Ke-Adil-an
Di sela jam jaga malam beberapa hari yang lalu, IGD kosong, para lelaki (sejawat dan tenaga medis lain) berkumpul di meja tengah membahas sesuatu yang menggelitik. Pasal poligami. Mendengar percakapan mereka yang ngalor ngidul rasanya lucu padahal kami yang perempuan berada agak jauh, di meja registrasi mengerjakan logbook mingguan. Mereka membahas tentang "perempuan yang masuk surga tanpa dihisab jika mengizinkan suaminya berpoligami". Tidak tahu mencomot dari mana penggalan pembicaraan mereka, dan tetiba mereka menyeletuk bertanya tentang itu.
Di dunia yang semakin sempit ini, manusia semakin banyak, dan ilmu yang semakin tidak matang merajalela, mereka membahas sesuatu yang dianggap "enak" saja. Manusia sekarang, berpegang pada kontekstual belaka tanpa memikirkan ataupun mengkaji asal usul kenapa suatu hadist ataupun ayat diturunkan. Pun tidak melihat sambungan kalimat setelahnya atau sebelumnya. Mencomot hal-hal yang dianggap sesuai kebutuhan nafsunya, mengesampingkan yang lainnya.
Jika ditanya setujukah dengan poligami, apakah akan mengizinkan suami berpoligami, dan hal-hal lain yang seperti ini, rasanya masih belum tahu akan menjawab apa. Karena dibutuhkan pertimbangan yang sangat matang dalam segala aspek. Aspek terpenting adalah, keadilan yang harus diutamakan. Karena keadilan riskan untuk tidak dilakukan, bentuknya tidak terlihat karena akan berhubungan dengan prasangka. Dan bagi saya, menikah itu bukan suatu hal yang hanya dilihat bahagianya saja, tapi langkah kedepannya dalam membangun keluarga dengan komposisi berbagai kepala-berbagai pemikiran yang pastinya memiliki sisi ideal beragam.
Manusia cenderung tidak adil pada dirinya, antara kehidupan dunianya dan penguasanya, terlebih jika dia harus menanggung individu lain yang membutuhkan dirinya dibagi tiga, minimal.
Sanggupkah? Sepertinya hanya orang-orang terpilih, seperti Rasulullah lah yang diberikan kemampuan menjaga hatinya, perilakunya, dan tutur katanya.
Terlepas dari itu, yang membuat diri ini terkaget adalah lelaki yang berpendapat bahwa tanggungjawab mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan kegiatan rumah lainnya adalah tugas perempuan. Kesetaraan gender kadang dibawa-bawa, meskipun menggolongkan sebuah pekerjaan bukan kesetaraan namanya. Mungkin maksud mereka adalah perempuan yang sepertinya lebih dekat dengan keluarga, anak-anaknya, dan segala barang di rumahnya. Namun, bukankah dalam satu keluarga semua peran harus saling mengenal, melengkapi, dan bekerja sama agar tujuan keluarga itu tercapai?
Pendapat amatir saya, lelaki yang nantinya menjadi ayah harus punya tingkat pengetahuan yang tinggi larena darinyalah keputusan akan ditentukan, tingkat kematangan emosi yang mumpuni untuk menggiring kapal keluarganya ke pelabuhan yang benar. Pun tidak harus instan jadi, bisa saling melengkapi saat perjalanannya di mulai, namun bukan berarti tidak berbekal sama sekali. Seorang perempuan yang nantinya akan jadi ibu, harus memiliki tingkat pengetahuan yang jauh lebih mumpuni, emosi yang terkendali dengan baik agar nantinya dapat memberitahu nahkoda keluarganya jika arahnya keliru. Pekerjaan utama 2 insan ini memang berbeda, namun seluruh kegiatan dalam rumah adalah tanggungjawab bersama.
Masih banyak pula ditemui di sekitar kita seorang ayah yang menyalahkan ibu jika anaknya nakal atau tidak sesuai harapannya. Ketahuilah wahai ayah, sudahkah anak itu mendapat kasih sayangmu, apakah peranmu dalam keluarga sudah dilakukan semua selain memberi nafkah berupa kebutuhan sehari-hari, apakah kehadiranmu selalu ada dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan buah hatimu. Pertanyaan yang sama harus ditanyakan pada ibu. Wahai ayah ibu, sudahkah kalian berdiskusi akan membagi peran mendidik seperti apa, kapan keberadaan kalian tidak timpang dan sama-sama berbagi peran yang seimbang. Pola asuh yang tidak seimbang, hanya salah satu peran saja yang dominan, dapat membuat buah hati bingung dengan dirinya, setidaknya itu yang pernah saya pelajari.
Saya tidak menyorot kejadian selain pola asuh anak, karena dasarnya lelaki dan perempuan menikah adalah untuk membangun sebuah keluarga dimana akan lengkap dengan adanya anak. Anak pun adalah salah satu aset orang tua untuk menuntun ke surga. Jika dengan bekal perjalanannya menuju surga saja belum bisa adil, bisakah mengatas namakan keadilan untuk hal yang lain?
Sebenarnya dalam hati kecil saya tidak ingin membahas hal seperti ini, karena harus ditilik dalam berbagai aspek dan bermacam sudut pandang dan saat ini karena keterbatasan diri yang melihatnya masih dari sisi yang sama. Pun, belum merasakan pengalaman menikah dan berkeluarga sendiri yang didalamnya pasti terdapat banyak hal tak terduga sebagai pelajaran. Pendapat amatir ini hanya berdasar pengamatan dan perenungan yang terjadi dari banyak cerita dan pengalaman. Yang semoga dengan dituliskan, diri ini semakin baik lagi dalam berproses, dan nantinya dapat memiliki pasangan yang menjadi penyeimbang, serta keluarga yang selalu dalam keberkahan.
Aamiin..
~300118, Lawang-Malang yang dingin sampai butuh antihistamin.
Sudah hari ke 30 apakah yang sudah dicapai untuk memperbaiki diri. Semoga sabar selalu menyelimuti.








