Di hari jumat, pukul 19.05 ba’da sholat magrib, tepat tujuh tahun silam tangisku pecah di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Menyaksikan di depan mata bagaimana proses sakaratul maut yang berlangsung sungguh cepat. Ketakutan terbesarku selama satu bulan terakhir terjawab. Saya kehilangan Bapak untuk selama-lamanya.
Tidak banyak memori yang bisa saya ingat detail tentang bapak. Bukan karena sama sekali tidak ada yang dipikirin, justru energi habis untuk bergumul dengan tangis sebab kerinduan yang sudah membuncah. Dalam banyak momen setelah peristiwa Bapak pergi untuk selamanya selalu saja rasanya ingin ada bapak disana menyaksikan perjalanan yang saya lalui hari ini.
Sejak hari itu saya terus mengumpulkan puin-puin kenangan bersama dengan Bapak. Di hari wisuda, saya tak mampu membendung cairan bening itu agar tak jatuh saat maju di podium. Ingatan-ingatan tentang bapak memanggil kembali, meliuk di dalam pikiran. Semangat dan keinginan bapak melihat saya untuk terus maju lebih banyak dilakukan secara diam. Tahun 2012 saat saya rasanya sudah patah di tolak oleh PTN berkali-kali dan ingin menyerah saja, bapak datang membujuk saya di kamar lalu menimbahkan air dari sumur dan meminta saya agar segera mandi untuk siap-siap berangkat menuju kota dan berjuang Kembali. Bapak dengan sangat menyakinkan dan percaya bahwa saya bisa lanjut kuliah tahun itu. Sebelumnya di malam-malam menuju Ujian nasional, bapak selalu setia menemani saya dan teman-teman bersama senter kesayangannya menuju rumah guru Matematika yang dimana jalan menuju kesana memang gelap dan rada horror. Hingga seorang temanku berkata “pi kok mau yah bapakmu ngantar kita?”. Atau di lain waktu setiap dini hari mengetuk pintu kamarku memastikan apakah saya sudah bangun atau belum, sebelum ke sekolah dan bapak belum berangkat ke kebun tak lupa ia akan berkata “airnya sudah siap, silahkan mandi jangan sampai telat” -Masa itu di rumah masih menggunakan katrol untuk mengambik air dari sumur-, dan masih banyak cerita lainnya.
Hari-hari selepas kehilangan pasti berat, terlebih ummi yang merasakan kesedihan sangat mendalam. Di perjalanan hari ini, dari berbagai proses kini saya belajar tentang arti sebuah penerimaan. Sebab kita memang tak pernah memiliki apa-apa, semuanya hanya titipan. Sampai pada waktu dimana kita memahami atas segala ketidakmudahan yang kita lalui, atas banyak kesedihan yang kita hadapi.
Meski kini Bapak tidak bisa benar-benar hadir, tidak bisa benar-benar memeluk kami. Tapi kami yakin, kalau di suatu tempat sangat-sangat memeluk kami. Dengan perasaan sayang yang sama. Dengan doa dan harapan yang sama.
Selepas kepergian, berbisik lirih pada lisan bahwa kita tidaklah pernah usai. Ada doa yang selalu menggema. Ada kasih Allah yang terus mendekap dan membersamai kami. Berharap, di tempat yang terbaik kelak kita dikumpulkan. Di sana, di surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Aamin
Yogyakarta, Januri 17 th 2021