Polisi yang Miskin
Itu bapak Budi. Dia seorang polisi yang baik. Namanya Moko. Aku tahu dia baik karena dia miskin. Aku dengar polisi baik adalah polisi yang miskin, dan sebaliknya.
Kemarin aku bertemu dengannya, ketika aku sedang bermain petak umpet. Temanku berjaga dan sembari dia berhitung, aku melesat sekencang mungkin, dan barangkali sejauh mungkin. Aku sampai di sebuah kompleks perkantoran. Aku tak tahu pasti ini kantor apa. Aku bersembunyi di sebuah bangunan di pekarangan. Dari jauh, bangunan ini paling mencolok. Dibanding bangunan lain, bangunan inilah yang paling jelek. Sedangkan kejelekan di antara keindahan-keindahan pastilah sangat mencolok. Atau tidak?
Aku sedang bersembunyi dan kepanasan ketika kudengar tiga kali suara letusan. Barangkali senjata api. Aku kerap menonton film laga dan karakter di dalamnya melancarkan tembakan-tembakan untuk bertahan diri. Suaranya persis seperti yang barusan kudengar.
Seperti kau kecil, aku penasaran. Berlarilah aku menuju sumber suara itu. Melalui jendela, kulihat seorang laki-laki 50-an sedang melotot dan di bawahnya, seorang laki-laki tiga puluhan tergeletak. Batok kepala, dada, dan bahu laki-laki kedua berlubang. Dari lubang itu mengucur darah segar seperti jus jeruk. Maksudku, jus paling segar di dunia adalah jus jeruk.
Di samping dua laki-laki itu, berdiri seorang perempuan, kutebak usianya pertengahan tiga puluh. Di dada kirinya ada sebuah kotak kecil bertuliskan Ani Kusumanini Putri. Dia sedang menangis. Aku tidak melihat lubang di tubuhnya tetapi dia menangis. Kenapa dia menangis?
Isi kepalaku berputar-putar mencari jawaban apa yang membuat Ani menangis. Sebelum kutemukan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasaranku, sebuah mobil polisi datang. Aku tahu itu mobil polisi sebab mobil itu mengeluarkan bunyi khas sirine polisi. Sirine polisi mudah dikenal karena bunyi sirine itu jauh berbeda dengan sirine-sirine lain. Ketika mendengarnya, kau bisa merasakan sesuatu yang ganjil. Seperti sedang diintimidasi. Sedang dikejar-kejar sesuatu tanpa alasan. Atau sedang terancam.
Dari mobil itu, empat orang polisi berseragam keluar. Tiga orang lari menghampiri Ani dan dua laki-laki. Seorang lagi menghampiriku, kemudian bertanya:
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang bersembunyi," jawabku.
"Apa maksudmu bersembunyi? Apa yang kau maksud dengan bersembunyi di sini?" tanyanya. Kenapa polisi selalu ingin tahu maksud segala hal? Sepertinya polisi senang belajar ilmu filsafat.
"Kau senang belajar ilmu filsafat?" tanyaku.
"Apa maksudmu?" Lagi-lagi dia menanyakan maksudku.
"Tidak penting maksud apa yang mendasariku. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan pertamamu," aku mengusap kepalaku yang berkeringat, "Aku sedang bermain petak umpet. Itulah mengapa aku bersembunyi. Kalau maksud pertanyaanmu adalah mengapa aku bersembunyi di sini, aku tak tahu. Aku cuma berlari sejauh mungkin mencari tempat sembunyi dan di tempat inilah aku memutuskan bersembunyi."
"Kau pulang saja, Bud. Aku akan mengurus sisanya," katanya. Sepertinya ia lupa pertanyaannya sendiri.
"Baiklah. Ayah uruslah sisanya."
Sebelum pulang, aku mengintip bagaimana ayahku mengurus sisanya. Sebetulnya aku tak tahu betul apa yang dia maksud dengan mengurus sisanya. Aku hanya melihat laki-laki 50-an mengajak ayahku bersalaman kemudian memeluknya. Ayahku menerima pelukannya. Kemudian ayahku mengajak Ani bersalaman dan mengajaknya berpelukan, tapi Ani menolaknya.
Besoknya, Budi berangkat sekolah dengan uang saku yang banyak. Maksudku, aku berangkat sekolah dengan uang saku yang banyak. Ini uang saku paling banyak yang pernah kubawa. Sebelumnya, aku mesti berhemat atau kalau tidak, ayahku akan menghukum Ibu, aku, dan tiga adikku karena tak becus menghemat uang, katanya. Nyaris setiap hari, aku mesti memilih antara menabung untuk membayar buku pelajaran atau menghabiskan uang saku untuk mengisi perutku. Sekarang, aku bisa mengisi perutku sebanyak mungkin tanpa perlu berpikir dan berpikir dan terjebak di buku pelajaran keparat. Aku tak tahu pasti, tapi sepertinya ayahku tidak lagi menjadi polisi yang miskin.
#30haribercerita #30hbcmengarang #30hbc2328














