Langit sore berwarna abu-abu, sulit ditebak. Bukan lagi jingga di ufuk barat namun mendung yang menggelayutinya seakan merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh gadis berjilbab maroon ini. Afra, si periang yang suka jahil, namun teguh menjaga diri.
Sore ini, setelah pulang kerja Afra berencana pergi ke suatu tempat untuk memenuhi janji dengan murobbinya. Ada niat yang ingin ia sampaikan sore ini juga. Jika terlalu lama ditunda ia khawatir hal ini akan mengganggu ketenangan hati. Masih dengan seragam kerjanya, ia memacu motor berplat AA dan menyusul pengendara motor lain menembus kemacetan.
Dua puluh menit, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan. Tukang bakso dekat Masjid Biru. Afra lalu memilih tempat duduk yang berada di bagian pojok ruangan. Sambil menunggu kedatangan Nisa, sang murobbi, ia memesan bakso urat yang menjadi makanan favoritnya.
Hampir setengah jam Afra dan Nisa yang ditemani si kecil Fikri menghabiskan bakso sembari berbincang seru seperti lama tidak bertemu. Akhirnya Afra memberanikan diri mengutarakan kegelisahan hatinya. Lirih dan terbata-bata, ia mulai menyampaikan niat yang telah ia rancang jauh-jauh hari.
Afra menerima pesan melalui ponselnya dari sang murobbi. Ia tahu bahwa murobbinya hendak menyampaikan hasil dari pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Ia merasakan jantungnya seperti sedang break dance di dalam rongga dadanya. Tanganpun ikut gemetar. “Bismillah.” Bisiknya. Ia mulai membaca kata demi kata.
Assalamualaikum, dek Afra. Langsung saja ya, Kak Nisa ingin menyampaikan jawaban dari Yusuf melalui ayahnya Fikri. Beliau sudah menemuinya dan sudah menyampaikan hal yang menjadi niat dek Afra. Yusuf masih ada tanggungan adik paling bungsu yang masih belum lulus sekolah dan beliau juga masih menyelesaikan kuliahnya. Seperti pesan Yusuf, dek Afra adalah muslimah yang baik insyaAllah pasti ada ikhwan baik yang menjadi pendamping dek Afra kelak.” Afra sampai berulang kali membaca isi pesan dari murobbinya itu agar ia bisa memahami maksud yang ingin disampaikan.
Tak lama pesan kedua masuk. “Sabar ya dek. Sepertinya Yusuf belum siap untuk menikah. Kak Nisa tahu dek Afra pasti kecewa. Tapi tetaplah yakin dengan janji Allah bahwa wanita baik untuk laki-laki baik. Mungkin Yusuf bukan yang terbaik untuk dek Afra. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Semangat ya, Allah sangat sayang kepadamu, dek. Nanti kakak carikan gantinya ya. Hehe.”
Menurut Afra, Yusuf adalah partner kerja yang super baik. Dua tahun lalu, saat pertama kali bertemu Yusuf, Afra sadar bahwa ia merasakan sesuatu yang sampai saat ini ia simpan rapi. Namun beberapa bulan belakangan ini Yusuf rajin mengiriminya perhatian berwujud pesan yang kemudian mengusik ketenangan hidupnya. Inilah kegesilahan hati yang ia sampaikan kepada murobbinya dua minggu yang lalu.
Setelah berhasil menenangkan diri, Afra membalas pesan dari murobbinya. Wa’alaikumsalam, Kak. Jazakumullah khair atas bantuan Kak Nisa dan suami. Afra masih selalu ingat akan janji Allah. Afra tidak akan jatuh dan terpuruk hanya karena hal ini, Kak. Jika kecewa yang Afra rasakan menjadikan Afra lebih mendekat kepada Allah, Afra ikhlas dan jauh lebih bersyukur, Kak. InsyaAllah Afra akan tetap semangat!” Terlihat senyum manis terbit dari bibirnya.