My Proudest Moment
#Day5ofBlogChallenge
Dari semua prestasi yang pernah aku capai, hanya ada satu yang paling berkesan buat aku sampai saat ini, yaitu prestasi menerbitkan cerpen menjadi sebuah komik. Masa SD merupakan masa-masa paling produktif. Saat itu aku sering membuat naskah novel maupun cerpen untuk dikirim ke banyak penerbit, walau hanya beberapa yang rampung. Kebanyakan naskah yang aku buat adalah naskah yang dilombakan. Lomba menulis pertama yang aku ikuti adalah lomba cerpen anak yang diadakan oleh Cussons Kids, dan yap tidak menang
Sayangnya dari sekian banyak naskah yang aku kirim hanya satu yang diterima. Saat itu Penerbit Muffin Graphics (penerbit komik anak) membuka lomba membuat cerpen. Gak banyak basa-basi, aku langsung menggarap cerpen tersebut. Aku udah lupa dengan detail cerita yang aku buat waktu itu (maklum udah lama banget). Tapi aku masih ingat plot intinya yaitu seorang anak kecil bernama Mia yang memiliki seorang sahabat bernama Violet. Suatu hari, Violet terlihat menyembunyikan sebuah rahasia dari Mia saat mereka berjumpa di sekolah. Gerak-gerik Violet mencurigakan, sehingga Mia mengikuti Violet. Ternyata, Violet digentayangi hantu (aku lupa hantu apa). Sang hantu menyuruh Violet untuk membawa Mia ke gudang sekolah (ga ngerti juga kenapa kudu begitu). Setelah itu, aku lupa kelanjutan ceritanya, loll
Saat itu, aku ga terlalu berharap akan terpilih karena aku gak merasa cerita yang kubuat bagus, malah medioker banget deh. Tapi, seperti yang orang bilang, kalau rezeki mah ga akan ke mana, terpilihlah naskah cerpenku sebagai salah satu pemenang lomba tersebut. Inget banget pertama kali dapet kabar itu, mamaku menyodorkan sebuah amplop surat putih berukuran 110x230. Beliau tidak berkata apapun, aku bingung dan penasaran sama isinya. Jujur, aku ga punya ekspektasi apapun saat membuka surat itu. Aku masih ingat perasaan yang menggebu-gebu saat melihat kop surat dari Muffin Graphics. Seketika aku tau apa isi surat ini, yak betul, cerita yang aku kirim resmi diterima dan akan segera diterbitkan. Terharu, seneng, dan bangga --perasaan yang aku rasain waktu tau cerpen aku bakal diterbitkan menjadi sebuah komik. Dari surat itu juga aku dapat informasi bahwa aku harus menunggu selama 3 bulan (kalau ga salah) hingga bukunya benar-benar diterbitkan dan dijual secara komersial. Tiga bulan berlalu, aku menerima dua eksemplar buku tersebut secara gratis dan empat eksemplar tambahan yang aku beli secara pribadi. Beberapa buku tersebut aku berikan ke orang-orang yang, menurutku, sangat membantu dalam menyelesaikan karya tersebut melalui dukungan pengetahuan dan morilnya.
Yap, itulah momen paling membanggakan dan membahagiakan yang pernah aku ingat selama 19 tahun hidup. Walau agak susah, tapi aku sangat berharap bisa melahirkan prestasi serupa di tengah-tengah kesibukan kuliah dan sakit (eh). Akhir kata, semoga siapapun yang membaca tulisanku, dapat terus beprestasi sekecil apapun. Bis bald!











