TRAVEL WRITER
Bagian 6 buku Travel Writer karya Gol A Gong Kompas : Apa yang Boleh dan Tidak ditulis "Seorang pelancong tanpa pengamatan adalah burung tanpa sayap." -Molish Edin-
Tahun lalu di tanggal segini, pergi berkunjung Soppeng(sendirian). Perjalanan dengan hujan deras sepanjang jalan. Dikarenakan tidak balik ke kampung halaman jadi cuman di Makassar saja, dapat panggilan untuk melancong kesana terlebih lagi waktu itu sudah selesai dari beberapa tanggung jawab besar.
Sebenarnya sudah beberapa kali perjalanan jauh sendirian tapi perjalanan waktu itu yang paling nano². Takut tersasar walaupun sudah pakai Google Maps apalagi dibagian gunung, berkali² singgah hanya untuk memastikan sesuai dengan jalur yang ditunjukkan Maps. Buat khawatir si empunya rumah karena sudah larut tapi belum sampai ke tujuan. Hujan deras, guntur, kilat dari sore sampai malam. Salah satu bagian asyiknya adalah mata dimanjakan sama view perjalanan yang baru pertama dilewati, bagi tim pemburu potret alam serasa mendapat jackpot.
Tapi dari semua perjalanan sendirian, itu yang paling berkesan. Kepastian perginya baru di pagi hari-H, perjalanan anti repot sebab manusia ini anti ribet. Tujuan tersembunyi keberangkatannya pun banyak sekali. Yaa walaupun salah satu tujuan utamanya tidak tercapai tapi setidaknya lebih banyak yang didapatkan. Punya lebih banyak waktu dan ruang baru untuk berpikir apa yang sudah dan akan dilakukan.
Terus apa hubungannya cerita panjang lebar ini sama bagian 6 dari buku Travel Writer?
Di bab itu Gol A Gong bilang kalau "...bukan detail perjalanan itu yang saya tulis untuk dikirim ke media massa. Itu cukup saya tulis di buku harian saja, yang nanti akan menjadi bahan mentah tulisan."
Jadi, perjalanan setahun lalu itu menjadi bahan tulisan yang kemudian akan mengingatkan kembali kenapa melakukan perjalanan, bagaimana perjalanannya dan apa yang didapatkan setelahnya.











