It's my 7 year anniversary on Tumblr 🥳

Kaledo Art

Andulka

⁂

Origami Around

@theartofmadeline
One Nice Bug Per Day
No title available
Lint Roller? I Barely Know Her
d e v o n
Game of Thrones Daily
Peter Solarz

blake kathryn
TVSTRANGERTHINGS
NASA
Sade Olutola

JBB: An Artblog!
todays bird
hello vonnie
Mike Driver
No title available

seen from Australia
seen from United States

seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Panama

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Hungary

seen from Canada
seen from Panama
seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from New Zealand
seen from France
seen from New Zealand
@newcomers6
It's my 7 year anniversary on Tumblr 🥳
mengucapkan selamat tidur. Itu bukan perintah karena tidak ada tanda eksklamasi di ujungnya. Bukan pula tawaran karena tak ditutup dengan tanda tanya. Itu adalah sebuah pernyataan dengan akhiran tanda titik. Tidur bersamaku. Halo! Meskipun #30haribercerita telah usai namun rasanya ada yang ganjil apabila unggahan tidak digenapkan hingga tanggal 31. Pada kesempatan terakhir ini, saya akan gunakan untuk refleksi, kontemplasi dan evaluasi serta rekapitulasi untuk menarik konklusi. Setelah ini saya akan menutup mata dari ingar bingar Instagram. Saya tidak akan aktif lagi. Tidak akan membuka aplikasi sesering ini di bulan Januari. Izinkan saya untuk “tidur” dan “bermimpi” di dunia nyata. Hingga di tahun depan saya terbangun dan siap untuk membagi mimpi-mimpi dunia nyata yang telah saya alami itu. Lantas menceritakannya pada pembaca sekalian. Mungkin sekali-dua saya akan mengigau dalam bentuk unggahan story. Namanya saja igauan jadi Anda bisa abaikan. Namun bila merasa terhibur bisalah ketuk tanda Suka. Mungkin juga saya akan nglilir sebentar jika ada peristiwa penting yang layak diunggah. Tidak selalu harus berbentuk cerita. Ucapan mohon maaf lahir batin, misalnya. Jikalau saya mengigau terlalu sering dan mengganggu Anda, silahkan sumpal saja dengan fitur Bisukan dan tidak akan lagi saya muncul di beranda. Akan tetapi jangan diblokir ya. Saya juga ingin tahu bagaimana keseharian rekan-rekan di luar #30haribercerita meski hanya mengintip secara diam-diam. Nanti jika sudah waktunya, mari kita saling berbagi cerita lagi. Jujur saja, membaca cerita rekan-rekan partisipan #30hbc23 sekalian sangat menginspirasi dan terkadang membuat saya iri—dalam arti positif. Saya jadi lebih termotivasi untuk menulis something yang lebih berdaging. Bukannya curhat colongan dengan memasang foto lawas orang-orang atau menyindir someone. Maaf ya kalau ada foto Anda yang terunggah tanpa izin. Hoamh. Sudah ya. Sudah lima watt ini—pura-puranya. Terima kasih sudah membaca tulisan-tulisan saya. Terima kasih pula untuk hati dan komentarnya, itu sangat berarti bagi saya. Tandanya tulisan saya berkesan bagi pembaca. Sampai jumpa di tahun depan! InsyaAllah. InsyaAllah. InsyaAllah. #30hbc2331 https://www.instagram.com/p/CoEm21iprDm/?igshid=NGJjMDIxMWI=
ingin “Memulai Kembali.” Matahari sudah di penghujung petang. Ku lepas hari dan sebuah kisah tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku. Sejak saat itu langit senja tak lagi sama. Hayoooooo, siapa yang membaca sambil bernyanyi? Hahahaha. Kemarin, begitu administrator @30haribercerita mengunggah tema untuk hari ini, saya langsung teringat lagunya mbak Monita Tahalea yang populer itu. Sajak yang mengajak untuk beranjak dari jejak-jejak masa lalu yang pilu. Nyanyian agar kalian segera melakukan gencatan pertikaian tak terabaikan yang menuntut penyelesaian. Lantunan nadanya nyaman dan begitu sopan penuh dengan unggah-ungguh masuk ke telinga. Lagu itu juga memberikan harapan pada pendengar bila nanti ke depan pasti akan ada kabar baik yang menongol ketika kita memulai dari nol kembali daripada berjibaku dengan yang dulu-dulu. Lantas apa yang mau dimulai kembali oleh si Arif, Ardias, Ardi, Dias, atau Mono ini? Sejujurnya banyak. Banyak aja sih nggak banyak banget. Kalau banyak banget noh bintang di langit kerlip engkau di sana. Xixixixixi. Jadi, ada tagihan-tagihan masa lalu yang menuntut untuk dirampungkan. Kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin ditanamkan pada diri namun terlanjur terjegal oleh rasa malas dan hasutan tak kasat mata dari arah yang tidak disangka-sangka. Motivasi yang terbangun di awal waktu meluruh sirna oleh bisikan-bisikan untuk tetap berada di zona nyaman. Akhirnya, yang awalnya menunda-nunda berujung pada alpa dan lupa. Kesimpulannya? Saya ingin mengumpulkan kembali dorongan dan tekad untuk melakukan kebiasaan baik. Jika sudah cukup terkumpul, saya ingin memulai kembali langkah awal yang dikata orang berat itu. Apabila sudah mulai jalan meski begitu pelannya, saya ingin mulai istiqomah alias ajeg menjadikannya rutinitas. Itu dia. Istiqomah. Kunci sukses menghadapi demotivasi. Mantra ampuh untuk mengusir kemalasan. Dan, musuh bebuyutan bagi sifat menunda-nunda. Bismillah. Mari kita bersama-sama untuk mulai istiqomah atas apapun yang akan kita lakukan. Mari lanjut beryanyi. Aku mencari Aku berjalan Aku menunggu Aku melangkah pergi Kau pun tak lagi … Dan ku kan memulai kembali #30hbc2330 #30hbc23mulai #30haribercerita #memulaikembali #istiqomah https://www.instagram.com/p/CoBorFepJHt/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. “Ardi dan Dias,” panggil seorang gadis pada dua pemuda yang duduk di depannya dan melanjutkan, “selamat kalian resmi menjadi seksi dana dan usaha di acara kami.” “YES!” teriak salah satunya. “NO!” timpal yang lain hampir bersamaan. “Kak Arifa, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Aku kurang yakin jadi danus,” protes si NO! kemudian, “aku tuh nggak bisa jualan,” lanjutnya. Arifa meyakinkan, “Ardi, kan kamu nggak ndanus sendirian. Ada aku sama Dias juga. Lagipula dana usaha nggak cuma jualan aja. Kita bisa cari uang lewat kerjasama sponsorship.” “Apalagi itu kak. Cari sponsor kan harus pinter negosiasi sama branding juga,” agaknya Ardi memang tidak berminat menjadi panitia dana usaha. “Pesimis amat sih lu! Dilakuin juga belon udah ngeluh aja,” ledek pemuda di sebelahnya, “terus kapan bisa mulai jalan kak? Targetnya berapa?” tanyanya berpaling ke Arifa, si koordinator. Arifa membenarkan kacamata yang dikenakannya kemudian menjawab, “Kalau itu nunggu first gath nanti ya buat dibahas. Tapi denger-denger sih sampai dua digit. Mana cuma dikasih tiga bulan lagi.” Mendengar itu muka Ardi langsung tambah pucat. Sebaliknya entah kenapa Dias malah semakin bersemangat. “Kalian ada ide perusahaan mana yang mau dijadiin sponsor?” lanjut Arifa menatap Ardi. Yang ditatap langsung mengalihkan pandang ke teman di sebelahnya. Diikuti si gadis. Dias yang sepertinya ditunggu jawabannya menanggapi, “Tergantung jenis acara sama pesertanya sih Kak. Mungkin yang nggak jauh-jauh dari kebutuhan mahasiswa. Tapi kalau boleh saran sih mending kita bisa mulai jualan tipis-tipis kayak cemilan ringan gitu mengingat waktunya yang menurutku sih lumayan mepet.” “Boleh juga idemu. Ardi gimana?” “Aku ngikut aja sih kak,” jawab pemuda itu lesu. “Yah elu mah ngikat-ngikut mulu. Ntar lu beli snack kiloan noh terus bantuin mbungkusin. Hahaha,” tawa Dias pecah. Temannya itu cuma bisa menyikut untuk membungkamnya. “Kalo lo malu jualan, tinggal aja di sekre. Ntar juga abis tapi semoga ada duitnya nggak cuma abis snacknya doang. Hihihi.” “Iye-iye. Bawel amat sih!” “Ya udah, sampe ketemu di first gathering ya,” ucap Arifa mengakhiri pertemuan. #30hbc2329 #30hbc23 @30haribercerita #danus https://www.instagram.com/p/Cn_EXZxPf24/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Itu bapak Budi. Dia seorang … kapitan yang mempunyai pedang panjang. Kalau berjalan bunyinya prok prok prok seperti saat Pak Tarno akan mempertunjukkan kebolehan sulapnya. Terbilang 3 tahun lagi pria paruh baya itu memasuki masa pensiun. Pedang panjangnya tidak akan bersinar mengkilat lagi dan sepatu prok-proknya akan mengusang di rak gudang. Agak sedih bapak Budi memikirkan tidak akan lagi terlihat segagah saat memimpin pasukan upacara dan mau tak mau harus menerima keadaan menjadi manusia lanjut usia yang kian hari kian menua. Dia akan kehilangan kehebatannya, kuasanya. Tidak ingin mengalami sindrom pascapensiun, bapak Budi memutar otak untuk mencari kesibukan nanti agar tidak merepotkan kedua anaknya—Ani dan Budi. AHA! Sebersit ide cemerlang muncul dalam kepala cepaknya. Kenapa tidak mencoba belajar silap mata seperti pak Tarno? Begitu kira-kira. Tanpa basa-basi si bapak menghubungi anak sulungnya, Ani. Beliau bercerita panjang lebar kepada wanita yang terpaut usia tiga puluh tahun dengannya itu. Bapak Budi ingin mulai belajar ilmu tipuan mata dengan membeli buku-buku trik sulap, menonton tutorial sulap di Youtube dan yang paling penting pria itu ingin mengikuti akademi sulap Pak Tarno yang diselenggarakan secara luring di kediaman pesulap kenamaan itu. Tadinya ia hendak meminta persetujuan dan izin anak-anaknya … tapi Ani menolaknya. Besoknya, Budi … … si bungsu diminta oleh kakaknya untuk mengawasi bapak tersayang mereka kalau-kalau pria itu nekat dan menyusahkan siapa pun. Budi menyanggupi. Lagipula tidaklah sulit menunggui seorang pria tua, pikirnya. Ia bisa sambi dengan belajar mengingat tidak lama lagi dirinya dan teman-teman SMA akan menghadapi ujian nasional. Dia harus lulus dan mendapatkan nilai yang bagus supaya bisa masuk ke kampus impiannya dan mengejar cita-citanya. Jika nilainya jeblok sang bapak akan mengirimkannya ke pendidikan keprajuritan untuk menjadi tentara sepertinya. Namun, ucapan hanyalah ucapan. Sore itu saat Ani pulang ke rumah sehabis bekerja, wanita itu tidak menemui bapaknya dimana pun sedang Budi sendiri kedapatan terlelap di kamarnya … terjebak di buku pelajaran. #30hbc2328 #30hbc23mengarang #30hbc23 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/Cn8itc-PAsN/?igshid=NGJjMDIxMWI=
pernah menjadi asisten bidang. Masa kuliah selain diisi dengan kegiatan menunaikan kewajiban yang bersifat akademik juga dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai ajang untuk mempertajam potensi diri maupun mengenali dunia kerja. Maka dari itu sering kita mendengar wejangan dari mereka yang lebih senior seperti: “Ikut organisasi!”, “Akademik-non akademik harus seimbang!”, “Jangan jadi kupu-kupu!”, dsb. Well, mereka tidak salah. Kegiatan non-akademik sangat berpengaruh terhadap kesiapan kita menghadapi dunia profesional. Itu karena kegiatan tersebut—khususnya berorganisasi, terbukti—dari pengalaman, dapat mengasah softskill yang tidak mesti ditemui di dalam kelas. Dan itulah yang saya rasakan ketika saat ini berada di dunia kerja. Saya bersyukur pernah setidaknya terlibat dalam suatu organisasi sewaktu kuliah. Dari situ banyak keterampilan non-teknis yang saya dapatkan seperti: komunikasi, gaya kepemimpinan dan yang paling utama adalah budaya kerja. Waktu itu saya berkesempatan menjadi asisten bidang (asbid) dalam suatu UKM kampus. Para asbid diberikan keleluasaan untuk melihat bagaimana para pengurus UKM melakukan tugasnya dan belajar dari mereka. Kegiatan asbid ini juga dijadikan UKM tsb untuk mencari bibit-bibit talenta baru sebagai regenerasi SDM. Kasarannya kami disuruh pura-puranya jadi pengurus. Maka dari itu ada jam kerjanya walaupun tidak terlalu ketat. Kami hanya perlu memenuhi minimal jam kerja dalam sebulan, jika kurang atau tidak masuk tiga hari berturut-turut akan mendapatkan teguran. Itu mengajarkan asbid kedisiplinan. Kami juga langsung mendapatkan pembagian tugas setiap bulan beserta jadwal penyelesaiannya. Itu mengajarkan asbid untuk bertanggungjawab terhadap pekerjaan. Dan masih banyak softskill lainnya. Satu hasil kerja yang masih terdokumentasikan adalah saya pernah diminta untuk membuat denah UKM tersebut dan dipasang di titik-titik strategis agar pengunjung tidak tersesat. Kini setelah bekerja di tempat sekarang, saya tidak begitu kaget. Berkat asbid sedikit banyak saya tahu bagaimana suatu organisasi berjalan untuk mencapai visi misinya: perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, pelaporan, evaluasi. Repeat. #30hbc2327 #30hbc23 https://www.instagram.com/p/Cn57YzpJOUA/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. “Yang patah tumbuh, yang hilang pasti dicuri orang.” Begitulah pepatah penjual tanaman hias pinggir jalan. Batang yang dipotong akan muncul pucuk baru kehidupan seperti Schefflera actinophylla yang mulai menyemikan daun mudanya dalam foto di atas. Kalau yang hilang? Ya pasti diambil maling dan ia tahu kalau tanaman itu berharga. Bisnis flora dekorasi terbilang cukup unik. Hanya sesama penikmat tetumbuhan saja yang tahu sisi estetis dari tanaman hias. Bagi orang awam seperti kita mungkin akan acuh melihat Monstera adansonii dan mengira jika tanaman itu terkena hama karena banyak lubang di daunnya. Padahal di pasaran harganya bisa menyentuh jutaan rupiah. Lagipula pencuri juga lebih tertarik untuk menggasak komputer jinjing atau mencopet ponsel cerdas daripada harus menggotong pot berisi Agalonema commutatum, tidak praktis dan ribet. Oleh karenanya sering kita jumpai kios penjual tanaman hias yang tidak terlalu memperhatikan sisi keamanan. Tidak ada pagar, tidak ada gembok, yang dikunci mungkin hanya pondok kecil untuk menyimpan peralatan. Tanaman, pupuk, media tanam dibiarkan begitu saja tanpa perlindungan apa pun. Agaknya penjual tanaman hias adalah pedagang yang paling tidak khawatir dengan barang dagangannya. Berkecimpung di dunia pertanaman memang tidak sembarang orang bisa. Perlu skill mumpuni dan ilmu khusus. Ambil contoh Bapak dan saya. Pernah kapan itu gara-gara mabuk menonton video Noringo dan Liziqi saya pun tertarik mengoleksi biji Adenium obesum. Kebetulan punya tanaman tersebut dan telah mengering tanduknya serta merekahkan biji-biji berbulu halusnya. Lantas saya ikuti prosedur menanamnya di internet dan youtube. Awalnya senang melihat tunas-tunas kehijauan muncul akan tetapi kesenangan itu hanya bertahan lima bulan. Selebihnya tanaman kecil itu mengering dan mati karena semut menjadikan media tanamnya sebagai sarang. Bandingkan dengan bapak saya yang hanya menancapkan potongan batang Schefflera actinophylla tanpa ada niat menanamnya malah bisa bersemi seperti gambar di atas dan tumbuh rindang sampai sekarang. Memang menanam tanaman itu cocok-cocokan dan harus telaten merawatnya. Kini saya lebih memilih menanam saham saja. #30hbc2326 #30hbc23 https://www.instagram.com/p/Cn3WgHZJHuT/?igshid=NGJjMDIxMWI=
merasa, “br tw gw.” Salah satu keseruan mengikuti event #30haribercerita adalah selain bisa berbagi kisah di media ini kita juga bisa membaca tulisan dari partisipan lain yang tentunya tidak kalah menarik dari milik sendiri atau bahkan lebih wow. Apalagi yang sampai dipos ulang oleh admin terlebih yang dua kali. #Barutau saya temui satu-dua. Terbilang relatif banyak pengikut serta event bercerita di awal tahun ini. Di hari pertama saja hampir tembus sepuluh ribu tagar #30hbc2301. #Barutau saya ada kenalan yang juga mengikuti event ini. Beberapa tahu karena saya mengikuti mereka, ada juga yang tidak sengaja saya temukan saat iseng menjelajah akun @30haribercerita. Kebetulan yang bersangkutan meninggalkan komentar di salah satu unggahan admin. Saya buka akun itu dan #barutau ternyata dia telah berpartisipasi sejak beberapa tahun lalu. Saya gulir halaman pengguna itu ke tahun-tahun lawas dan membaca tulisannya sembari berhati-hati agar tidak terpencet suka. Asyik saja membaca cerita dari orang yang dikenal seolah ada sisi lain yang tidak ditunjukannya saat saling bertegur sapa. Sudah barang tentu yang bersangkutan juga ikut #30haribercerita tahun ini. Saya pun diam-diam mengapresiasi tanpa mengikuti. Dia tergolong cukup aktif dan termasuk klub anti-rapel. Saya baca setiap hari sampai dapat seminggu, sepuluh tahun, jarak, screenshot hingga dear. Namun, tiba-tiba di hari #30hbc2322 saat saya hendak setor bacaan di akun miliknya, saya hanya menemui halaman putih seperti gambar di atas dengan ikon kamera dan keterangan “belum ada pos.” Saya langsung bertanya-tanya ada apakah gerangan tiba-tiba orang ini menghapus seluruh tulisannya? Dan mengganti foto profil menjadi latar hitam. Saya buka di komputer juga tertulis, “Halaman tidak ditemukan.” #Barutau setelah saya dalami di Google kemungkinan saya diblokir. Hah! Saya terkejut. Apa salah saya sampai diblokir? Darimana yang bersangkutan tahu saya mendatangi halaman profilnya? Padahal tidak sekalipun terketuk Ikuti atau Suka. Untuk membuktikannya saya coba buka melalui akun lain dan walla. Sampai hari ini manusia itu masih rajin bercerita. Tadinya #barutau jadi #cukuptau lah ya. #30hbc2325 #30hbc23barutau #ckptw😒 https://www.instagram.com/p/Cn1GszCpxli/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Jangan ajari aku sabar! Datang pagi, giliran ke-214, masih 173 antrean di depanku. Ceritanya menjelang lebaran tujuh tahun yang lalu, seperti biasa orang-orang akan “berburu” uang baru sebagai isian salam tempel termasuk aku. Maksud hati ingin menjajal layanan publik bebas biaya apa daya banyak orang yang demen gratisan semacam diriku. Lebih banyak dari dugaan malah. Padahal bila ditukar di jasa penukaran juga tidak seberapa. Baru sadar rupanya manusia-manusia yang memenuhi tempat itu tidak lain ya para penyedia jasa penukaran yang suka pamer uang baru di pinggir jalan mendekati hari raya itu. Bayangkan jam segitu saja aku sudah memperoleh antrean ratusan, lantas pukul berapa mereka datang? Setelah menerima tiket dari satpam bank yang ramah, aku mencari tempat duduk. Angka 71 terpampang nyata di layar monitor depan saat pantatku berhasil mendarat di kursi logam khas ruang tunggu. Antrean berjalan lambat bagai siput, butuh waktu sekitar lima menit untuk menaikkan angka di layer itu. Satu jam kemudian, antrean 119, aku menghela napas mulai merutuki alasan bodohku datang ke tempat ini. Dua jam kemudian, antrean 167, aku menyesal kenapa tidak membawa buku dari rumah untuk membunuh waktu. Tiga jam kemudian, Patrick sudah kehabisan papan waktu dan kini nomor sudah memasuki 200, baterai ponselku mulai menipis. Hampa, kesal dan amarah seluruhnya ada di benakku. Akhirnya, aku keluar dari bangunan itu setelah mendapatkan uang baru yang kuinginkan tepat saat jam makan siang. Gila! Tiga jam lebih aku membuang waktu di ruangan itu hanya untuk tiga gepok Pangeran Antasari dan Tuanku Imam Bonjol. Apa kabar orang-orang yang mendulang rejeki dari bisnis uang baru ini? Mereka menyengaja menghabiskan hari mereka di tempat itu. Kabarnya setiap orang dibatasi hanya boleh menukar satu gepok setiap pecahan uang. Itu artinya mereka harus datang setiap hari bila ingin mengestok uang baru. Aku yang satu kali ini saja ngedumelnya sampai lebaran. Sepertinya aku harus belajar sabar, bukan dari kamu tapi dari para penukar uang itu. Wahai para agen penukar uang pinggir jalan, saya respek pada Anda sekalian, meski ada yang bilang kalau pekerjaan kalian itu ribawi. #30hbc2324 #30hbc23 https://www.instagram.com/p/CnyhfqAJvPe/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Hari ini saat sedang mengantre miksu, aku berpapasan dengan kawan lama. Awalnya butuh beberapa menit bagiku untuk mengenalinya yang sedang asyik mencoleki sundae dengan sendok merah khas kedai ini. Aku langsung melambaikan tangan saat kami beradu pandang. Kudapati raut masamnya lantas dibalasnya dengan acungan jari tengah. Dialah Bunyamin, rekan sepermainanku kuliah dahulu. Kami dipertemukan dalam UKM Uno yang mana adalah cabang UKM Bridge. Sejujurnya, kami berdualah yang mencetuskannya sebagai bentuk variasi permainan kartu. Awalnya hanya beberapa anak yang tertarik karena bosan dengan kartu remi. Lambat laun pengikut serta semakin bertambah, dari bertiga jadi kesebelasan, bahkan sampai ada anak baru yang mendaftar Bridge hanya karena ingin ikut main Uno. Kocak memang. Kami pun sampai mendobel set kartu bila banyak pemain turun laga. Begitu seru setiap kali permainan berjalan apalagi bila ditambah aturan yang aneh-aneh seperti tidak boleh menyebut warna atau menyebut angka ambil sebanyak yang disebut dan aturan nyeleneh lainnya. Dari sekian permainan yang paling mengasyikan adalah ketika keluar sebagai pemenang. Karena siapa pun ia, akan diberikan privilese untuk menentukan hukuman bagi sisa pemain yang kalah. Pernah aku menyuruh mereka menyambangi tiap ruangan UKM dan bilang kalau mereka kalah main Uno, tentunya dengan muka cemong bedak. Bunyamin pun pernah sampai membuat aku dan pemain lain menghitung runjung pinus di halaman belakang ruang UKM dan membuat kerajinan darinya. Namun sejak permainan terakhir kami berdua, pemuda cakap itu mulai menghindariku. Aku ingat betapa merah mukanya saat dia gagal melayangkan enam kali +2 karena empat kali +4 milikku. Aku menghukumnya untuk menembak gebetannya. Kami cek-cok meski tidak besar. Aku menuntaskan pemesanan es krim kerucutku dan menuju meja tempat dimana Bunyamin duduk. Lelaki itu sudah hilang tetapi ada secarik kertas yang ditinggalkannya di sana seolah dengan sengaja. Ku dekati dan ku temui terdapat tulisan tangannya. Mataku membacanya pelan. “+4 hitam empat kali mu tidak akan pernah kumaafkan.” Sontak aku terbahak. Memang lucu anak itu. ~Uno memang bisa memutuskan silaturahmi.~ #30hbc2323 #30hbc23 https://www.instagram.com/p/CnvpMIEv-N9/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Adik tiriku bernama Iridessa. Kami dipertemukan saat ayahku dan ibunya bertemu di pelaminan untuk kedua kalinya. Dia anak yang lucu dan menyenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Dia suka sekali dengan kartun Tinkerbell. Tak terhitung berapa kali pemutar DVD di rumah menayangkan berseri-seri film tentang peri tersebut. Saat kutanya peri mana yang paling diidolakannya, ia menjawab mantap: “peri cahaya”, karena—dalam film itu, si peri bisa memetik cahaya senja, menaruhnya dalam selongsong yang terbuat dari uliran daun kemudian mencuplik sedikit untuk memasangnya pada punggung kunang-kunang. Hari ini wajahnya tertekuk dan menyedihkan hati siapa pun yang melihatnya. Pasalnya sang ayah mengingkari janjinya untuk membawa gadis itu melihat pertunjukan pentas cahaya di alun-alun kota demi urusan kantor yang menurutnya lebih penting. Kami bertiga pun sampai bingung bagaimana mengembalikan cerianya seperti sedia kala. Hingga tak sengaja kutaruh gelas kopi di tepi jendela dan tersiram cahaya matahari. Aha! Kupindahkan gelas itu di ruang tamu dan kuletakkan secara presisi di salah satu lantai keramik. Kubujuk Iridessa dari kamarnya untuk mendekat meski membutuhkan usaha ekstra. Awalnya dia sedikit bengong ketika kuminta melihat gelas yang teronggok di sisi ruangan. “And a little bit of sun,” ucapku seraya membuka daun pintu menyambut pancaran surgawi matahari pagi. Berkas-berkas sinar itu menelusup ke segala sudut ruangan menerangi. Sebagian di antaranya menabrak gelas kopi yang telah diletakkan tadi. Yang terjadi selanjutnya adalah bagaimana alam menerapkan hukumnya. Cahaya itu terbiaskan oleh kristal-kristal dalam gelas kaca menyajikan pertunjukan mini gelombang-gelombang yang mengelilingi tiap sisi benda itu. Cantik sekali layaknya permukaan air yang dilempari batu dan memunculkan riak. Iridessa tak dapat menahan ketakjubannya dengan membulatkan kedua bola mata. Sepertinya usahaku berhasil. Bocah itu pun berucap, “you are really a light fairy, Jane.” Aku yang dipuji pun menyunggingkan senyum gembira. “Who’s luckier? You and your brilliant head? Or me for having you as a sister?” “We are both grateful for having each other.” #30hbc2322 #30hbc23 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/CntMQIzPNKn/?igshid=NGJjMDIxMWI=
writes a letter. Dear @taylorswift It's been a long time since I wrote my last letter. Moreover, I've never wrote for a superstar. Hope it doesn't look cheesy. Hi! It's me. I'm one of your fans. It's me. Yeah. I'm one of the millions of connoisseurs of your work worldwide. Maybe you'll never read the mention I made because it's drowning among the thousands of hardcore fans poking your account every second. But that's okay. It won't lessen my appreciation for your creativity. First thing first, thank you so much for the hundreds of beautiful pieces of music you’ve created. I'm grateful because fortune has brought your songs to my ears. You’re brilliant at mixing notes that float in your mind and pairing them with suitable lyrics. Even sometimes, the use of your diction which adds to the vocabulary in my lexicon, makes me even more proud to make you an epitome. You can write gorgeous songs. Whatever the mood of your song: happy, sad, depressed, disappointed, angry, or motivating, even though it’s not related to my current condition, it can still make the listeners plunge into emotions and experiences that are so real. One of your songs can make me feel trapped in a love triangle, being the bastard James who dares to cheat on Betty with another girl over the summer. Or another song that makes me feel like a girl who wants to be noticed by her boyfriend, who's a dozen years older. Or when you succeed in positioning me to be you when all the people judge you. Ah, that's a lot if I tell them all. Last but not least, my wishes to you, the queen of the music industry. Keep working. Keep making beautiful songs for us, your performance lovers. Don't mind what people say when 30 is the retirement of artists. All of your fans will continue to support you forever. We’ll keep playing your songs without getting bored. Because we believe that whatever your thoughts create is a masterpiece and deserves to be shared worldwide. My other little wish is that you may consider celebrating your latest album in my country, Indonesia. Just know that many swifties here want to shake it off with you on stage. Faithfully yours, A. A. Mono #30hbc2321 #30hbc23dear @30haribercerita 📧 https://www.instagram.com/p/CnqgWe-p2D5/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Sadarkah dirimu jika diriku jarang memasang foto diri di media ini? Itu karena aku kurang percaya diri. Yap, setan ini yang selama hidup menghantui. Sejak kecil diriku sering urung unjuk kemampuan yang dimiliki. Sebab tak ada apresiasi, yang ada hanya kritik atas tak sempurnanya apa pun yang aku lakui. Di taman kanak-kanak diriku ragu apakah bisa menyelesaikan sekeping puzzle? Di sekolah dasar diriku sering membikin bu guru mangkel. Padahal di sekolah menengah pertama cukup fasih diriku pada beberapa mapel. Namun, di sekolah menengah atas diriku tak cukup nyali untuk berani menjadi bandel. Sedang di jenjang perkuliahan diriku takut tidak diterima di dalam satu circle. Diriku berani bertatap langsung dengan sang surya yang membakar. Tetapi cermin adalah benda yang paling dihindar. Bayangannya memantulkan sosok calar-balar. Rasanya tak pantas diriku untuk memancarkan sinar. Bahkan tidak untuk sekadar berpendar. Kurang percaya dengan diri sendiri bisa jadi penghambat. Diriku tidak tahu kalau sebenarnya mempunyai bakat. Diriku tidak sadar apabila bisa melakukan hal-hal hebat. Diriku hanya sibuk memikirkan ujaran-ujaran sesat. Yang mana dapat memadamkan bara api semangat. Namun sungguh, membangun kepercayaan diri begitu susah. Bagi mereka yang tak pernah. Mungkinkah waktunya menyerah? Mengakui bila diriku sudah kalah? Atau tetap mencoba walau selangkah demi selangkah? Sempat iri kepada dirinya yang masa bodoh dengan penilaian orang. Menunjukkan ini-itu tanpa ada rasa bimbang rambang. Menyadari bahwa semua manusia itu pasti ada kurang. Tampil berkarya dan terus berkembang. Ajari diriku dong, kakak, abang. Beri tahu bagaimana agar tidak deg-degan saat mengunggah potret di dunia maya. Bimbing caranya agar tidak gagap di muka umum ketika terpaksa harus berbicara. Bagi ilmu agar tetap mempunyai topik saat berkomunikasi tatap muka. Tuntun langkah diriku agar bebas berekspresi menjaja karya. Tunjukkan pada diriku bila berbuat salah bukan akhir dari segalanya. Itulah opini tentang percaya diri. Dari seorang yang tidak kuliah psikologi. Jadi jangan diikuti. Seratus persen hanya pengalaman pribadi. Ngeyel tanggung sendiri-sendiri. #30hbc2320 #30hbc23 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/Cnn49kHJ6sa/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Pernah sekali saya berkesempatan mengikuti piknik perusahaan di antah berantah di kaki gunung yang notabene masih aktif. Meskipun begitu, ia menawarkan alam terbuka yang masih segar dan belum ternodai oleh polusi kota. Hal ini sangat dibutuhkan oleh karyawan-karyawati yang tak kenal lelah membanting tulang setiap hari bak zombi. Kami dimanjakan dengan permainan-permainan mancakrida yang lebih kepada menambah capai daripada mengusir penat setelah berbulan-bulan bekerja. Tak apalah yang penting kami senang, menurut mereka. Pada saat jam bebas, kami dipersilakan mengeksplorasi area. Sebagian besar menghabiskannya dengan mengular dalam antrean flying fox, sedang saya dan beberapa rekan lebih memilih merehatkan diri di taman yang terpayungi oleh kanopi cemara gunung. Tampak beberapa kelompok manusia menggelar alas di atas rumput menikmati udara sejuk dataran tinggi sembari disuguhi imitasi murahan fauna artifisial lagi tak bernyawa. Saya tertarik untuk mengabadikan rusa yang bahkan lebih abadi dari versi aslinya, kalau tidak diserang wedhus gembel. Meskipun ruang publik ini sarat kepalsuan, namun sebagai penikmat pelajaran Biologi---lagi-lagi Biologi secinta itu saya dengan ilmu itu, saya setuju dengan keputusan pengelola lokasi yang tidak mengimpor hewan sungguhan dan mengkerangkengnya untuk dinikmati pengunjung. Saya tidak begitu setuju dengan konsep kebun binatang sebab secara langsung mereka merampas hak satwa terhadap kebebasan. Entah kenapa kalau melihat fauna di kebun binatang saya merasa kasihan. Mereka sendiri, terpenjara dan jauh dari rumah. Wisata safari lebih saya terima sebab hewan-hewan bebas ke sana ke mari sedang kita yang dikurung walaupun tidak sepenuhnya sepakat sebab konservasi ex situ menculik mereka dari habitat asalnya. “Kan atas nama ilmu pengetahuan. Kita banyak belajar dari mereka.” Itu benar, namun rasanya sudah tidak begitu relevan di masa di mana teknologi berkembang pesat seperti sekarang ini: video atas permintaan, teknologi hologram hingga aplikasi realitas maya yang hasilnya tampak autentik. Lagipula lebih nyaman berfoto sembari menaiki patung rusa daripada hewan aslinya. Mereka tidak akan menyerang Anda. #30hbc2319 #30hbc23 🦌 https://www.instagram.com/p/CnlUSeHJHI-/?igshid=NGJjMDIxMWI=
membuat tangkapan layar. Orang-orang melakukan tangkapan layar untuk menyimpan tampilan terkini yang menurut mereka penting untuk diingat karena menyadari bahwa kapasitas benak begitu minim. Begitu minimnya hingga lupa apabila sudah memiliki tangkapan layar. Ditangkaplah lagi dan dionggokkan dalam satu folder bersama tangkapan-tangkapan layar lain yang tadinya dianggap penting. Folder yang tidak akan dibuka jika tidak diingatkan. Namun jika sudah ingat dan dibuka membikin bernostalgia dengan tangkapan layar yang lalu-lalu. Lantas menyadari, masihkah file-file ini relevan? Kenapa dahulu membuat tangkapan layar? Bagaimana bila dihapus saja? Tapi kok sayang. Fitur tangkapan layar dalam ponsel-ponsel terkini memang sangat membantu kehidupan masyarakat 4.0. Setidaknya dua fungsi yang menurut penulis penting. Pertama, dengan fitur ini sekarang siapa pun bisa memegang omongan orang yang terkonversi dalam bentuk pesan obrolan. Tangkapan layar dalam aplikasi perpesanan instan menjadi bukti yang kuat akan pernyataan yang dikemukakan oleh individu. Pengalaman membuktikan, fitur tangkapan layar acap kali digunakan oleh warganet untuk membocorkan rahasia dengan harapan seluruh umat manusia di muka bumi mengetahuinya. Kedua, tangkapan layar dapat dijadikan alternatif dalam mendapatkan gambar pada aplikasi yang tidak mengizinkan pengunduhan seperti Instagram. Daripada memasang aplikasi pihak ketiga, membuat tangkapan layar dengan menekan tombol daya dan penurun volume secara bersamaan dinilai lebih praktis. Penulis pribadi pun sejujurnya bisa dibilang cukup jarang menggunakan fitur tangkapan layar di ponsel. Paling-paling digunakan manakala ada tempat wisata menarik yang lewat di halaman umpan Instagram dan perlu untuk segera dibagikan ke grup lingkaran pertemanan, atau apabila mendapati kata-kata bijak di Facebook yang saking bijaknya suatu saat akan dibagi-ulangkan lintas aplikasi, atau juga ketika menemui perdebatan konyol para warganet di Twitter yang rasanya akan berdosa seandainya para pengikut penulis tidak mengetahui kebodohan mereka. Demikian tulisan ini disusun untuk menggugurkan kewajiban bercerita di hari ke-18 @30haribercerita #30hbc2318 #30hbcscreenshot https://www.instagram.com/p/CnitdZNJq9d/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Sudah pernah saya bilang kan kalau biologi adalah salah satu pelajaran terfavorit saya saat masih sekolah? Saat ini pun saya masih menggemari ilmu hayati tersebut walaupun sudah tidak sekolah. Walaupun pendidikan tinggi yang saya kenyam hampir tidak ada bau-bau biologinya meski jika dicari kaitannya pasti ada. Pada kesempatan yang lalu saya bercerita tentang tangkapan gambar objek hewani, kali ini saya ingin bercerita tentang kerajaan lain. Dunia yang memuat ciptaan Tuhan paling unik, yang diam namun tetap hidup, yang membisu namun nyatanya saya tak bisa hidup tanpa mereka. Inilah regnum plantae, kerajaan tumbuh-tumbuhan. Spesifik, saya akan membahas tentang kaktus, karena cuma itu foto yang saya punya. Haha. Maka apakah kamu tidak memperhatikan kaktus, bagaimana ia diciptakan sebagai makhluk unik, yang berbeda dari tumbuhan pada umumnya? Tidak akan kamu temukan helai dedaunan di batangnya. Itu karena ia beradaptasi terhadap habitatnya yang panas, kering dan langka air. Daun yang biasa digunakan tanaman lain untuk “memasak” makanan ia ubah menjadi duri demi menghalangi penguapan yang ekstrim. Batangnya pun terlapisi oleh semacam zat lilin untuk tujuan yang sama serta menyimpan air sebanyak-banyaknya untuk bertahan hidup. Sedang akarnya menjalar panjang menembus berlapis-lapis tanah mencari sumber air. Hal menarik dari kaktus lainnya adalah ia tetap hidup meski berada di lingkungan sarat air. Berbeda dengan tanaman lain yang pasti mengering mati bila dipindah ke gurun pasir. Saya pernah bertemu dengan orang yang mempunyai karakter seperti kaktus ini. Dia mudah menyesuaikan diri dengan berbagai jenis manusia. Dia suka sekali mengeluarkan guyonan garing sampai membuat saya capai mau tertawa seperti apa lagi. Mata, telinga dan pikirannya begitu tajam membuat saya kagum meski ucapannya terkadang juga tajam, manakala saya melakukan kekhilafan yang cukup serius. Namun demikian ia tidak kenal lelah dalam mencari penghidupan di saat keadaan benar-benar sulit serta pandai mengatur pengeluaran untuk dapat tetap bertahan. Ialah bapak saya, orang yang menanam kaktus dalam gambar di atas. Sehat selalu bapak, semoga diri ini senantiasa berbakti padamu. #30hbc2317 #30hbc23 https://www.instagram.com/p/CngSjt7JDxx/?igshid=NGJjMDIxMWI=
. Adakah saya pernah berbagi pengalaman ketika menjadi pekerja paruh waktu di masa kuliah? Jawabannya pernah dan tidak pernah. Sewaktu mengikuti kegiatan bercerita Januari sebelumnya, saya sempat menyinggung manakala bekerja sampingan sebagai pramuniaga dan pramusaji sembari mengoleksi stiker kuning aneh. Namun tidak begitu rinci apa saja yang saya temui di hari-hari itu. Singkat cerita setelah merengek pada sang penyelia, saya dipindah ke tempat yang lebih nyaman. Saya tidak lagi harus angkat kardus air mineral untuk distok di rak atau pulang dengan baju penuh aroma bebakaran. Pekerjaan beralih menjadi pramuniaga jasa layanan ekspedisi. Bekerja di ruangan berpendingin dan hanya berdinas di tanggal merah. Di bagian ini, tugas saya adalah melayani pelanggan yang akan mengirimkan barangnya melalui jasa ekspedisi merah biru yang lumayan populer itu. Zaman dahulu belum ada berbagai macam penyedia jasa serupa jadi peminat pengguna jasa kurir ini lumayan ramai. Oleh karenanya perusahaan membuka layanan di akhir pekan dengan pekerja paruh waktu seperti saya. Tugas utama kami adalah memastikan ongkos yang akan dikenakan pada barang kiriman sudah sesuai dengan berat dan lokasi yang dituju. Seringnya barang yang dikirimkan berupa dokumen beramplop atau paket berbungkus kardus sederhana yang mudah diukur namun sekali dua kami mendapati kiriman yang tidak biasa. Salah satu kiriman unik adalah boneka doraemon besar yang ada dalam foto di atas. Saat kami timbang benda yang tentunya berisi kapuk itu tidak mencapai berat dua kilogram. Sang pengirim sudah sumringah melihat penunjuk angka di neraca digital. Namun senyum itu pupus tatkala kami sampaikan aturan pembebanan barang dalam ekspedisi ini bahwa kiriman yang berukuran cukup besar juga diukur bedasarkan volumenya dan akan diambil angka mana yang lebih banyak. Itu dikarenakan pihak kargo juga mengenakan biaya tambahan untuk barang-barang yang memakan tempat. Setelah diformulasi rupanya si doraemon memiliki berat setara 7,5 kg. Begitu pelanggan itu berlalu kami sempatkan mengabadikan kiriman lucu ini. Padahal bila dimasukkan dalam kardus dan sedikit dimampatkan bisa saja hanya 2-3 kg. #30hbc2316 #30hbc23 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/CndoZsup7-6/?igshid=NGJjMDIxMWI=