ketika saya hendak menikah, saya menulis buku bersama dengan mas yunus. kami bermaksud menerbitkannya saat hari H. akan tetapi, rencana itu batal karena satu dan lain hal. draf tulisannya teronggok dalam harddisk–yang kemudian rusak pula.
hampir tiga tahun setelah menikah, saya sengaja menabung untuk menyelamatkan data-data dalam harddisk itu, dengan maksud untuk meneruskan menulis. alhamdulillah, upaya ini berhasil.
saat saya membaca tulisan-tulisan lama kami, saya geleng-geleng kepala. tidak hanya tulisannya masih mentah, kontennya banyak yang menurut saya sekarang, kurang pas. rupanya, cara pandang saya akan beberapa hal begitu berubah.
sontak, saya merasa bersyukur karena tulisan itu tak jadi terbit. saya juga bersyukur karena bertumbuh dan mau belajar untuk melihat sesuatu dari sisi lain.
saya jadi teringat pesan guru menulis saya, Ahmad Fuadi. beliau berpesan, sebaiknya, kita mengendapkan tulisan sebelum mengeditnya. seminggu atau dua hari pun cukup. pasalnya, pada proses pengendapan itu, kita akan belajar. saat kita membacanya ulang, kita mungkin tertawa-tawa. barulah, kita menyadari apa yang perlu diperbaiki.
saya lalu merenungkan, bisa jadi, beberapa hal lain dalam hidup juga perlu diendapkan sebelum kita melakukan sesuatu terhadapnya.
terbelah di antara dua keinginan? endapkan dulu sejenak, istikhoroh dulu. ingin melangkah ke pernikahan? endapkan dulu sejenak, pertimbangkan dulu masak-masak. ingin berpindah karier? ingin melanjutkan sekolah? apa pun itu, endapkan sejenak, pikirkan, dan rencanakan. bahkan, untuk sekadar membeli barang, pikirkan dulu kembali. apakah perlu atau ingin? untuk sekadar mengunggah postingan, pikirkan dulu dua kali. ini baik atau tidak?
pernahkah kamu begitu bersemangat atau terbawa emosi dan suasana sehingga impulsif melakukan sesuatu? mengambil sebuah tindakan atau keputusan? berapa banyak yang kamu sesali kemudian?
kini, saya menjadikan ini jurus setiap kali keinginan-keinginan muncul tiba-tiba dalam diri saya: endapkan dulu. pikirkan dulu. pertimbangkan dulu. istikhorohkan dulu. dan yang paling penting, rencanakan dulu.
kata orang, kita lebih sering menyesal karena tidak melakukan dan tidak mengatakan daripada melakukan dan mengatakan. akan tetapi, tentu kita tahu bahwa apa yang sudah kita lakukan dan katakan itu tak bisa ditarik kembali. jangan sampai kita menyesal dua kali.