Kamu Islam Golongan Mana? (Bagian I)
Hari-hari ini kita seringkali disajikan berbagai perdebatan di media sosial kita. Salah satu pandangan yang berkembang sekarang adalah anggapan sejumlah masjid, kampus, atau aliran tertentu di dalam islam menganut paham radikal sehingga perlu untuk segera dibasmi. Sejumlah kalangan merasa khawatir kebhinekaan akan luntur dengan kehadiran golongan-golongan ini.
Salah dua kelompok yang mendapar cap radikal adalah kelompok salafi-wahabi serta kelompok tarbiyah, yang salah satunya termanifestasi oleh Lembaga Dakwah Kampus.
Saya kemudian merefleksikan perjalanan spriritual saya selama ini. Sejak kecil, saya dikenalkan Islam adalah jalan hidup oleh kedua orang tua saya. Keluarga besar kedua orang tua saya berasal dari Nahdlatul Ulama, yang kemudian diikuti oleh kedua orang tua saya. Ayah saya sering mengajak ke berbagai agenda seperti mengaji yasin, tahlilan, maulidan dan terkadang meminta saya kultum di tengah acara keluarga yang sedang tahlilan atau yasinan. Ibu saya pun demikian.
Kendati demikian, saya menghabiskan masa remaja di sebuah pesantren bermanhaj (berpemahaman) salafi. Keputusan tersebut didasari oleh keinginan orang tua saya, bukan atas inisiatif saya sendiri. Mungkin terkesan ganjil orang tua yang memiliki latar belakang NU namun menyekolahkan putranya ke sebuah pesantren salafi.
Ketika saya di Kampus, saya bergabung dengan Lembaga Dakwah (LD) baik di tingkat fakultas ataupun universitas. Selama empat tahun berada di dalamnya, saya diamanahkan untuk menanngani persoalan kaderisasi, yang disebut sebagai salah satu fondasi dari kelompok Tarbiyah. Ya, lembaga tempat saya bernaung di Kampus merupakan bagian dari kelompok Tarbiyah, yang tentu saja berbeda dengan kelompok Salafi dan NU.
Hingga hari ini, saya masih hidup dalam tiga pemahaman yang berbeda. Saya memiliki banyak teman salafi, mengikuti kajiannya di sekitar rumah saya, dan dua hingga tiga bulan sekali saya menjadwalkan diri saya untuk bersilaturahmi kembali ke pesantren salafi tempat saya menimba ilmu dahulu.
Saya juga masih mengikuti berbagai agenda-agenda yang menjadi ciri khas kelompok NU, yang mungkin dalam pandangan sebagian dari kita hal tersebut tidaklah ada tuntunannya dalam Al Qur’an dan Hadits. Saya masih mengikuti agenda maulidan, tahlilan, yasinan, serta berbagai agenda lainnya. Kendati secara struktural saya tidak tergabung dalam keorganisasian NU.
Selama berada di Kampus, saya memiliki banyak sekali kawan-kawan yang bergerak pada kelompok tarbiyah, terlibat dan menyusun berbagai agenda kaderisasi, dan hingga hari ini saya masih menjalin hubungan baik dengan mereka semua.
Ada kawan saya yang mengatakan bahwa kelakuan hidup di berbagai ekosistem seperti ini adalah amoral. Semestinya kita hanya meyakini salah satunya dan menjalani hidup dengan keyakinan yang sudah dipilih tersebut. Adapula yang menilai saya safe player atau bahkan pengecut, hanya ingin main aman dan tidak mau mengambil resiko dengan hanya menjalani salah satu keyakinan saja.
Dalam tulisan berikutnya, saya akan bercerita tentang apa yang saya rasakan ketika saya menjalani masa pendidikan selama enam tahun di sebuah pesantren salafi, bergabung dengan kelompok tarbiyah di kampus, sembari menjadi seorang NU secara kultural ketika saya berada di lingkungan keluarga.
Semoga apa yang saya ceritakan, dapat diambil hikmahnya bagi kita semua.














