Dia sepertinya tidak pernah tau seberapa besar aku mencemaskan dia. Dan bodohnya, aku tetap melakukan hal ini meski tau dia tidak pernah membukakan jalan lebih jauh untuk aku masuki.
Aku tau dia masih berduka. Aku sadar bahwa dia tak baik-baik saja. Kehilangan seorang ayah bukan hal yang mudah untuk dilalui.
Aku bukan orang yang bisa dengan baik menunjukkan rasa simpati aku pada orang lain. Apalagi jika kami berjauhan. Jauh lebih mudah jika aku bisa hadir di sampingnya dan menemani dia. Dia bahkan tidak perlu bercerita apa-apa.
Tapi saat berjauhan seperti ini, aku bingung untuk menunjukkan pada dia bahwa dia tidak sendiri. Aku mencoba menghubungi dia, tapi dia seolah menutup diri rapat-rapat. Aku juga tidak bisa begitu saja menelepon dia, karena aku takut akan membuat dia tidak nyaman.
Setiap orang punya caranya sendiri untuk menghadapi duka. Begitu pula dia. Sayangnya, aku tak pernah tau seperti apa.
Apakah saat berduka, dia lebih suka bercerita?
Atau dia lebih suka menyendiri untuk beberapa saat?
Kalau dia ingin menyendiri, berapa lama waktu yang dia butuhkan?
Apakah waktu 3 hari cukup? Atau paling tidak seminggu?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus mengganggu pikiranku. Sayangnya aku belum punya kesempatan untuk mengenal hal itu.
Aku hanya ingin dia tahu, aku ada. Dia bisa mengandalkan aku selagi aku mampu. Sila gunakan waktu berapa pun yang kamu mau. Setelah itu, kembalilah menjadi dirimu.