Pa, belajar darimu memanglah takkan pernah cukup, begitu pun dengan Mama. Namun, tahukah Pa? Banyak yang juga kulupakan. Hanya beberapa memori kecil tersisa. Tak lagi sempurna. Ya, tak lagi sempurna ingatan kita sebagai manusia. Dan kubiarkan ia menguap seiring naiknya suhu udara di sekitarku. Aku tak tahu mengapa sebegitu bangganya dirimu mengenalkanku di antara orang-orang yang bahkan tak tahu apa buah kesukaanku, rekan-rekan kerjamu yang justru tak pernah tahu betapa sebegitu sulitnya memahami pengetahuan dari beberapa buku cetak sekolah. Sungguhlah, aneh. Kesal dan marah bahkan memuncak ketika kini aku belum dapat melanjutkan pendidikanku. Untuk apa kau membanggakan anak sulungmu kalau saat ini saja aku belum menjadi apa pun seperti yang kau harapkan. Oh, sungguhlah kini aku berusaha memahami betapa sebagian dariku adalah inginmu. Sama seperti beberapa hal yang kuharapkan terpatri perlahan di depan dada anakku. Iya, ambisi atau entah menjadi obsesi. Aku belajar memahaminya. Betapa kita sebagai orang tua takkan pernah bisa sepenuhnya melepaskan berbagai harap atau luka yang dulu kita punya. Berbagai larangan, tamparan, serta kerasnya orang tua kepada kita. Oh, mungkin lebih tepatnya adalah, betapa kerasnya dirimu kepadaku. Aku tak lagi ingin mendendam, Pa. Betapa banyak lukamu juga karenaku dan betapa aku tetaplah yang bertanggung jawab atas seluruh proses belajar di hidupku. Dan kini aku pun belajar, aku pun anakmu, aku pun orang tua dari Kirana. Tak banyak yang ‘kan kupaksakan untuk dilepas. Baik lukaku, lukamu, atau luka Kirana karenaku. Kita belajar, Pa. Iya, hidup ini memang sekolah terbaik sekaligus paling menantang untuk kita. Biar maafku terbang lewat doaku untukmu, dan sungguhlah tak perlu lagi kubayangkan sedihmu karena meminta maaf. Kau mengajariku, aku belajar darimu. Kita belajar bersama di waktu berbeda, sekarang. #30HBC2216 #30HBC #30haribererita @30haribercerita #MbukaLembaranBaru https://www.instagram.com/ninadiets/p/CY9ZCUzPLeh/?utm_medium=tumblr















