Di sore ini aku mengikuti kelas yang diadakan oleh komunitas menulis. Pembahasannya cukup menarik. Tapi, ada satu subbab yang menarik yang menjadi bahasan untuk di ulas kembali, yaitu menulis merupakan proses penyembuhan.
Maksudnya bagaimana ya?
Proses penyembuhannya seperti apa sih?
Emang ada kaitannya antara trauma dengan menulis?
Wah banyak sekali ya pertanyaannya.
Aku mencoba menguraikan beberapa pertanyaan di atas. Namun, bukan berarti aku termasuk orang yang ahli dalam bidang healing atau disebut dengan terapis, dan memiliki background psikologi. Melainkan, aku hanya ingin sedikit berbagi berdasarkan pengalaman semata.
Sebelumnya, aku pernah menulis tentang makna tulisanku, yang dimana di dalamnya ada quote yaitu menulislah jika itu membuat diri berdamai. Di sana aku mengungkapkan bahwa menulis merupakan salah satu terapi untuk berdamai dengan diri sendiri, dan mencintai keberadaan diri ini. Selengkapnya teman-teman bisa membaca di akun IG aku ya @nur_olip. Scroll ke bawah di akun IG nya ya, maka kau akan menemukannya. hehe
Mengapa menulis yang dipilih sebagai healing dan apa sih yang dirasakan waktu itu?
Waktu itu, aku mengalami yang namanya mental disorder hingga membuat trauma tersendiri. Namun, alhamdulillahnya bisa diatasi dengan tidak menggunakan obat. Selain itu, aku termasuk tipikal pemendam rasa dan pemikir.
Tahulah ya orang yang pemikir dan pemendam rasa ini seperti apa?
Ya sok kuat di depan orang, sok ceria, sok oke kalau bisa menangani problem hidup. Tapi nyatanya, ada kerapuhan di dalamnya. Nah lho. kewalahan sendiri 'kan jadinya? ^_^
Aku memutuskan untuk menulis, lantaran menilik kepada bapak Habibie, yang di mana beliau mengalami psikosomatik atau depresi setelah kepergian istri tercintanya yaitu ibu Ainun. Saat itu, tim dokternya mengajukan beberapa opsi pemulihan, diantaranya yaitu masuk rumah sakit jiwa, tinggal dirumah dengan pengawasan dokter, curhat ke orang terdekat, atau menyelesaikannya sendiri. Pak Habibie pun akhirnya memilih untuk menyelesaikannya sendiri dengan cara menulis. Beliau menuliskan semua ungkapan perasaannya saat bersama dengan sang istri, di suatu momen yang mereka alami. Tentu tidak mudah bagi beliau dalam menuliskannya. Namun nyatanya, hal itu berdampak positif kepada beliau. Sehingga beliau bisa melewati masa-masa tersebut.
Maka dari itu, akupun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh bapak Habibie yaitu menulis. Waktu itu, aku menulis lebih kepada hal yang negatif dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan secara mendalam. Jadi benar-benar berfokus pada penyaluran emosionalnya. Sehingga menjadi kelegaan tersendiri, dan salah satu bentuk merefleksikan diri, seperti bisa mengenal emosi yang ada dalam diri, mengklarifikasi suatu kejadian, sehingga membuka pikiran untuk melihat masalah secara objektif dan jernih seperti sedang menguraikan benang-benang yang semrawut.
Sebenarnya, menulis pun bukan untuk yang emosi negatif saja. Tapi untuk emosi yang positif juga bisa dituangkan dalam sebuah tulisan. Namun bila di lihat dari sisi terapeutiknya sendiri, menulis merupakan bentuk merefleksikan emosi negatif yang menyesakkan di dalam diri, dan bentuk penerimaan diri terhadap segala sesuatu yang menimpanya.
Ya, itulah kiranya, maksud dari kata yang menjadi slogan tersendiri, yaitu my writing is my healing. Karena ada suatu kisah tersendiri di balik menulis, dan pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan dalam meregulasi sebuah emosi.











