipake kan piye iki?
sevgili şu an yolda. bana gelmiyor evet, ailesinin yanına gidiyor, ama öylesine rahatım ki yine de... son konuşmamızda anlattıklarımı boğazımı düğümledi. daha detaylı anlatacak elbet. gelecek, beş gün sonra. gelsin. kokusunu özledim.