Aku terlalu bingung sampai aku tidak bisa belajar apa-apa dari perjalanan ini.

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany
seen from Poland

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brunei
seen from United Kingdom
seen from Switzerland
seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Switzerland
seen from United States
seen from United States
@nurulkhaa2927
Aku terlalu bingung sampai aku tidak bisa belajar apa-apa dari perjalanan ini.
Nggak ada pilihan selain, bertahan.
Hai, hari ke 3 aku di tempat baru.
Hari ini aku tersadar kalau ternyata aku mati rasa. Rasanya harus segera diagendakan ke psikolog dalam waktu dekat.
Sejak Desember, hari-hari hectic itu aku sudah seperti orang kehilangan arah yang tidak mengenali dirinya sendiri. Semua begitu cepat sampai keputusan itu hadir, boyong. Anak-anak yang bergantung, madrasah yang bergantung, orang tua yang mendesak, dan Baba Ibu yang salah paham. Semua terlalu berdesakan sampai kepalaku bingung mencerna semuanya.
Tanggal 6-7 Januari kemarin aku di Magelang, aku sudah merasa ada yang aneh dengan diriku. Hatiku mati, bahagia pun tidak. Sewaktu aku sakit dan tengah malam harus dibawa ke IGD, rasanya juga nggak napak bumi. Padahal sesakit itu tubuhku, semua terasa melayang. Ditambah tanggal 25 Januari kemarin aku boyong, aku semakin yakin kalau ada yang salah. Hari tersedih itu bahkan aku tidak ingin menangis, tapi akhirnya aku menangis karna melihat sekitarku menangis, aslinya? Hatiku biasa saja.
Kosong.
Sampai sekarang rasanya kosong. Menangispun menangisi apa? Untuk apa?
Aku sudah kehilangan arah, aku sudah kehilangan diriku sendiri.
Aku lelah.
Lelah sekali.
Semua terasa kosong.
Yang kurasakan sekarang hanya hidup tapi tidak benar-benar, “hidup”.
Poor you, Nuna.
Aku nggak nyangka akan seburuk ini. Sekarang wakfunya “wakafa billahi syahida”
Api Kecil
Harapanku adalah nyala api yang menari di ujung lilin. Tidak besar. Tidak benderang. Cukup hangat untuk bertahan melintasi malam.
Aku melindunginya dengan kedua tanganku yang mungil. Jangan sampai sepoi angin usil menyapa dan memadamkannya. Meski nyalanya tak seberapa, tanpanya perjalanan ini terasa lebih gelap dan dingin.
Aku bersyukur malam ini api kecilku masih menyala. Masih sederhana. Masih menerangi langkah-langkah kecil yang kuambil. Dalam yakin dan raguku. Dalam tenang dan cemasku.
Hallo, hari ini aku mau sowan baba ibu izin boyong, Semoga diridhoi.
Aku kayak nggak butuh apa-apa selain ridho karna aku yakin entah berat atau enggak (semoga enggak), perjalananku setelah ini pasti akan menjadi perjalanan yang baru.
Nyeseknya, pagi tadi nggak biasanya selama di rumah aku tidur sehabis Fajrul berangkat sekolah, ya emang karna hujan deres dan angin sih.
Aku mimpi, aku dibawa ke kondisi PPFF sebelum ada santri Madrasah. Ada Amik dan Mbak Dini (kayaknya Miss Izky) yang jadi musyrifah. Aduhai magis sekali rasanya. Aku ketemu orang-orang lama, temen-temenku seperjuangan Babat Alas dulu. Pengen memeluk satu-satu orang di mimpi itu. Momentnya juga moment favoritkuu, semua pakai mukena setelah ngaos malam.
Semua rasanya kayak aku ini nggak ya sebelum boyong dari PPFF. Nano-nano.
Kalo boleh aku masih pengen 1 semester disana, tapi yaudah kalo nggak bisa gapapa. Aku udah pasrah banget.
Jujur hatiku sekarang deg deg an parah, takut mau matur sama Baba Ibu.
Ah takut banget. Semoga aku berani, harus berani.
Hai tumblr!
Menghitung hari aku kembali jadi orang boyolali 🥰
2011-2026
Berapa tahun aku hidup di tanah rantau
Apakah aku akan menetap atau merantau lagi?
Nggak tahu juga.
Tapiiiii… tolong ingatkan aku, bagaimanapun nasibku setelah ini aku nggak tau, jadi aku butuh untuk selalu dikembalikan pada hal-hal yang membumi…
“Nggak usah muluk-muluk jadi apa, yang penting memaksimalkan kinerja, apapun yang kamu lakukan, maksimalkan”
“Nggak usah muluk-muluk minta kehormatan, jadi tempat pulang orang tak berpunya atau orang-orang yang butuh pelukan adalah kehormatan tertinggi”
“Ingat selalu kalau Adab adalah bagaimana kita sebagai manusia bersikap sebaik-baiknya di hadapan Allah” baromaternya adalah Allah.
Kabeh ikut Allah.
Eling, kabeh iku Allah.
Ikhtiar karo tawakal kudu sejalan, khouf karo raja’ kudu sejalan.
Kabeh iku Allah.
Ojo wedi.
Kabeh iku Allah.
Kabeh iku Allah.
Selamat Hari Ayah, Pak!
Hadirmu yang baru-baru ini membuatku tersadar kalau aku memang kehilangan sosok figur seorang Ayah, dan aku juga tau kalo Bapak juga kehilangan diri sendiri.
Semoga tidak terlambat untuk aku membangun sebuah hubungan keluarga yang sehat, tidak hanya sesuatu yang bersifat formalitas, tapi benar-benar dari hati ke hati. Bertumbuh bersama, ah menua bersama.
Aku mulai mempelajari pola-pola psikologi anak-anak tanpa figur ayah yang baik, dan aku merasa aku ada disana. Aku mempelajari orang-orang sekitarku dan bagaimana peran ayah mereka, Pak. Hangat sekali, mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, baik dan tenang, luar biasa mampu mengendalikan diri dan emosi.
Awalnya aku seperti menyalahkan semuanya, menyalahkan Bapak, menyalahkan Ibuk (karna ku tau, tidak munculnya figur Ayah karna hubungan Ayah dan Ibu juga tidak selaras), aku menyalahkan Tuhan juga (kenapa aku begini, kenapa yang lain begitu). Intinya aku tidak terima sekali.
Sampai saat hari dimana aku termenung, seharusnya aku tidak perlu sebegitunya. Aku terdidik, aku tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, ini takdirku, aku anak perempuan pertama, aku harus memperbaiki semuanya.
Dan dari situ aku mulai menerima, aku mulai menata ruang kembali. Perlahan sekali, akupun masih sering goyah.
Ah susah sekali sebenarnya menjadi anak perempuan pertama: harus memperbaiki keluarganya, memastikan kehidupan keluarga baik-baik saja, dan memastikan ruang aman untuk adik-adiknya.
Hari ini Hari Ayah, dan aku menangis di sela hujan. Semoga aku semakin kuat. Rasanya aku semakin lelah melangkah dan semakin hilang arah….
Semoga ini bener-bener last semester di PPFF. Aku udah caaaapeeeekkk banget. Aku ditahan-tahan disini tapi jam ngajarku dibagi2 ke Tubagus dan Miss Roro. Agak kesel jg tapi ya gimana. Malah banyak nganggurnya.
Percuma kalau bahagia yang kita kejar cuma bikin kita hampa
Engga melibatkan Allah itu capek, capek banget. Sibuk sih padahal, tapi kayanya waktu tuh kurang terus. Dan capeknya tuh engga pernah bikin cukup.
Padahal seperti dikasih jalan apa yang kita kejar, tapi ya engga pernah bikin sampai juga. Seperti dikasih kemudahan-kemudahan, tapi kaya mandeg di situ-situ aja.
Kaya rutinitas sia-sia gitu aja.
Capeknya tuh, ya cuma dapet capeknya aja. Sibuknya, ya cuma dapet sibuk aja. Tapi kaya kehilangan makna gitu aja.
Arahnya tuh jadi kaya yang engga jelas.
Jadi kaya engga ada hal yang bisa dipasrahin atas usaha yang dilakuin. Padahal udah berusaha mati-matian, tapi tetep engga tenang sama hasilnya.
Gabisa memang kita pergi terlalu jauh. Satu-satunya yang bisa bikin kita tenang dan mencukupkan, yaitu kembali.
Kembali melibatkanNya dalam segala situasi.
Kita gabisa menjadi hebat sendirian. Engga akan pernah bisa.
Dan percuma kalau bahagia yang kita kejar itu ternyata cuma bikin kita hampa, dan engga pernah bisa bikin kita tenang.
—ibnufir
semuanya terlihat sedang berlari, sementara aku mendapati diriku berjalanpun, enggan. aku melihat diriku penuh dengan ketidakberdayaan. selamatkan diri ini, Allaah. aku tahu seharusnya aku bergerak, namun rasanya jiwa dan raga serasa enggan untuk sekadar bergerak. rasanya aku semakin jauh dari kehidupan orang-orang.
semuanya terlihat mengupayakan dan lari begitu kencangnya. sementara aku berjalanpun baru saja ku mulai langkah pertamaku, lalu otakku dipenuhi untuk menyudahi saja keputusanku untuk berjalan. aku semakin jauh dari jalan edar dengan yang lainnya.
Membelai Luka
Salah satu hal berharga dari luka adalah membelajarkanmu agar tak menjadikan telinga orang lain sebagai ruang dengarmu, tak menjadikan bahu orang lain sebagai sandaranmu, tak menjadikan pelukan orang lain sebagai tempat tenangmu. Sebab barangkali di depan sana banyak hal yang akan kamu hadapi sendirian atau bahkan orang lain enggan untuk membantumu.
Dari segala hal yang sempat membuatmu porak-poranda, begitu hancur, dan berantakan, semoga itu yang menjadi bekal hatimu kuat sekaligus lembut. Dunia memang menyeramkan. Banyak orang baik, tapi barangkali yang akan kau temui di jalanmu banyaknya adalah orang jahat.
Jadi belajarlah kuat, belajarlah hanya terus bersandar pada Tuhan. Hanya Ia yang takkan pernah meninggalkanmu bagaimanapun keadaanmu.
@terusberanjak
Hai tumblr, aku pulang 🏡
Kemarin ada yang datang lagi, menawarkan kehidupan bersama. Tapi, aku masih takut. Aku masih takut tidak disayang, masih takut tidak diprioritaskan, masih takut dikecewakan.
Apa selamanya begini?
Aku masih terlalu takut salah (lagi) memilih.
Aku masih terus berusaha cuek dan menghindar, kalau dia memang mengusahakan maka dia akan gigih. Kalau tidak, ya biarlah, toh rasaku juga belum ada.
2021 sudah terlewat terlampau lama. Tapi rasa takutnya sukar untuk hilang. Ada semacam rasa trauma yang membekas.
Ya Allah menjelang hari ulang tahunku yang ke 25, pertemukanlah dan satukanlah kami (jodohku). Doaku, dia yang baik, memiliki visi dan misi yang jelas untuk masa depan kami, laki-laki tangguh yang bermimpi besar dan selalu mengusahakan mimpinya.
Rasanya… sudah terlalu lelah sendiri, bingung arah, mau apa? Mau gimana? Kemana lagi?
My First Post
Aku perindu. Yang masih saja merindukan sesosok yusuf yang terlampau sempurna untuk seorang aku yang masih biasa saja.
Haiiii, ini 2025.
Aku masih sendiri, masih nderek Yai, tapi sudah selesai S2.
Tapi iya, aku akui aku manusia egois.
Aku manusia yang suka kenyamanan, aku akan meminimalisir ketidaknyamanan dalam hidupku.
Harusnya memang, jangan lakukan semua karna makhluk, tapi lakukan semua karna kholik.
Pelajaran banget itu sekarang.
Aku inget betul, tahun 2023 awal aku nunda sempro gara2 ngurus kuliah anak2.
Aku juga inget betul, aku telat satu semester karna fokus biar anak2 settle kuliah dulu.
Aku juga nggak bisa lupa, aku nggak ngurus-ngurus revisi dan wisuda karna mentingin akreditasi.
Rasanya sakittt banget.
Gitu masih dibilang EGOIS?
Terus kalo aku mau lebih egois itu semua nggak tak lakuin dong…
Aku sampe mikir, apa aku salah doa?
Karna aku udah dibilang egois, boleh nggak aku lebih egois?
KALO AKU EGOIS 14 ANAK YANG UDAH DI MESIR NGGAK TAK KASIH KELAS TAMBAHAN, NGGAK TAK CARIIN MATERI, NGGAK TAK BELA-BELAIN IKUT BELAJAR DULU BIAR KALO MEREKA TANYA AKU BISA.
Iya aku egois.
Semoga egoisku jadi ladang pahala, jadi ladang kemudahan untuk kehidupanku dan anak-anak KANDUNGku nanti.
Sakit banget ya Allah…
Hallo… aku pulang.
Aku lagi sedih banget.
Hari ini aku baru aja denger sebuah cerita yang mangejutkan, malam dimana aku habis munaqosyah setahun yang lalu, Ibu mengabarkan ke Yai kalau aku sudah munaqosyah dan Yai menjawab, “yo pie ra cepet wong egoise ngono”.
Harusnya aku nggak usah tau cerita ini aja ya kan?
Dari 2017 lalu aku pertama kali ketemu Yai, ketika aku berdoa selalu kuselipkan, Ya Allah jadikan aku bisa membanggakan Bapak Ibuk dan Yai. Itu. Kuselipkan dari 2017 sampai sekarang. Nyatanya apa yang aku lakukan sama sekali tidak membanggakan Yai bahkan malah menambah citra buruk-ku di hadapan Yai.
Kenapa aku ngebet lulus cepet?
Yai, di luar sana bahkan di dalam sinipun ada sebuah statement: Nek kamu neng PPFF nggak bakal iso rampung skripsimu.
Makannya anak2 semester akhir pada memilih untuk di luar dan ngekos.
Aku pengen membantah itu, aku pengen bilang kalo “aku lho nggak kemana-mana, tetep stay di PPFF bisa selesai tesisnya”.
Nyatanya di mata Yai enggak gitu. Baru sekali ini hatiku sesakit ini dan kulampiaskan dengan tulisan.
Aku semester terakhir disini. Aku kemarin sowan Mbah Dalhar di Magelang, bismillah aku mantep ini semester terakhirku disini. Aku udah nggak kuat lagi dengan framing nggak jelas itu.
Aku emang nggak pernah terbuka dengan keluargaku di ndalem, dengan masalah-masalahku, kenapa? Karna aku tau sesuatu yg terdengar ndalem berpotensi besar jadi hidangan umum. Sekalipun hanya di lingkup internal tapi tetep dibicarakan, dan aku nggak suka.
Aku nggak suka kalau orang2 harus tau aku mau lulus cepet karna harus gantian kuliahnya, ibukku sering sakit, aku mau cepet pulang soalnya terlalu banyak lansia di rumahku dan aku harus denger ibukku sambat setiap hari. Aku emang nggak mau cerita. Cukup mereka tau aku nuna yang nggak ada masalah.
Tapi nyatanya itu bumerang.
Ya Allah kami semua makhluk, ya latif kepada aku, makhluk Njenengan yang sungguh sangat lemah ini tolong dibantu, kasihani aku ya Allah…
I can’t stand anymore, aku nggak cocok disini.